Thursday, 20 April 2017

Neramo (I)

“Por todas tus mentiras, mamino. Gracias”

(I)

           Renzo Caravetta sedang memberi makan anjingnya pada suatu sore yang tenang di pekarangan rumahnya. Seperti kebiasaan seusai jam kerja, pria paruh baya berkacamata tersebut menaruh beberapa tulang untuk anjing jalanan kesayangannya, Neramo. Tak perlu waktu lama bagi Neramo memakan tulang yang diberikan tuannya tersebut. Ia melahap dengan cepat saking kelaparan sehabis menjelajahi via Toledo sepanjang hari.

           Neramo merupakan anjing yang tak biasa dengan satu mata di wajahnya. Suatu ketika ia terlibat perkelahian sengit dengan segerombolan anjing jalanan. Sayangnya, Neramo tak memiliki nyali sebesar anjing-anjing jalanan pada umumnya. Kejadian itu merenggut mata kanannya. Tragedi itu mengubah Neramo semenjak saat itu.

             Keesokan paginya, Neramo berjalan menelusuri gang di dekat pusat kota. Guratan mentari menembus celah-celah bangunan dan menerangi setiap sudut jalan. Ia terus berjalan di dalam kesunyian yang mengiringi langkahnya, hingga menyisakan kesendirian. Sampai di ujung jalan, dia berhenti lalu menatap sesuatu yang membuat dia terpaku.

          Ada sesosok mahluk asing yang tak pernah ia jumpai sebelumnya. Setiap ia berjalan menelusuri Via Toledo, hanya hiruk pikuk manusia berjalan dengan cepat, bising deru motor menusuk telinga serta pedagang-pedagang imigran menjajakan barang dagangannya. Pandangannya kali ini terpaku pada seekor kucing angora berbulu tebal yang melintas di depan muka lusuhnya. Neramo tidak bisa berhenti menatap kucing itu. Warnanya coklat muda, dengan kalung berwarna hitam di lehernya sebagai tanda dari sang pemilik. Kucing tersebut berjalan menyebrangi jalan trotoar dan Neramo melangkah perlahan sembari mengamatinya. Rasa penasaran menjalar di kepalanya. ( bersambung )

*via Toledo = jalan Toledo

Oleh: Nat.A.Chaniago
09-04-2017

No comments:

Post a Comment