Monday, 26 June 2017

Snow Country, Yasunari Kawabata

          Cerita diawali ketika kereta keluar dari terowongan gelap menuju sebuah kota musim panas.  Shimamura yang berprofesi sebagai pakar balet ternama sedang berlibur di tengah krisis yang melanda dirinya. Alhasil ia berlibur sejenak meninggalkan istri dan keluarganya. Tujuannya sederhana yakni mengembalikan gairah hidupnya yang kian menurun.
             Jepang  dalam cerita ini digambarkan dengan amat sederhana oleh Kawabata. Segala pernak-pernik di dalam kisah ini berubah menjadi daya tarik. Butiran-butiran salju di musim dingin yang menutupi seluruh desa terasa bukan saja pelengkap semata. Kali ini wanita penghibur (geisha) menjadi hal yang tak lepas dari sorotan sepanjang cerita, dan Snow Country terasa seperti sebuah panduan menyenangkan untuk mengenal kesusastraan negri sakura.
             Shimamura tak akan pernah menyangka liburannya kali ini akan dipenuhi kejutan. Krisis kepribadian menggiringnya pada sebuah pelarian sesaat yang mempertemukannya dengan wanita-wanita dalam perjalanannya kali ini. Ia seakan menemukan kembali kepuasan dalam dunia kecilnya yang menyedihkan.
            Kejutan demi kejutan perlahan bermunculan. Perjumpaan Shimamura dengan Yoko, seorang gadis yang sedang mendampingi seorang lelaki sekarat, ternyata membuat Shimamura mabuk kepayang, dan belum cukup dengan Yoko kemudian ia beralih kepada seorang geisha murahan. Sialnya geisha ini justru menciptakan cinta segita untuk Shimamura.
           Keistimewaan Kawabata dengan gayanya  dengan amat sederhana dan realistis membuat siapapun sulit untuk mengelak dari daya pesonanya. Jelas karya ini bukan kisah romantis sederhana, namun akan lebih terasa sebagai sebuah kisah cinta tanpa harapan hingga berujung pada sebuah kesimpulan yang menghancurkan.

D.A.Seto

26-06-2017

Tuesday, 20 June 2017

Love in Life Time of Cholera, Gabriel Garcia Marquez

      Gabriel Garcia Marquez selalu memiliki cara untuk mengubah sesuatu di dalam kisahnya menjadi hal-hal berdaya magis yang sulit untuk dilewatkan. Dan itu barangkali yang menjadikannya sebagai penulis besar dalam dunia kesusastraan dan kali ini bukan perkara sulit baginya untuk membuat Kolombia yang sedang dilanda perang dan wabah kolera menjadi sebuah negri yang elegan dalam kisah asmara Florentino Ariza dan Fermina Daza.

              Kisah ini tak ubahnya cerita tentang pencarian cinta sejati dalam sebuah penantian. Sialnya, penantian itu jauh dari kata baik hingga terkesan 'sakit' oleh perasaannya dan terkesan tak jauh lebih mengerikan dari wabah kolera sekalipun. Belum lagi perbedaan status sosial yang berbeda menjadi sebuah halangan dalam perjuangan mereka. Ayah sang gadis, Lorenzo Daza tak pernah rela anaknya didekati seorang pria dengan status sosial yang jauh dibawahnya. Florentino pun tetap kukuh mengejar pujaan hatinya.


               Wabah kolera tak mengurangi sedikit pun keanggunan Kolombia, dan gejolak perang saudara yang sedang berlangsung tak menyurutkan kegigihan Florentino Ariza. Yang menarik disini adalah eksperimen Marquez yang cukup unik serta menarik perhatian, ketika ia tak segan menghadirkan melankolisme dan estetika lekuk tubuh wanita, selain itu  burung merpati dan kakak tua juga amat menarik disini. Semua elemen-elemen cerita seakan melebur kemudian diarahkan dalam sebuah perspektif yang tak biasa sebagaimana yang dituangkan Marquez dalam cerita ini. Kita juga akan menemukan jejak Yasunari Kawabata yang kerap mengeksploitasi keanggunan wanita dan melankolisme.

           Yang lebih menarik, wabah kolera seakan menjadi sebuah makna tersirat. Bahwasannya jika akal logika seseorang sudah sakit karena urusan asmara, hal itu tak kalah mematikan seperti kolera. Istimewanya semua detail-detail yang muncul dalam cerita perlahan-lahan menjerat kemudian tak sadar membawa pada satu perhentian bahwasannya cinta sejati mungkin perlu diraih atau malah tak perlu dinanti.


               Dari setiap buku-buku Marquez, yang menarik adalah semua metafora-metafora terlihat tak biasa dengan alur cerita berlapis serta keistimewaannya dalam menciptakan nama-nama indah dalam setiap karakternya mulai dari Florentino Ariza, Escolastica, Juvenal Urbino, Jeremiah de Saint Amour. Sekiranya detail-detail kecil itu yang membuat karya-karya Marquez terasa amat adiktif, dan berhati-hatilah karena perangkap-perangkap sudah tersusun rapi di sepanjang cerita.

