Tuesday, 28 February 2017

Dua Raja dan Dua Labirin

         Mereka memiliki orang yang layak iman (tapi Allah lebih tahu) daripada di hari-hari awal ada seorang raja pulau Babel yang dibawa bersama arsitek dan penyihir dan memerintahkan mereka untuk membangun sebuah labirin jadi bingung dan halus bahwa orang yang paling bijaksana tidak akan berani untuk masuk, dan mereka yang masuk hilang. Pekerjaan itu skandal, karena kebingungan dan bertanya-tanya merupakan ciri khas dari Allah, bukan dari operasi pria. Dengan berlalunya waktu datang ke pengadilan seorang raja dari orang-orang Arab, dan raja Babel (mengejek kesederhanaan tamunya) melakukan menembus labirin, di mana ia mengembara dihina dan bingung sampai sore hari tiba . Lalu ia memohon bantuan ilahi dan membanting pintu. Bibirnya diucapkan tidak ada keluhan, tetapi mengatakan kepada raja Babel di Saudi dia labirin lain dan bahwa jika Tuhan disajikan, akan merilis suatu hari nanti. Kemudian ia kembali ke Saudi, dia mengumpulkan kapten dan sipir dan Estragó kerajaan Babel keberuntungan sangat beruntung menggulingkan istana nya, pecah rakyatnya ditawan dan membuat dirinya raja. Dia diikat unta cepat dan membawanya ke padang gurun. Mereka naik tiga hari dan berkata, "Wahai raja waktu dan substansi dan abad cipher di Babel, saya ingin kalah dalam labirin perunggu dengan banyak tangga, pintu dan dinding!; Sekarang Yang Mahakuasa telah melihat cocok untuk menampilkan menambang, di mana tidak ada tangga untuk mendaki, atau pintu kekuatan, atau galeri melelahkan untuk pergi, atau dinding yang Anda langkah veden ". Kemudian ia membuka ikatan obligasi dan meninggalkan di tengah-tengah gurun, di mana ia meninggal karena kelaparan dan kehausan. Mahasuci Dia yang tidak mati.


Jorge Luis Borges

Diterjemahkan : Dwinda.A.S
(14-02-2017)

*Nb: Untuk hasil terjemahan yang masih kasar, mohon maaf dikarenakan penulis terus berupaya meningkatkan pemahaman bahasa spanyol.

Tuesday, 21 February 2017

Ia tak ingin cepat mengerti.

Tiga tahun lalu di "Rumah Buku",  Nevsky Prospekt,  seorang pemuda tanggung sedang menggerutu karena tak kunjung paham sebuah buku yang ia ambil dari rak buku di bagian literatur berbahasa Inggris. Buku yang ia ambil berjudul "Idiot" karya Fyodor Dostoevsky. Rasa penasarannya terhadap buku tersebut kian menjadi-menjadi setelah guru bahasa rusianya berkata jika buku itu merupakan salah satu karya agung dalam kesusasteraan Rusia dan namanya tersohor pula di berbagai belahan dunia.  Ia mencoba untuk menguji kebenaran hal tersebut.


Seperti kebiasaannya di akhir pekan, atau waktu luang atau bahkan saat ia membolos jam pelajaran di kampusnya, kali ini ia menghabiskan akhir hari di toko tersebut. Raut mukanya mengerut, melihat nama-nama judul buku yang aneh dan tidak biasa pada rak buku itu. Mengapa bisa terpikir untuk memberikan judul buku "One Hundred years of Solitude", "The Stranger",  "The Horla", "Sputnik Sweetheart', "1984", "Hunger", "Lolita"? Apa yang ada dibenak para penulis-penulis itu ketika memutuskan untuk memberi judul-judul itu pada karya mereka? Itu memang hal yang baru bagi pemuda itu, namun tanpa ambil pusing dan pemuda itu memilih melanjutkan buku "Idiot" (Apalagi judul buku ini? Tak ada impresi positif sedikit pun dari namanya) yang sedang ia genggam .

 Demi memuaskan rasa ingin tahunya, ia memutuskan membeli buku tersebut. Pelan-pelan ia berpikir jika mungkin level intelektualitasnya masih rendah untuk mengerti buku yang dirilis pada pertengahan tahun 1860-an tersebut. Tanpa berpanjang lebar, buku tersebut ia baca hingga tuntas. Buku sudah dibeli, cerita habis dibaca, bukan berarti rasa penasarannya menjadi terjawab.  Dalam pemahamannya, yang notabenenya seorang remaja berusia 19 tahun, kisah "Idiot" tak lebih dari cerita tentang seorang pangeran yang baru kembali ke kampung halamannya setelah melewati masa rehabilitasi di Swiss, dan sisanya? Ia tak menemukan keistimewaan sedikitpun di dalam buku tersebut. Buku tersebut pun lalu bertengger di rak buku kamarnya dan tak pernah disentuhnya lagi hingga kurun waktu yang lama.

