Wednesday, 26 July 2017

Manusia Es, Murakami

                     Bukan Haruki Murakami jika tak bisa menyayat hati para pembacanya dengan konflik-konflik dalam ceritanya. Ia gemar mengambil hal-hal tak biasa di dalam kehidupan, kadang juga hal  tabu mulai dari kelainan seksual, kucing-kucing yang bisa bicara, hingga keterasingan diri kerap berhasil membuat para pembacanya menghela nafas panjang seperti habis melihat sebuah tragedi yang mengenaskan.
                  Cerita pendeknya kali ini merupakan kisah cinta seorang wanita dengan manusia es, dimana mereka pertama kali berjumpa di sebuah resot ski. Si cewek melihat manusia es duduk sendirian di lobi hotel sambil membaca buku. Berawal dari situ kemudian ia mengagumi si manusia es dan  berusaha mencari tahu sosoknya. Bagi manusia normal menjalin hubungan dengan manusia es masih jauh dari kata normal. Alhasil konflik-konflik pun tak bisa dihindarkan, tatkala dari pihak sang wanita menerima kecaman akibat keputusannya tersebut.
                 Murakami dalam kisahnya kali ini seperti memaparkan kenyataan pahit. Kisah ini juga  terasa amat sendu, namun tetap puitis secara bersamaan. Definisi cinta menurut Murakami nampak sesederhana filosofi manusia es, "Semuanya hanya masa lalu yang terlampir di dalamnya. Dengan cara yang sangat bersih dan jelas, es bisa mengawetkan banyak hal dan membuatnya seolah-seolah masih hidup, meskipun itu masa lalu, Itulah esensi es."
               Tak perlu alur cerita yang kompleks untuk membuat pembacanya terhisap ke dalam kisahnya. Tempo cerita yang berjalan cepat, sesekali ia menghadirkan konflik personal antara sang wanita dan manusia, dimana masa depan terasa seperti sesuatu yang tak perlu ditunggu, karena bisa saja itu akan menjadi bom waktu kelak, alhasil kita seakan tak sadar telah tiba di akhir cerita kemudian.


26-07-2017
Dwinda.A.S

Tuesday, 18 July 2017

Ledakan Sastra Amerika Latin

              Periode tahun 1960 hingga tahun 1970, kiranya menjadi momen penting bagi kesusastraan Amerika Latin. Kala itu muncul sebuah fenomena literaturyang cukup unik, dimana mereka perlahan menginvasi dunia sastra internasional, mulai novel, puisi, esai hingga kritik literatur yang dikenal dengan El Boom Latinoamericano (yang berarti ledakan Amerika Latin). Hal ini bukan saja menjadi fenomena sastra dan kebudayaan, namun sekaligus politik serta ekonomi, dimana ini menjadi sebuah respon dalam kultur Amerika Latin yang kembali menghidupkan warisan sastra spanyol, dengan karakter baroque yang kuat.
         Amerika Latin terlihat seperti pecahan-pecahan eropa yang sedang mencari nama baru. Dimana berbagai karya sastra dengan nuansa Cervantes-esque, bercampur elemen-elemen fantasi, legenda, hingga sejarah yang pada akhirnya melahirkan warna baru dan unik dikenal dengan realisme magis. Dalam perngertiannya, semua unsur-unsur magis diceritakan dengan amat nyata, sehingga semua elemen-elemen "nyata" dan "magis" mengalir pada satu arus cerita. Realisme magis tak ubahnya sebuah refleksi irasional di negara dunia ketiga terhadap rasional ilmiah dari barat, dan kali ini Amerika Selatan terlihat sedang bersenang-senang memetaforakan segala kisah mereka.
          Nama-nama besar seperti Julio Cortazar, Gabriel Garcia Marquez, Ernesto Sabato, Alejandro Carpentier, Carlos Fuentez, hingga Mario Vargaz Llosa merupakan nama-nama besar dibalik terjadinya ledakan sastra Amerika Latin. Segala referensi historis, sosial dan politik dirasa menjadi media yang pas untuk mewakili pandagan-pandangan negara-negara post colonial dalam memceritakan kisah mereka. Sebuah buku bernama One Hundred Years of Solitude, The Time for Heroes, hingga The Tunnel, menjadi representasi baru dalam dunia sastra Amerika Latin kala itu.
         Penulis-penulis Argentina membuat Buenos Aires menjadi setara keindahannya dengan kota-kota di eropa, sebagaimana semua tergambar dalam kisah Julio Cortazar dan Ernesto Sabato. Alejo Carpentier dalam karyanya The Kingdom of This World menggambarkan suasana setelah revolusi Haiti, dimana sepanjang novel, berbagai persepsi tentang realitas yang muncul karena perbedaan budaya antara karakternya ditekankan dan dikontraskan, dan tentunya masih banyak penulis-penulis Amerika Latin yang perlu diperhatikan disamping nama-nama tersebut.
         Entah apa yang ada di benak para penulis Amerika Latin  saat itu, sekiranya mereka telah menciptakan warna baru dalam dunia literatur internasional.  Mereka seperti mengisyaratkan  dan merefleksikan semua hal yang terjadi di negara mereka kemudian membungkusnya dengan segala dengan citarasa asal mereka, dan sekiranya fenomena ledakan Amerika Latin akan selalu dikenang dalam jangka waktu panjang.