Dwinda.A.S
20-06-2017

Friday, 9 June 2017

Acquaformosa

         Italia tak ubahnya sebuah negeri yang melenakan dengan segala kekayaan dan keunikan yang dimiliki. Hampir setiap kota di negeri ini memiliki ciri yang khas yang beraneka rupa. Hal itu membuat siapapun yang mengunjungi kota-kota di negera ini serasa memandangi lukisan-lukisan dengan jenis dan karakter yang berbeda, dan tak jarang keunikan- keunikan itu membuat semua mata terbelalak karena terkesima. Setidaknya itu yang baru saja terjadi dengan saya sewaktu mengunjungi Acquaformosa beberapa waktu yang lalu. Tujuan awal hanya untuk menuntaskan tugas studi, saya memutuskan untuk memanfaatkan kesempatan  kali ini dengan mengenal lebih jauh kota Acquaformosa.


          Kota ini memang bukan tergolong kota besar dengan luas 22,71 kilometer persegi dan dihuni penduduk sebanyak 1.100 jiwa. Letak georafisnya juga seakan tersembunyi diantara bukit-bukit yang menjulang disekitarnya. Di kota yang notabene-nya menjadi tempat tinggal bagi para kaum minoritas  Arbëresh (etnis minoritas Albania) ini, kita akan melihat banyak pengaruh Albania di setiap sudut kota Acquaformosa. Mulai dari nama-nama di papan penunjuk jalan, monumen - monumen penting, semua ditulis dalam dua bahasa yakni Italia dan Albania. Kekaguman saya dengan kota ini kian menjadi-jadi sewaktu melihat  dinding-dinding rumah di kota ini banyak dipenuhi lukisan mural yang dibuat oleh masyarakat sekitar. Saya seperti tersesat di negeri entah berantah dengan segala estetika kota ini. Setiap sudut disini seakan memiliki arti. Kejutan terus berlanjut ketika  saya menemukan produk-produk makanan dan Mate  (teh asli Argentina) buatan Argentina. Usut punya usut ternyata setelah perang dunia kedua, banyak imigran Argentina yang berdatangan ke Acquaformosa.

           Proses inkulturasi tiga negara yang terjadi dan melahirkan sebuah warna baru yang unik. Semua nuansa masa lalu tersebut seakan terekam pada lukisan-lukisan  mural di dinding-dinding rumah penduduk. Masyrakat Acquaformosa tak ambil pusing dengan semua isu krisis yang sedang menerpa negeri mereka. Keberagaman diantara mereka menciptakan sebuah perayaan hidup yang menyenangkan, di kota ini. Kota yang memiliki julukan Paese Fantasma (Negeri Hantu) karena keheneningannya yang melenakan. Disini tak perlu gemerlap lampu kota untuk merasakan gemerlap kehidupan kota atau bisingnya suara kendaraan untuk merasakan esensi sebuah kota pada umumnya, karena kota ini menawarkan suasana atmosferik yang siap menghisap siapapun untuk jatuh hati dengannya.


Dwinda.A.S
(09-06-2017)







        

Sunday, 4 June 2017

Satantango, László Krasznahorkai

            Satantango merupakan novel pertama milik penulis asal Hungaria, Laszlo Krasznahorkai.  Pertama kali  dipublikasikan pada tahun 1985,  buku ini akhirnya berhasil diterbitkan empat tahun sebelum runtuhnya komunis  di negara itu, meskipun pada awal penerbitan buku ini sempat dilarang oleh pemerintah komunis Hungaria. Hal itu  tak   menghalangi buku ini  untuk menjelma menjadi sebuah karya penting dalam dunia kesustraan Hungaria. Laszlo  mengambil sudut pandang yang cukup unik kali ini, dimana perhatian utama akan tertuju pada seorang tokoh bernama Irimias yang menjadi semacam nabi, atau jika bukan malah sebagai agen rahasia hingga iblis jahanam sekalipun yang memanipulasi masyarakat setempat di sebuah desa terpencil. Laszlo membungkusnya dengan tema melankolisme dan distopia dengan latar cerita sebuah dusun di  Hungaria yang saat itu berada pada masa pemerintahan komunis. Sepanjang cerita di buku ini tak jarang Laszlo memunculkankan kalimat-kalimat panjang yang amat intens dan tak heran jika gaya berceritanya mengingatkan gaya bercerita Gogol, hingga Bulgakov. Laszlo dianggap brilian dan visioner dalam membangun kerangka serta alur cerita.



