Tuesday, 20 June 2017

Love in Life Time of Cholera, Gabriel Garcia Marquez

      Gabriel Garcia Marquez selalu memiliki cara untuk mengubah sesuatu di dalam kisahnya menjadi hal-hal berdaya magis yang sulit untuk dilewatkan. Dan itu barangkali yang menjadikannya sebagai penulis besar dalam dunia kesusastraan dan kali ini bukan perkara sulit baginya untuk membuat Kolombia yang sedang dilanda perang dan wabah kolera menjadi sebuah negri yang elegan dalam kisah asmara Florentino Ariza dan Fermina Daza.

              Kisah ini tak ubahnya cerita tentang pencarian cinta sejati dalam sebuah penantian. Sialnya, penantian itu jauh dari kata baik hingga terkesan 'sakit' oleh perasaannya dan terkesan tak jauh lebih mengerikan dari wabah kolera sekalipun. Belum lagi perbedaan status sosial yang berbeda menjadi sebuah halangan dalam perjuangan mereka. Ayah sang gadis, Lorenzo Daza tak pernah rela anaknya didekati seorang pria dengan status sosial yang jauh dibawahnya. Florentino pun tetap kukuh mengejar pujaan hatinya.


               Wabah kolera tak mengurangi sedikit pun keanggunan Kolombia, dan gejolak perang saudara yang sedang berlangsung tak menyurutkan kegigihan Florentino Ariza. Yang menarik disini adalah eksperimen Marquez yang cukup unik serta menarik perhatian, ketika ia tak segan menghadirkan melankolisme dan estetika lekuk tubuh wanita, selain itu  burung merpati dan kakak tua juga amat menarik disini. Semua elemen-elemen cerita seakan melebur kemudian diarahkan dalam sebuah perspektif yang tak biasa sebagaimana yang dituangkan Marquez dalam cerita ini. Kita juga akan menemukan jejak Yasunari Kawabata yang kerap mengeksploitasi keanggunan wanita dan melankolisme.

           Yang lebih menarik, wabah kolera seakan menjadi sebuah makna tersirat. Bahwasannya jika akal logika seseorang sudah sakit karena urusan asmara, hal itu tak kalah mematikan seperti kolera. Istimewanya semua detail-detail yang muncul dalam cerita perlahan-lahan menjerat kemudian tak sadar membawa pada satu perhentian bahwasannya cinta sejati mungkin perlu diraih atau malah tak perlu dinanti.


               Dari setiap buku-buku Marquez, yang menarik adalah semua metafora-metafora terlihat tak biasa dengan alur cerita berlapis serta keistimewaannya dalam menciptakan nama-nama indah dalam setiap karakternya mulai dari Florentino Ariza, Escolastica, Juvenal Urbino, Jeremiah de Saint Amour. Sekiranya detail-detail kecil itu yang membuat karya-karya Marquez terasa amat adiktif, dan berhati-hatilah karena perangkap-perangkap sudah tersusun rapi di sepanjang cerita.

Dwinda.A.S
20-06-2017

No comments:

Post a Comment