Tiga tahun setelahnya, banyak hal terjadi di dalam kehidupannya. Pemikiran semakin dewasa, sudut pandang lambat laun meluas, dan rasa adiktif terhadap buku yang kian tak tertahan membuat si pemuda tersebut semakin intens mengkonsumsi buku-buku yang sebelumnya hanya membuat dahinya mengerut. Ia tak lagi mempertanyakan betapa anehnya judul buku "100 Tahun Kesendirian", "The Stranger", "The Horla", "Sputnik Sweetheart", "1984", "Lapar", "Lolita" dan "Idiot". Banyak hal yang akhirnya membuat ia mulai bisa menikmati  dan mau mengerti konsep-konsep pemikiran mulai dari "Realisme Magis", "Nihilisme", "Eksistensialisme", "Distopia", "Satir", "Naturalisme" hingga "Picaresque" sekalipun. Semua ide-ide gila penulis-penulis klasik itu menjelma seperti sebuah kotak pandora yang dipenuhi segala harta karun dan ide brilian yang perlahan - perlahan membuatnya sepakat dan memahami jika pada akhirnya karya-karya para "mumi-mumi literatur" tersebut memang pantas menjadi karya monumental dan sepatutnya diakui dunia. Hingga pada akhirnya, ia sadari jika ia tak perlu untuk cepat-cepat mengerti tentang segala kebingungannya, jika ternyata rasa keingin tahuannya terus membuatnya bisa bersenang-senang untuk terus menjadi pembaca amatir.





Dwinda.A.S
21-02-2017

Wednesday, 15 February 2017

Tolima

Tuve un sueño...
En este sueño, estábamos ahí ...
Eso fue una felicidad y lo mejor de esta vida...
Construyendo el laberinto...

Pero me olvidé, que estaba en el laberinto..
Traté de encontrar la pista..
Para encontrar la salida...
Y entonces, esa tormenta llegó...

Casi lo hago realidad..
Te di mi aliento..
Pero mi aliento es demasiado pequeño para ti..
Entonces, eso depende de mí aquí..

Todavía me quedo en este laberinto...
Este laberinto del Tolima..
Por todas las mentiras..
Todavía estoy y me siento igual
En el laberinto del Tolima..

Dwinda.A.S
09-02-2017

Thursday, 9 February 2017

Los dos reyes y los dos laberintos (Jorge Luis Borges)

      Cuentan los hombres dignos de fe (pero Alá sabe más) que en los primeros días hubo un rey de las islas de Babilonia que congregó a sus arquitectos y magos y les mandó construir un laberinto tan perplejo y sutil que los varones más prudentes no se aventuraban a entrar, y los que entraban se perdían. Esa obra era un escándalo, porque la confusión y la maravilla son operaciones propias de Dios y no de los hombres. Con el andar del tiempo vino a su corte un rey de los árabes, y el rey de Babilonia (para hacer burla de la simplicidad de su huésped) lo hizo penetrar en el laberinto, donde vagó afrentado y confundido hasta la declinación de la tarde. Entonces imploró socorro divino y dio con la puerta. Sus labios no profirieron queja ninguna, pero le dijo al rey de Babilonia que él en Arabia tenía otro laberinto y que, si Dios era servido, se lo daría a conocer algún día. Luego regresó a Arabia, juntó sus capitanes y sus alcaides y estragó los reinos de Babilonia con tan venturosa fortuna que derribó sus castillos, rompió sus gentes e hizo cautivo al mismo rey. Lo amarró encima de un camello veloz y lo llevó al desierto. Cabalgaron tres días, y le dijo: “¡ Oh, rey del tiempo y substancia y cifra del siglo!, en Babilonia me quisiste perder en un laberinto de bronce con muchas escaleras, puertas y muros; ahora el Poderoso ha tenido a bien que te muestre el mío, donde no hay escaleras que subir, ni puertas que forzar, ni fatigosas galerías que recorrer, ni muros que te veden el paso”.            Luego le desató las ligaduras y lo abandonó en mitad del desierto, donde murió de hambre y de sed. La gloria sea con Aquel que no muere.