Dwinda.A.S
18-07-2017

Wednesday, 12 July 2017

Aksi-Reaksi

           Mengamati hal-hal yang terjadi disekitar merupakan aktivitas yang menyenangkan, dimana terkadang dalam hidup ini suatu kejadian memiliki kecenderungan keterkaitan dengan terjadinya hal baru. Kejadian ini sedikit mengingatkan saya pada hukum Aksi-Reaksi dari Isaac Newton. Fenomena ini membuat saya membayangkan kecenderungan itu terjadi pada dunia sastra, dimana karya-karya para penulis besar di suatu bangsa terasa seperti sebuah aksi-reaksi yang saling menjawab satu sama lain, atau jika mungkin malah membantah satu dengan lainnya.

             Contoh salah satu begini, Pram dalam karya-karyanya terutama tetralogi Bumi Manusia menawarkan sebuah gagasan realisme modern, dimana kita bisa merasakan ada semangat menggugah yang kuat dalam kisahnya.Ia seakan-akan menghimbau sebuah perubahan menuju fase kehiduapn yang ideal.  Sepeninggal Pram, muncul  Eka Kurniawan, dimana dalam kisahnya, sisi lain negeri ini diperlihatkan. Indonesia terlihat lebih garang, penuh amarah serta sumpah serapah layaknya keseharian rakyat jelata. Kaum-kaum tak terbias cahaya seperti mendapatkan kesempatan untuk menunjukan dirinya. Halimunda seolah tak jauh lebih baik daripada Pulau buru dalam perspektif Eka.

            Di negri sakura, Yasunari Kawabata dalam karya-karyanya mengangkat nilai-nilai kebudayaan jepang dengan amat sederhana, melankolis, sensual dan realis. Jepang tampak amat menawan dengan para Geisha yang kerap diangkat dalam kisahnya, lalu butir-butir salju yang jatuh menutupi seluruh kota seolah-olah menghadirkan kesenduan yang elegan. Kemudian beberapa tahun setelahnya, hadir seorang pemuda pemilik club jazz bernama, Haruki Murakami. Ia menawarkan warna yang berbeda, Jepang dilihat dalam bentuk yang lebih modern dimana problematika kisah-kisahnya banyak ditemukan di kehidupan masyarakat urban. Ia tak segan mengangkat kisah cinta kaum lgbt, atau menjadikan kucing menjadi hal magis dalam kisahnya. 

          Kolombia tak mau ketinggalan, dimana mereka memiliki seorang penulis  bertalenta besar bernama Gabriel Garcia Marquez. Tak ada yang meragukan Gabo dalam menciptakan kisah-kisah yang berkualitas. Kecerdasannya dalam memetakan situasi politik Kolombia, kemudian meracik kisah cinta  yang tragis serta tak lupa menyisipkan unsur-unsur militer, terasa seperti sebuah metafora tentang kondisi kolombia saat itu. Sepeninggalnya, kemudian muncul Juan Gabriel Vasquez. Ia jelas mengungkapkan keberatannya dengan realisme magis yang ditawarkan Marquez, kemudian menjawabnya dengan karya-karya yang kental dengan kultur eropa.

          Menikmati karya-karya sastra baik dalam dan luar negeri akhirnya membuat saya menarik kesimpulan jika para penulis-penulis tersebut saling merespon satu sama lain. Mereka terlihat seperti meneruskan jejak-jejak peninggalan pendahulunya, yang kemudian dilanjutkan, direspon, atau mungkin dijawab dengan buah pemikiran mereka sendiri, sehingga hal itu membuat saya tak bisa berhenti untuk mengais karya-karya klasik dan kontemporer.


Dwinda.A.S
12-07-2017



          

Tuesday, 4 July 2017

Invisibles Cities, Italo Calvino

            Suatu hari Marco Polo berjumpa sang penguasa Kublai Khan, kemudian mereka terlibat percakapan tentang kisah petualangan Marco Polo, dimana ia membagi cerita tentang petualangannya melintasi Asia di abad ke tigabelas, lalu kegiatan ekspor impor yang dijumpainya. Semua hal itu ternyata berhasil membuat sang imperator antusias, namun yang paling istimewa diantara semuanya adalah kisahnya tentang kota-kota yang tak terlihat, dimana semua kota tersebut terlihat menyerupai mimpi, dibangun dengan gairah serta keberanian. Belum habis sampai disitu, karena di kota ini termasuk terdapat ancaman dan segala aturan-aturan yang menciptakan sebuah impresi baru.

              Dalam kisahnya kali ini, Calvino membagi isinya menjadi 9 bagian, dimana setiap kotanya diambil dari nama wanita. Percakapan antara sang penjelajah dan imperator agung dinarasikan dalam bentuk dialog pada awal dan akhir bagian cerita. Dimana percakapan diantara keduanya dibangun dengan amat puitis.

            Calvino memetakan kota-kota imajiner tersebut layaknya menggambarkan keindahan wanita. Sebut saja kota-kota dan memori, kota tersembunyi hingga kota-kota dan kematian menciptakan nuansa sentimentil nan magis. Banyak  yang menyebut jika semua penggambaran  tersebut tak ubahnya metafora kota Venezia. Kompleksitas percakapan antara Marcopolo dan Kublai Khan terasa begitu intens. Entah apapun maksud penggambaran Calvino tentang kota-kota yang tak terlihat, setidaknya ia memperlihatkan keindahan terpendam dalam petualangannya kali ini.

