Monday, 26 June 2017

Snow Country, Yasunari Kawabata

          Cerita diawali ketika kereta keluar dari terowongan gelap menuju sebuah kota musim panas.  Shimamura yang berprofesi sebagai pakar balet ternama sedang berlibur di tengah krisis yang melanda dirinya. Alhasil ia berlibur sejenak meninggalkan istri dan keluarganya. Tujuannya sederhana yakni mengembalikan gairah hidupnya yang kian menurun.
             Jepang  dalam cerita ini digambarkan dengan amat sederhana oleh Kawabata. Segala pernak-pernik di dalam kisah ini berubah menjadi daya tarik. Butiran-butiran salju di musim dingin yang menutupi seluruh desa terasa bukan saja pelengkap semata. Kali ini wanita penghibur (geisha) menjadi hal yang tak lepas dari sorotan sepanjang cerita, dan Snow Country terasa seperti sebuah panduan menyenangkan untuk mengenal kesusastraan negri sakura.
             Shimamura tak akan pernah menyangka liburannya kali ini akan dipenuhi kejutan. Krisis kepribadian menggiringnya pada sebuah pelarian sesaat yang mempertemukannya dengan wanita-wanita dalam perjalanannya kali ini. Ia seakan menemukan kembali kepuasan dalam dunia kecilnya yang menyedihkan.
            Kejutan demi kejutan perlahan bermunculan. Perjumpaan Shimamura dengan Yoko, seorang gadis yang sedang mendampingi seorang lelaki sekarat, ternyata membuat Shimamura mabuk kepayang, dan belum cukup dengan Yoko kemudian ia beralih kepada seorang geisha murahan. Sialnya geisha ini justru menciptakan cinta segita untuk Shimamura.
           Keistimewaan Kawabata dengan gayanya  dengan amat sederhana dan realistis membuat siapapun sulit untuk mengelak dari daya pesonanya. Jelas karya ini bukan kisah romantis sederhana, namun akan lebih terasa sebagai sebuah kisah cinta tanpa harapan hingga berujung pada sebuah kesimpulan yang menghancurkan.

D.A.Seto

26-06-2017

No comments:

Post a Comment