Borges, Jorge Luis

(El Aleph) (16-06-1939)









Sunday, 5 February 2017

Darf ich fragen (Bolehkah saya bertanya?)

Berlin sangat dingin senja itu. Temperatur turun hingga minus empat. Dua orang imigran Suriah sedang duduk dan berbincang bersama para imigran-imigran lainnya di kamar para imigran. Zuhair duduk diatas kasurnya menahan lapar menanti jam makan siang di asylum Siegerstrasse. Ia baru tiba tiga hari di jerman bersama para imigran-imigran Suriah lainnya. Namun tampaknya mereka masih harus bergulat dengan kebiasaan, makanan, bahasa dan penyesuaian yang memerlukan waktu demi waktu.
“Perutku sudah meronta-ronta ini”, katanya dalam kepada Omar.
“Sabar, sebentar lagi juga datang waktunya”, tanggap Omar.
“Ini sudah hari ketiga kita disini, dan ku tak tahu bagaimana berikutnya hidup ini akan berlanjut”, kata Zuhair.
“Yasudah, biarkan saja. Toh seiring waktu kita akan memahami ini. Nikmati saja.” jawab Omar.
“Aku tak betah disini. Bicara dengan bahasa yang sungguh asing ini, lalu makanan yang tak enak. Semua tak lepas dengani sosis lalu roti. Lama-lama darah tinggi aku dibuatnya” gerutu Zuhair.
Tak lama berselang terdengar ketuk pintu di luar kamar mereka dan seorang kemudian petugas asylum datang dan memberitahukan jika waktu makan siang telah tiba. Zuhair dan Omar segera mengantre makanan bersama para imigran lain dan menyantap makan siang mereka. Menu hari itu adalah roti, sosis, semangkuk sup, sebuah apel dan segelas air. Tak butuh waktu lama untuk Omar menghabisi makanannya karena lapar yang sudah tak tertahankan namun beda halnya dengan Zuhair yang terlihat tak bergairah sama sekali untuk memakannya. Ia  hanya menyantap sup dan apel lalu mengacuhkan roti dan sosis

Zuhair menengok sekelilingnya dan melihat seorang petugas lalu bertanya,  “Bolehkah saya bertanya? Saya ingin menukar sosis ini dengan makanan lain. Saya  sungguh tak bisa memakannya.”
“Tidak ada, setiap menu yang dimasak sudah diperhitungkan setiap detailnya. Ada masalah apa dengan makanannya?”, tanya petugas itu.
“Saya tidak bisa untuk menyantap makanan ini. Rasa sosisnya aneh belum lagi rotinya sangat keras sekali.” jelas Zuhair.
“Sudah baik kau diterima dan diberi makan disini, masih belum cukupkah itu? Ini semua lebih baik ketimbang kau harus hidup dalam ketakutan dan kepanikan di negaramu. Nikmatilah semua keasingan walau kadang itu sulit membuat perutmu kenyang ”, tegas sang petugas.
“Baiklah.”, jawab Zuhair berusaha mengakhiri perdebatan.
“Perkara akan kumakan atau kusimpan sosis ini soal nanti. Rasa dan bentuknya sungguh membuatku tak berselera. Ingin rasanya aku muntah setiap kali potongan sosis ini sampai di kerongkonganku. Asylum ini bisa membuatku gila lama-lama”, katanya dalam hati.
Dan kedua imigran Suriah itu kembali masih terus bergulat  dan menyesuaikan hidup mereka dengan hidup baru di ibukota jerman. Satu pertanyaan dan rentetan pertanyaan lainnya akan terus bermunculan dalam hari-hari mereka disini.


-Dwinda Aryo-
26-11-2016

Thursday, 2 February 2017

Bez Nazvaniye

Pochemu eto slishkom tyazheloye?
Ya voobshye nye znayu vashu prichinu.
Do sih por, ya nye mogu chuvstvovat. 


Ti zhivyosh luchshyee tam.
No samom dele ya dolzhno eto ponimat.
No kak eto vylechit? Ya ne kogda ne znayu, chestno.

Eta luchshaya vyesh v moyei zhizni.
Ya gorzhus tem, chto ya borolsya za nashu mechtu.
U menya net nichego, chto budet kogda-libo izmenit eto pamyat.


Ya nye otdayu svoyu zhizn za predatelya, tochno..




Двинда А.С
30-01-2017