D.A.Seto
04-07-2017

Monday, 26 June 2017

Snow Country, Yasunari Kawabata

          Cerita diawali ketika kereta keluar dari terowongan gelap menuju sebuah kota musim panas.  Shimamura yang berprofesi sebagai pakar balet ternama sedang berlibur di tengah krisis yang melanda dirinya. Alhasil ia berlibur sejenak meninggalkan istri dan keluarganya. Tujuannya sederhana yakni mengembalikan gairah hidupnya yang kian menurun.
             Jepang  dalam cerita ini digambarkan dengan amat sederhana oleh Kawabata. Segala pernak-pernik di dalam kisah ini berubah menjadi daya tarik. Butiran-butiran salju di musim dingin yang menutupi seluruh desa terasa bukan saja pelengkap semata. Kali ini wanita penghibur (geisha) menjadi hal yang tak lepas dari sorotan sepanjang cerita, dan Snow Country terasa seperti sebuah panduan menyenangkan untuk mengenal kesusastraan negri sakura.
             Shimamura tak akan pernah menyangka liburannya kali ini akan dipenuhi kejutan. Krisis kepribadian menggiringnya pada sebuah pelarian sesaat yang mempertemukannya dengan wanita-wanita dalam perjalanannya kali ini. Ia seakan menemukan kembali kepuasan dalam dunia kecilnya yang menyedihkan.
            Kejutan demi kejutan perlahan bermunculan. Perjumpaan Shimamura dengan Yoko, seorang gadis yang sedang mendampingi seorang lelaki sekarat, ternyata membuat Shimamura mabuk kepayang, dan belum cukup dengan Yoko kemudian ia beralih kepada seorang geisha murahan. Sialnya geisha ini justru menciptakan cinta segita untuk Shimamura.
           Keistimewaan Kawabata dengan gayanya  dengan amat sederhana dan realistis membuat siapapun sulit untuk mengelak dari daya pesonanya. Jelas karya ini bukan kisah romantis sederhana, namun akan lebih terasa sebagai sebuah kisah cinta tanpa harapan hingga berujung pada sebuah kesimpulan yang menghancurkan.

D.A.Seto

26-06-2017

Tuesday, 20 June 2017

Love in Life Time of Cholera, Gabriel Garcia Marquez

      Gabriel Garcia Marquez selalu memiliki cara untuk mengubah sesuatu di dalam kisahnya menjadi hal-hal berdaya magis yang sulit untuk dilewatkan. Dan itu barangkali yang menjadikannya sebagai penulis besar dalam dunia kesusastraan dan kali ini bukan perkara sulit baginya untuk membuat Kolombia yang sedang dilanda perang dan wabah kolera menjadi sebuah negri yang elegan dalam kisah asmara Florentino Ariza dan Fermina Daza.

              Kisah ini tak ubahnya cerita tentang pencarian cinta sejati dalam sebuah penantian. Sialnya, penantian itu jauh dari kata baik hingga terkesan 'sakit' oleh perasaannya dan terkesan tak jauh lebih mengerikan dari wabah kolera sekalipun. Belum lagi perbedaan status sosial yang berbeda menjadi sebuah halangan dalam perjuangan mereka. Ayah sang gadis, Lorenzo Daza tak pernah rela anaknya didekati seorang pria dengan status sosial yang jauh dibawahnya. Florentino pun tetap kukuh mengejar pujaan hatinya.


               Wabah kolera tak mengurangi sedikit pun keanggunan Kolombia, dan gejolak perang saudara yang sedang berlangsung tak menyurutkan kegigihan Florentino Ariza. Yang menarik disini adalah eksperimen Marquez yang cukup unik serta menarik perhatian, ketika ia tak segan menghadirkan melankolisme dan estetika lekuk tubuh wanita, selain itu  burung merpati dan kakak tua juga amat menarik disini. Semua elemen-elemen cerita seakan melebur kemudian diarahkan dalam sebuah perspektif yang tak biasa sebagaimana yang dituangkan Marquez dalam cerita ini. Kita juga akan menemukan jejak Yasunari Kawabata yang kerap mengeksploitasi keanggunan wanita dan melankolisme.

           Yang lebih menarik, wabah kolera seakan menjadi sebuah makna tersirat. Bahwasannya jika akal logika seseorang sudah sakit karena urusan asmara, hal itu tak kalah mematikan seperti kolera. Istimewanya semua detail-detail yang muncul dalam cerita perlahan-lahan menjerat kemudian tak sadar membawa pada satu perhentian bahwasannya cinta sejati mungkin perlu diraih atau malah tak perlu dinanti.


               Dari setiap buku-buku Marquez, yang menarik adalah semua metafora-metafora terlihat tak biasa dengan alur cerita berlapis serta keistimewaannya dalam menciptakan nama-nama indah dalam setiap karakternya mulai dari Florentino Ariza, Escolastica, Juvenal Urbino, Jeremiah de Saint Amour. Sekiranya detail-detail kecil itu yang membuat karya-karya Marquez terasa amat adiktif, dan berhati-hatilah karena perangkap-perangkap sudah tersusun rapi di sepanjang cerita.

Dwinda.A.S
20-06-2017

Friday, 9 June 2017

Acquaformosa

         Italia tak ubahnya sebuah negeri yang melenakan dengan segala kekayaan dan keunikan yang dimiliki. Hampir setiap kota di negeri ini memiliki ciri yang khas yang beraneka rupa. Hal itu membuat siapapun yang mengunjungi kota-kota di negera ini serasa memandangi lukisan-lukisan dengan jenis dan karakter yang berbeda, dan tak jarang keunikan- keunikan itu membuat semua mata terbelalak karena terkesima. Setidaknya itu yang baru saja terjadi dengan saya sewaktu mengunjungi Acquaformosa beberapa waktu yang lalu. Tujuan awal hanya untuk menuntaskan tugas studi, saya memutuskan untuk memanfaatkan kesempatan  kali ini dengan mengenal lebih jauh kota Acquaformosa.