             Cerita dibuka dengan sepenggal kalimat Franz Kafka dari novel The Castle : ''In that case, I'll miss the thing by waiting''.  Dari penggalan kalimat pembuka, Laszlo mengirimkan sebuah sinyal jika cerita akan bersinggungan pada sebuah penantian. Seperti halnya dalam Kafka-esque, kita akan  merasakan elemen-elemen keterasingan, alienisasi di dalam penantian. Hungaria di bawah pemerintahan komunis bukan tempat yang indah dalam semesta yang digambarkan Laszlo, dan di sebuah dusun yang ditinggali para kaum pekerja mulai dari montir, kepala sekolah, petani, orang-orang 'gila' hingga pelacur remaja mereka  berkumpul dalam sebuah pub usang yang dipenuhi asap rokok dan jaring laba-laba di atas langit-langit pub . Novel   ini memiliki banyak faktor yang membuatnya diganjar predikat sebagai novel terbaik versi man booker prize pada tahun 2015.  Keistimewaan Laszlo dalam bercerita sekiranya akan mengurungkan niat dirinya yang semula hanya ingin menulis sebuah buku saja, sebagaimana ia sempat menuturkan dalam wawancaranya, karena kini ini ia sudah menjelma menjadi suatu hal yang dinantikan melalui karya-karyanya.





       

Dwinda.A,S
13-06-2017



Saturday, 3 June 2017

Slow Learner, Thomas Pynchon

                   Ini hanya sebuah keisengan belaka saja awalnya, ketika namanya disebut dalam pidato Lászlò Krasnahorkai sewaktu ia menjadi pemenang Man Booker International Prize 2015. Rasa ingin tahu saya mulai muncul untuk mencari bukunya. Nama Thomas Pynchon sendiri,sering saya dengar di beberapa ulasan buku yang saya jumpai, kemudian lambat laun menarik minat saya untuk membaca bukunya.

              Alhasil saya putuskan untuk membaca karya Pynchon yang satu ini. Buku yang menjadi titik awal dalam karir menulisnya. Dan hasilnya? Tidak buruk meski tak mudah sama sekali untuk mengerti buku ini. Pynchon seolah-olah menuntun pembacanya dengan tempo yang amat pelan di dalam alur ceritanya. Ia menggambarkan lingkungan dan latar cerita dengan cukup lengkap, kadang bergerak seenaknya sehingga tak jarak para pembaca diminta dan bahkan dipaksa untuk membaca dengan pelan dan tak perlu terlalu gegabah apalagi terburu-buru untuk mengerti kisahnya. Di satu sisi, semua detail yang digambarkan dalam cerita seakan-akan menjebak para pembaca dalam alam pikiran Pynchon.


                   Di dalam buku ini terdapat lima cerita pendek dengan berbagai tema mulai dari Small Rain, Low-lands, Entropy, Under The Rose, The Secret Integration. Cerpen pertama berjudul Small Rain menceritakan seorang tentara khusus yang sedang menyambangi sebuah pulau yang baru dihantam badai. Usai dari situ, cerita berikutnya mengajak kita menikmati sebuah kehidupan pengacara dan segala problematikanya dalam cerita berjudul Low-lands. Dari kelima kisah di dalam buku ini, sebenarnya yang menarik paling menaik perhatian adalah cerita terakhir berjudul "The Secret Integration" yang menceritakan kisah Grave Snodd dan keempat teman-teman se-permainannya. Rencana akhir pekan yang semula sudah dipersiapkan, mau tak mau berantakan yang tak pernah mereka perkirakan. Menikmati buku ini benar-benar terasa seperti mempelajari sebuah hal baru dengan amat pelan, namun memang kita tak perlu  dan tak harus cepat-cepat dalam mempelajari suatu hal baru kan?Setidaknya itu satu nilai yang bisa dipelajari dari Thomas Pynchon melalui cerita-ceritanya kali ini.

Dwinda.A.S
02-06-2017

Friday, 2 June 2017

A un poeta menor de la Antología (Jorge Luis Borges)

¿Dónde está la memoria de los días
que fueron tuyos en la tierra, y tejieron
dicha y dolor y fueron para ti el universo?

El río numerable de los años
los ha perdido; eres una palabra un índice.

Dieron a otros gloria interminable los dioses, inscripciones y exergos y monumentos  y puntuales historiadores de ti sólo sabemos, oscuro amigo,
que oíste al ruiseñor, una tarde.

Entre los asfodelos de la sombra, tu vana sombra pensará  que los dioses han sido avaros.

Pero los días son una red de triviales miserias,
¿y habrá suerte mejor que ser la ceniza de que está hecho el olvido?

Sobre otros arrojaron los dioses la inexorable luz de gloria,  que mira las entrañas y enumera las grietas, de la gloria, que acaba por ajar la rosa que venera;
contigo fueron más piadosos, hermano.

En el éxtasis de un atardecer que no será una noche, oyes la vos ruiseñor de teocrito.

Jorge Luis Borges