Friday, 7 April 2017

László Krasznahorkai

            Mendengar Hungaria, saya sama sekali tak punya bayangan apapun tentang negara ini. Budapest adalah satu-satunya hal yang saya tahu dari negri ini. Selain bahasanya yang tak se-familiar negara-negara di eropa, bagaimana pula bisa terbesit pikiran untuk mengenal seorang  penulis paruh baya dari sebuah kota kecil bernama Gyula?

          Perkenankan saya memberikan sebuah narasi tentang jagoan baru saya ini. Namanya  László Krasznahorkai.  Kesan pertama mendengar nama itu, tentu bukan hal sederhana dan hal itu diakui oleh sang penulis  dalam sebuah wawancara di kanal youtube. Ia sempat bilang jika namanya sedikit sulit diucapkan. Entah mengapa bagi saya pribadi,  namanya justru terdengar indah. Entah karena saya tak pernah mendengar  "László" bahkan pula "Krasznahorkai" sekalipun. Perpaduan keduanya terdengar amat elegan namun tetap memiliki kesan misterius

         Sosoknya kini menjadi buah bibir dimana-mana.  Bukunya "Satantango" berhasil keluar sebagai pemenang dalam penghargaan Man Booker Prize 2015. Dirinya pun kerap disandingkan dengan Nikolai Gogol, dan Franz Kafka.  Hal ini tentunya menjadi magnet tersendiri bagi khalayak umum dalam melihat  Hungaria dan dunia kesusastraannya. Jujur saya penasaran, dan beruntung dengan keberadaan mbah google,  saya bisa menggali siapa itu László.

       Penantian saya mencari karya-karyanya akhirnya berakhir di sebuah toko buku di daerah termini, Roma.  Buku tersebut berjudul "Seiobo There Below". Buku  ini bercerita tentang 12 narasi episodik tentang seniman-seniman di beberapa negara, kemudian László menciptakan tokoh historikal dan fiksional yang saling berkaitan pada Seiobo itu sendiri. Sejujurnya, ini bukan buku yang mudah mudah untuk langsung dicerna. Karena di dalam penceritaanya, sarat dengan kalimat narasi yang panjang,  lalu diksi-diksi yang cukup berat. László seakan-seakan tidak peduli dengan plot dan lebih menonjolkan narasi dalam cerita ini. Dan yang menarik.... Ia sempat memasukan memasukan unsur-unsur bilangan Fibonacci. Hal ini sedikit mengingatkan saya kepada Jorge Luis Borges yang kerap  memasukan elemen matematika pada karyanya.

       Selesai dengan Seiobo, saya beranjak ke Satantango. Buku yang membuat László memenangkan penghargaan Man Booker Prize 2015. Awal kisah dibuka oleh seorang tokoh bernama Futaki. Ia terbangun oleh suara bel misterius dari sebuah gereja yang terletak tak jauh dari tempat tinggalnya. Lalu cerita bergulir dan berkembang. Perlahan  muncul tokoh-tokoh menarik dimulai Nyonya Schmidt, Nyonya Kraner, Petrina hingga laba-laba. László menjabarkannya dengan lebih sederhana namun sesekali tetap memunculkan kalimat narasi panjang, dengan penjelasan detail yang indah, sesekali depresif dan impresif yang mengakibatkan bukunya habis saya baca dalam beberapa hari saja. László seperti menghisap perlahan-lahan pembaca dengan setiap detail kalimat yang ia tulis. Ada sedikit nuansa aura realisme magis dalamnya dan lebih kurang mengingatkan saya pada karya klasik "Master & Margarita" dari Mikhail Bulgakov.

     Ada yang satu hal yang mencari perhatian saya ketika  menyaksikan rekaman pidato saat László menerima penghargaan Man booker Prize tahun 2015. Ia membacakan teks narasi yang ia tulis pada secarik kertas. Di kertas ia membacakan  ungkapan terimakasihnya mulai kepada guru-gurunya semasa sekolah, Franz Kafka dan novel-nya "The Castle yang ia baca ketika berusia 12 tahun, italian renaissance, Fyodor Dostoevsky, Jimi Hendrix, Beatles, Rolling Stone, William Faulkner,  hingga alam semesta juga tak lupa untuk ia sebutkan. Hingga sepenggal kalimat penutup yang mengakhiri pidatonya.

"To nature which was created to Prince Budha Siddharta, to the Hungarian language, to God."


Dwinda.A.S
08-04-2017














No comments:

Post a Comment