          Kota ini memang bukan tergolong kota besar dengan luas 22,71 kilometer persegi dan dihuni penduduk sebanyak 1.100 jiwa. Letak georafisnya juga seakan tersembunyi diantara bukit-bukit yang menjulang disekitarnya. Di kota yang notabene-nya menjadi tempat tinggal bagi para kaum minoritas  Arbëresh (etnis minoritas Albania) ini, kita akan melihat banyak pengaruh Albania di setiap sudut kota Acquaformosa. Mulai dari nama-nama di papan penunjuk jalan, monumen - monumen penting, semua ditulis dalam dua bahasa yakni Italia dan Albania. Kekaguman saya dengan kota ini kian menjadi-jadi sewaktu melihat  dinding-dinding rumah di kota ini banyak dipenuhi lukisan mural yang dibuat oleh masyarakat sekitar. Saya seperti tersesat di negeri entah berantah dengan segala estetika kota ini. Setiap sudut disini seakan memiliki arti. Kejutan terus berlanjut ketika  saya menemukan produk-produk makanan dan Mate  (teh asli Argentina) buatan Argentina. Usut punya usut ternyata setelah perang dunia kedua, banyak imigran Argentina yang berdatangan ke Acquaformosa.

           Proses inkulturasi tiga negara yang terjadi dan melahirkan sebuah warna baru yang unik. Semua nuansa masa lalu tersebut seakan terekam pada lukisan-lukisan  mural di dinding-dinding rumah penduduk. Masyrakat Acquaformosa tak ambil pusing dengan semua isu krisis yang sedang menerpa negeri mereka. Keberagaman diantara mereka menciptakan sebuah perayaan hidup yang menyenangkan, di kota ini. Kota yang memiliki julukan Paese Fantasma (Negeri Hantu) karena keheneningannya yang melenakan. Disini tak perlu gemerlap lampu kota untuk merasakan gemerlap kehidupan kota atau bisingnya suara kendaraan untuk merasakan esensi sebuah kota pada umumnya, karena kota ini menawarkan suasana atmosferik yang siap menghisap siapapun untuk jatuh hati dengannya.


Dwinda.A.S
(09-06-2017)







        

Sunday, 4 June 2017

Satantango, László Krasznahorkai

            Satantango merupakan novel pertama milik penulis asal Hungaria, Laszlo Krasznahorkai.  Pertama kali  dipublikasikan pada tahun 1985,  buku ini akhirnya berhasil diterbitkan empat tahun sebelum runtuhnya komunis  di negara itu, meskipun pada awal penerbitan buku ini sempat dilarang oleh pemerintah komunis Hungaria. Hal itu  tak   menghalangi buku ini  untuk menjelma menjadi sebuah karya penting dalam dunia kesustraan Hungaria. Laszlo  mengambil sudut pandang yang cukup unik kali ini, dimana perhatian utama akan tertuju pada seorang tokoh bernama Irimias yang menjadi semacam nabi, atau jika bukan malah sebagai agen rahasia hingga iblis jahanam sekalipun yang memanipulasi masyarakat setempat di sebuah desa terpencil. Laszlo membungkusnya dengan tema melankolisme dan distopia dengan latar cerita sebuah dusun di  Hungaria yang saat itu berada pada masa pemerintahan komunis. Sepanjang cerita di buku ini tak jarang Laszlo memunculkankan kalimat-kalimat panjang yang amat intens dan tak heran jika gaya berceritanya mengingatkan gaya bercerita Gogol, hingga Bulgakov. Laszlo dianggap brilian dan visioner dalam membangun kerangka serta alur cerita.



             Cerita dibuka dengan sepenggal kalimat Franz Kafka dari novel The Castle : ''In that case, I'll miss the thing by waiting''.  Dari penggalan kalimat pembuka, Laszlo mengirimkan sebuah sinyal jika cerita akan bersinggungan pada sebuah penantian. Seperti halnya dalam Kafka-esque, kita akan  merasakan elemen-elemen keterasingan, alienisasi di dalam penantian. Hungaria di bawah pemerintahan komunis bukan tempat yang indah dalam semesta yang digambarkan Laszlo, dan di sebuah dusun yang ditinggali para kaum pekerja mulai dari montir, kepala sekolah, petani, orang-orang 'gila' hingga pelacur remaja mereka  berkumpul dalam sebuah pub usang yang dipenuhi asap rokok dan jaring laba-laba di atas langit-langit pub . Novel   ini memiliki banyak faktor yang membuatnya diganjar predikat sebagai novel terbaik versi man booker prize pada tahun 2015.  Keistimewaan Laszlo dalam bercerita sekiranya akan mengurungkan niat dirinya yang semula hanya ingin menulis sebuah buku saja, sebagaimana ia sempat menuturkan dalam wawancaranya, karena kini ini ia sudah menjelma menjadi suatu hal yang dinantikan melalui karya-karyanya.





