Wednesday, 12 July 2017

Aksi-Reaksi

           Mengamati hal-hal yang terjadi disekitar merupakan aktivitas yang menyenangkan, dimana terkadang dalam hidup ini suatu kejadian memiliki kecenderungan keterkaitan dengan terjadinya hal baru. Kejadian ini sedikit mengingatkan saya pada hukum Aksi-Reaksi dari Isaac Newton. Fenomena ini membuat saya membayangkan kecenderungan itu terjadi pada dunia sastra, dimana karya-karya para penulis besar di suatu bangsa terasa seperti sebuah aksi-reaksi yang saling menjawab satu sama lain, atau jika mungkin malah membantah satu dengan lainnya.

             Contoh salah satu begini, Pram dalam karya-karyanya terutama tetralogi Bumi Manusia menawarkan sebuah gagasan realisme modern, dimana kita bisa merasakan ada semangat menggugah yang kuat dalam kisahnya.Ia seakan-akan menghimbau sebuah perubahan menuju fase kehiduapn yang ideal.  Sepeninggal Pram, muncul  Eka Kurniawan, dimana dalam kisahnya, sisi lain negeri ini diperlihatkan. Indonesia terlihat lebih garang, penuh amarah serta sumpah serapah layaknya keseharian rakyat jelata. Kaum-kaum tak terbias cahaya seperti mendapatkan kesempatan untuk menunjukan dirinya. Halimunda seolah tak jauh lebih baik daripada Pulau buru dalam perspektif Eka.

            Di negri sakura, Yasunari Kawabata dalam karya-karyanya mengangkat nilai-nilai kebudayaan jepang dengan amat sederhana, melankolis, sensual dan realis. Jepang tampak amat menawan dengan para Geisha yang kerap diangkat dalam kisahnya, lalu butir-butir salju yang jatuh menutupi seluruh kota seolah-olah menghadirkan kesenduan yang elegan. Kemudian beberapa tahun setelahnya, hadir seorang pemuda pemilik club jazz bernama, Haruki Murakami. Ia menawarkan warna yang berbeda, Jepang dilihat dalam bentuk yang lebih modern dimana problematika kisah-kisahnya banyak ditemukan di kehidupan masyarakat urban. Ia tak segan mengangkat kisah cinta kaum lgbt, atau menjadikan kucing menjadi hal magis dalam kisahnya. 

          Kolombia tak mau ketinggalan, dimana mereka memiliki seorang penulis  bertalenta besar bernama Gabriel Garcia Marquez. Tak ada yang meragukan Gabo dalam menciptakan kisah-kisah yang berkualitas. Kecerdasannya dalam memetakan situasi politik Kolombia, kemudian meracik kisah cinta  yang tragis serta tak lupa menyisipkan unsur-unsur militer, terasa seperti sebuah metafora tentang kondisi kolombia saat itu. Sepeninggalnya, kemudian muncul Juan Gabriel Vasquez. Ia jelas mengungkapkan keberatannya dengan realisme magis yang ditawarkan Marquez, kemudian menjawabnya dengan karya-karya yang kental dengan kultur eropa.

          Menikmati karya-karya sastra baik dalam dan luar negeri akhirnya membuat saya menarik kesimpulan jika para penulis-penulis tersebut saling merespon satu sama lain. Mereka terlihat seperti meneruskan jejak-jejak peninggalan pendahulunya, yang kemudian dilanjutkan, direspon, atau mungkin dijawab dengan buah pemikiran mereka sendiri, sehingga hal itu membuat saya tak bisa berhenti untuk mengais karya-karya klasik dan kontemporer.


Dwinda.A.S
12-07-2017



          

No comments:

Post a Comment