       

Dwinda.A,S
13-06-2017



Saturday, 3 June 2017

Slow Learner, Thomas Pynchon

                   Ini hanya sebuah keisengan belaka saja awalnya, ketika namanya disebut dalam pidato Lászlò Krasnahorkai sewaktu ia menjadi pemenang Man Booker International Prize 2015. Rasa ingin tahu saya mulai muncul untuk mencari bukunya. Nama Thomas Pynchon sendiri,sering saya dengar di beberapa ulasan buku yang saya jumpai, kemudian lambat laun menarik minat saya untuk membaca bukunya.

              Alhasil saya putuskan untuk membaca karya Pynchon yang satu ini. Buku yang menjadi titik awal dalam karir menulisnya. Dan hasilnya? Tidak buruk meski tak mudah sama sekali untuk mengerti buku ini. Pynchon seolah-olah menuntun pembacanya dengan tempo yang amat pelan di dalam alur ceritanya. Ia menggambarkan lingkungan dan latar cerita dengan cukup lengkap, kadang bergerak seenaknya sehingga tak jarak para pembaca diminta dan bahkan dipaksa untuk membaca dengan pelan dan tak perlu terlalu gegabah apalagi terburu-buru untuk mengerti kisahnya. Di satu sisi, semua detail yang digambarkan dalam cerita seakan-akan menjebak para pembaca dalam alam pikiran Pynchon.


                   Di dalam buku ini terdapat lima cerita pendek dengan berbagai tema mulai dari Small Rain, Low-lands, Entropy, Under The Rose, The Secret Integration. Cerpen pertama berjudul Small Rain menceritakan seorang tentara khusus yang sedang menyambangi sebuah pulau yang baru dihantam badai. Usai dari situ, cerita berikutnya mengajak kita menikmati sebuah kehidupan pengacara dan segala problematikanya dalam cerita berjudul Low-lands. Dari kelima kisah di dalam buku ini, sebenarnya yang menarik paling menaik perhatian adalah cerita terakhir berjudul "The Secret Integration" yang menceritakan kisah Grave Snodd dan keempat teman-teman se-permainannya. Rencana akhir pekan yang semula sudah dipersiapkan, mau tak mau berantakan yang tak pernah mereka perkirakan. Menikmati buku ini benar-benar terasa seperti mempelajari sebuah hal baru dengan amat pelan, namun memang kita tak perlu  dan tak harus cepat-cepat dalam mempelajari suatu hal baru kan?Setidaknya itu satu nilai yang bisa dipelajari dari Thomas Pynchon melalui cerita-ceritanya kali ini.

Dwinda.A.S
02-06-2017

Friday, 2 June 2017

A un poeta menor de la Antología (Jorge Luis Borges)

¿Dónde está la memoria de los días
que fueron tuyos en la tierra, y tejieron
dicha y dolor y fueron para ti el universo?

El río numerable de los años
los ha perdido; eres una palabra un índice.

Dieron a otros gloria interminable los dioses, inscripciones y exergos y monumentos  y puntuales historiadores de ti sólo sabemos, oscuro amigo,
que oíste al ruiseñor, una tarde.

Entre los asfodelos de la sombra, tu vana sombra pensará  que los dioses han sido avaros.

Pero los días son una red de triviales miserias,
¿y habrá suerte mejor que ser la ceniza de que está hecho el olvido?

Sobre otros arrojaron los dioses la inexorable luz de gloria,  que mira las entrañas y enumera las grietas, de la gloria, que acaba por ajar la rosa que venera;
contigo fueron más piadosos, hermano.

En el éxtasis de un atardecer que no será una noche, oyes la vos ruiseñor de teocrito.

Jorge Luis Borges

Saturday, 27 May 2017

Men Without Women, Ernest Hemingway

                  Sering galau dalam urusan percintaan? Atau dilema dalam suatu hubungan asmara yang menguras pikiran, tenaga, dan kantong (siapa tahu ada yang mengalami) hingga lupa akal sehat? Buku dari Papa Hemingway yang satu ini sekiranya akan memberikan perspektif yang berbeda dan siapa tahu bisa menjadi jimat anti nestapa dan gundah gulana. Kenapa saya sebut demikian? Karena sekiranya di dalam buku ini ada 14 kisah tentang tinju tangan kosong, matador, tentara hingga kisah tentang kebanalan. Tak ada kompromi didalamnya sebagaimana gaya Hemingway berkisah lalu seakan-akan mengarahkan sebuah pandagan tentang kehidupan lelaki yang ideal di masa itu, dengan cara yang sesingkat-singkatnya. Papa Hemingway sedikit lebih menggambarkan kisah pergulatan yang tak kenal tedeng aling-aling dengan semua bumbu romantisme percintaan dimana  kewarasan ekstra harus tetap dijaga jika tak ingin mati konyol. Dari judulnya, hal ini terasa seperti sebuah sinyal untuk para pria bahwasannya seorang pria tak selayaknya berada dalam sebuah posisi yang penuh keterancaman, apalagi untuk urusan asmara.

                 Buku ini dibuka dengan cerita "The Undefeated". Kisah tentang seorang matador yang baru kembali ke arena pertarungan banteng setelah keluar dari rumah  sakit. Ia berupaya untuk kembali dari masa kelam yang sedang melanda karirnya. Layaknya seorang pria, ia mengerahkan segala upaya terbaiknya untuk mengembalikan reputasinya sebagai  seorang matador yang tak terkalahkan. Setidaknya menghidupkan kembali kejayaan diri yang sebelumnya pernah ia capai. Dari kisah seorang matador kemudian cerita lain seperi seperti "In Another Country" , "Banal Story" serta beberapa kisah lainnya juga tak kalah garang.  Hemingway menggambarkan betapa ia tinju itu amat mengasyikan. Semua sisi maskulinitas seorang pria tak ubahnya matador di lapangan, atau petinju diatas ring hingga bahkan balap kuda yang  memacu adrenalin dalam cerita "Fifty Grand".  Menikmati Papa Hemingway bercerita dalam buku ini seperti menerima sebuah pesan untuk terus bertarung dalam dunia yang keji namun tak lupa bersenang-senang dengan akal sehat seperti layaknya seorang pria semestinya. Sepenggal kalimat dari Hemingway yang satu ini rasanya layak untuk dipertimbangkan:


"If he is to lose everything, he shouldn't place himself in a position to lose that. He shouldnt place himself  in a position to lose. He shouldn't find things he cannot lose" - (In Another Country)



Dwinda.A.S
27-05-2017















Monday, 22 May 2017

Buku Ini, Itu, dan yang Satu

Kita pernah mendegar pepatah buku adalah jendela dunia, karena dari sebuah buku yang kita baca, maka perlahan-lahan cakrawala kita akan terbuka. Banyak pengetahuan baru akan ditemukan, kemudian bukan tak mungkin akan membentuk sebuah pemahaman, hingga memberikan perspektif pemikiran baru. Sumbernya pun bisa dari berbagai belahan dunia manapun.

Berawal dari huruf-huruf, kemudian disusun menjadi kata-kata, lalu si penulis merajutnya menjadi kalimat-kalimat. Untaian kalimat demi kalimat membentuk sebuah narasi yang kelak menjadi sebuah cerita. Namun kali ini saya tak akan membahas definisi buku. Saya ingin berbagi cerita tentang buku "ini", "itu" dan yang satu.

Buku "ini" adalah sebuah buku yang ditulis seorang dokter yang nasibnya tak bisa dibilang baik bahkan mendekati malang. Karirnya sebagai seorang dokter tak bisa berkembang karena dia menderita penyakit tifus. Kala itu penyakit ini belum ada obat dan cara penanganan yang tepat. Si dokter tak putus asa, lantas ia mencoba peruntungan menjadi penulis, dan jurnalis. Hingga pengalaman dan jam terbangnya membuat ia kemudian melahirkan sebuah buku yang dianggap sebuah "karya besar" dari dirinya. Namun itu setelah bertahun-tahun, baru buku "ini" akhirnya diterbitkan bertahun-tahun kemudian. Dan kini menjelma menjadi sebuah buku yang wajib dibaca di negaranya, setelah melewati masa-masa kelam.

Buku yang itu juga tak kalah seru. Si penulis adalah seorang ahli sejarah.  Karirnya cukup cemerlang. Ide-ide yang datang dari kepalanya amat brilian. Hingga akhirnya ia menulis buku yang "itu", namun ia tak sadar jika di kemudian hari hidupnya akan menuai pujian dan cercaan dalam intensitas yang masif. Ia memperoleh berbagai penghargaan lewat buku "itu" namun nyawanya juga tak aman dalam ribuan hari. Ia harus bertahan di dalam ruang persembunyiannya yang nyata namun tak terlihat. Hingga akhirnya, perlahan-lahan hidupnya kembali normal meskipun belum bisa dibilang aman. Tak akan ada yang menyangka jika sebuah buku akan membuat hidup menjadi amat menyedihkan seperti itu dimana secara bersamaan berbagai penghargaan datang silih berganti. Ironi datang tanpa disadari.

Kedua buku tersebut menjadi sebuah hal yang indah bagi yang bisa memahaminya, dan juga aib yang amat nista untuk para pembencinya. Seribu satu alasan kiranya tak akan sanggup menelaah arti dibalik kisah kedua buku itu, hingga kedua buku tersebut menjelma sebagai sebuah magnet yang mana kutub utaranya menarik hal-hal yang tak pernah terbayangkan. Dan sisi lainnya menolak pemahaman yang sebenarnya amat sederhana untuk diterima, namun kemudian salah dicerna atau sengaja dicari cacatnya.


Dan tentang buku yang satu... Entah lah... Karena banyak buku di luar sana, yang menarik datang dari segala penjuru dunia. Namun tak akan ada artinya jika hanya dipermasalahkan dengan cara yang sama seperti buku "ini" dan "itu".



Dwinda A.S
22-05-2017

Thursday, 4 May 2017

Shame,Salman Rushdie

          Shame adalah  kisah tentang seorang tokoh utama bernama Omar Khayyam Shakil. Ia dibesarkan oleh tiga perempuan yakni Chunne, Munnee, Bunny Shakil. Omar pun tumbuh tidak seperti anak-anak pada umumnya karena ia tak tahu siapa ibu kandungnya dan hanya mengetahui dirinya dibesarkan oleh ketiga wanita tersebut. Cerita semakin menarik tatkala Salman mengambil latar sebuah kota imajinatif bernama Q. yang sebenarnya merupakan interpretasi kota Quetta di Pakistan, sebagaimana hal itu diakui sang penulis di tengah cerita.
        
        Kemudian seiring cerita berjalan, munculah sosok Iskander Harappa dan General Gaza Hyder. Yang pertama seorang politisi "playboy" . Lalu yang kedua adalah anggota militer yang baru dipromosikan pangkatnya. Namun kemudian secara ironis tersangkut kasus pembunuhan. Pembunuhan yang memakan korban "anak kedua" dari Chunne, Munnee, Bunny Shakil yakni Babal Sakil.

          Dalam buku ini, Salman memetakan kondisi politik Pakistan dengan cerdas dan menghibur. Tak jarang ia memunculkan humor-humor sarkasnya, namun tak lepas ada juga tragedi yang membuat kita tak habis pikir bagaimana hal itu bisa sampai terjadi. Hingga pada akhirnya kisah ini terasa seakan-akan tak ubahnya sebuah sindiran akan hal-hal memalukan yang sering terjadi dalam kehidupan kita secara sadar atau pun tak sengaja. Yang jelas dalam buku ini, Salman mengajarkan kita untuk tetap tahu malu.

Dwinda.A.S
06-05-2017

Saint Petersburg

          Sebulan yang lalu, dunia dihebohkan dengan ledakan bom di St.Petersburg, Rusia. Tidak sedikit korban meninggal dan luka-luka akibat bom tersebut. Semua pihak mengutuk keras aksi terorisme tersebut, dan sama halnya pun dengan saya. Hal itu benar-benar menjadi pukulan telak bagi "ibukota utara" (julukan St.Petersburg). Atas tragedi itu, saya ingin menceritakan secuil kisah tentang kota ini. Kota yang telah memberi banyak arti untuk saya.

         Pertama kali menginjakan kaki disini, saya ingat kala itu pukul 5.15 pagi. Saat itu bulan November, suhu sudah minus dan untuk bocah berumur 19 tahun itu seperti melihat belahan dunia baru yang sebelumnya tak terlintas dalam benaknya. Orang-orang bilang ini kota budaya, pelajar, musium, sejarah hingga pahlawan. Saya justru penasaran mengapa penulis-penulis besar banyak berasal dari sini. Berasal dari sini yang saya maksud, bisa lahir dan tumbuh disini, atau menghabiskan hidupnya  di Petersburg. Sebut saja Pushkin, Tolstoy, Lermontov, Gogol hingga Dostoevsky pernah menghabiskan masa hidupnya disana. Dostoevsky jelas menggambarkan setiap sudut kota St.Petersburg di dalam buku-bukunya. Nikolai Gogol tak luput untuk mempersembahkan sebuah cerpen berjudul "Nevsky Prospekt", yakni sebuah jalan di jantung kota Petersburg dimana para Piterburger (sebutan penduduk kota Petersburg) berjalan-jalan, bekerja, atau melepas kepenatan sehabis beraktifitas. Kota ini juga merefleksikan sejarah kelam dari masa blokade Nazi, dibalik bangunan-bangunan dengan gaya arsitektur yang menawan. Petersburg diam-diam sebenarnya menyimpan kepiluan di sudut kanal-kanal, di setiap aliran sungai yang membelah kota, bahkan di setiap katedral-katedral yang berdiri di pusat kota. Semua menjadi saksi bisu, betapa perang dunia itu menyengsarakan. Dan memiliki kepala negara diktator tak ubahnya  sebuah masa yang tak kalah kelam. Sekiranya kelam dan indah itu bercampur di langit  kota Petersburg yang kerap diselimuti awan mendung.

        Dari kota pelabuhan ini pula saya mengenal karya-karya Fyodor Mikhailovich Dostoevsky dan Mikhail Bulgakov. Nama yang terakhir memang tak besar dan menghabiskan hidupnya di ibukota utara. Dostoevsky menceritakan tentang masa-masa keterasingan, kaum-kaum yang terpinggirkan dalam spektrum yang amat realis. Bulgakov puntak kalah tragis, tatkala ia  mengambil fragmen- fragmen masa kelam pemerintahan Soviet. Pembaca dipaparkan sebuah realita yang tak biasa. Hingga kini mengenalnya dengan istilah realisme magis. Maka rasanya dua sosok ini amat merepresentasikan Saint Petersburg untuk saya pribadi. Untuk kota yang memberikan pelajaran hidup yang se-realistis mungkin dalam atmosfir magis di setiap mendung yang menyelimuti *Gorod Geroi Sankt Peterburg.

Dwinda.A.S
04-05-2017

         
*Gorod Geroi Sankt Peterburg = Kota Pahlawan Saint Petersburg
     

Tuesday, 25 April 2017

Neramo (II: Sang Eksekutor)

          Aroma  pasta Amatriciana* menyebar ke seluruh ruang dapur Renzo Caravetta. Ia baru saja selesai memasak makan siang bersama Barbara Caravetta, istrinya. Mereka segera menata meja makan, kemudian duduk mengambil ancang-ancang untuk menyantap makan siang.
         
         "Alora*, waktunya makan", ujarnya kepada Barbara.

         " Selamat makan!", jawabnya sembari mengambil garpu lalu menyantap pasta. Renzo Caravetta menyalakan televisi dan mengganti beberapa kanal. Namun kali ini, siaran berita siang dihiasi dengan berita mundurnya Perdana Menteri Francesco Martello seusai hasil referendum yang digelar di seluruh negeri terkait perubahan sistem parlemen. Sesekali Renzo dan Barbara tampak mengomentari berita tersebut.
 
        Neramo sudah kembali ke kandangnya dan menanti makanan dari  tuannya. Ia kelelahan setelah membuntuti seekor kucing milik keluarga Martino, pemilik kedai pizzeria* yang cukup tersohor di kota Moltia. 

         Siang itu, kota Moltia mendung diselimuti awan kelam nan pekat. Seantero kota seakan-akan menangkap sinyal marabahaya tentang sebuah rencana pembunuhan yang telah dipersiapkan Alessandro Petrovich. Ia seorang keturunan Russo-Italiana berparas dingin. Di usianya yang hampir menginjak separuh abad, kharisma dan ketampanannya tidak memudar sedikitpun. Ia  merupakan rekan kerja Renzo Caravetta dalam proyek renovasi Stadion Leandro Belotti. Namun semua itu tinggal masa lalu dan kini yang tersisa tinggal ambisi untuk menghabisi Renzo Caravetta.

             Suara scooter Piaggio milik Alessandro Petrovich melaju menuju rumah Renzo Caravetta. Sang eksekutor telah tiba dengan berbagai rencana di dalam kepalanya. Ia memarkir scooternya lalu berjalan perlahan ke arah pintu rumah dan menekan bel. (Bersambung)

 
*Pasta Amatriciana = Jenis pasta dengan saus tomat dan potongan panchetta.
*Alora = Baiklah
*Pizzeria = Kedai Pizza


(Oleh : Nat.A.Chaniago)
25-04-2017

Thursday, 20 April 2017

Neramo (I)

“Por todas tus mentiras, mamino. Gracias”

(I)

           Renzo Caravetta sedang memberi makan anjingnya pada suatu sore yang tenang di pekarangan rumahnya. Seperti kebiasaan seusai jam kerja, pria paruh baya berkacamata tersebut menaruh beberapa tulang untuk anjing jalanan kesayangannya, Neramo. Tak perlu waktu lama bagi Neramo memakan tulang yang diberikan tuannya tersebut. Ia melahap dengan cepat saking kelaparan sehabis menjelajahi via Toledo sepanjang hari.

           Neramo merupakan anjing yang tak biasa dengan satu mata di wajahnya. Suatu ketika ia terlibat perkelahian sengit dengan segerombolan anjing jalanan. Sayangnya, Neramo tak memiliki nyali sebesar anjing-anjing jalanan pada umumnya. Kejadian itu merenggut mata kanannya. Tragedi itu mengubah Neramo semenjak saat itu.

             Keesokan paginya, Neramo berjalan menelusuri gang di dekat pusat kota. Guratan mentari menembus celah-celah bangunan dan menerangi setiap sudut jalan. Ia terus berjalan di dalam kesunyian yang mengiringi langkahnya, hingga menyisakan kesendirian. Sampai di ujung jalan, dia berhenti lalu menatap sesuatu yang membuat dia terpaku.

          Ada sesosok mahluk asing yang tak pernah ia jumpai sebelumnya. Setiap ia berjalan menelusuri Via Toledo, hanya hiruk pikuk manusia berjalan dengan cepat, bising deru motor menusuk telinga serta pedagang-pedagang imigran menjajakan barang dagangannya. Pandangannya kali ini terpaku pada seekor kucing angora berbulu tebal yang melintas di depan muka lusuhnya. Neramo tidak bisa berhenti menatap kucing itu. Warnanya coklat muda, dengan kalung berwarna hitam di lehernya sebagai tanda dari sang pemilik. Kucing tersebut berjalan menyebrangi jalan trotoar dan Neramo melangkah perlahan sembari mengamatinya. Rasa penasaran menjalar di kepalanya. ( bersambung )

*via Toledo = jalan Toledo

Oleh: Nat.A.Chaniago
09-04-2017

Pemberitahuan

Dengan ini saya ingin memberitahukan jika cerita Neramo yang semula direncanakan akan dipublikasikan di wep PPI Calabria. ( http://ppicalabria.org/2017/04/12/neramo/)

maka akan dipublikasikan di iramaaksara.blogspot.com

Keputusan ini diambil karena pertimbangan satu dan lain hal. Terimakasih.

Divertiti
Dwinda.A.S (Nat.A.Chaniago)

20-04-2017

Thursday, 13 April 2017

Jaguar Smile : A Nicaraguan Journey, Salman Rushdie

Saya sedang mencari buku yang tak terlalu tebal saat itu, sekadar pelepas penat diantara rutinitas mengamati batu-batu, lalu pergumulan mencari setan beserta kroni-kroninya juga mulai memerlukan sedikit rehat sementara. Hingga akhirnya saya melihat buku Jaguar Smile: A Nicaraguan Journey yang ditulis oleh Salman Rushdie di rak buku perpustakaan kampus dan tanpa pikir panjang segera saya lahap habis seharian di perpustakaan saat itu juga.

Buku ini adalah karya non-fiksi yang ditulis Salman seusai mengunjungi Nikaragua pada Tahun 1987. Pengalaman perjalanannya selama disana, kemudian perjumpaannya dengan para politisi dan orang-orang penting kian memperlihatkan gambaran situasi politik Nikaragua di masa itu. Belum lagi dalam penggarapan buku ini, Salman baru saja kembali dari jeda panjangnya setelah proses penggarapan Satanic Verse . Buku ini juga memperlihatkan sisi akademis seorang Salman Rushdie  yang notabene-nya seorang ahli sejarah. Cara penuturan penggunaan bahasanya pun jauh lebih realis namun tetap sarkastik (seperti biasanya) sebagaimana gaya khas di dalam karya-karyanya. Salman menceritakan bagaimana Nikaragua saat itu benar-benar diguncang oleh kehadiran Amerika Serikat yang menentang gerakan beraliran kiri Sandinista National Liberation Font (FSLN). Kepemimpinan diktator Anastasio Somoza Debayle juga menjadi topik yang tak luput dalam pengamatannya. Nikaragua seperti target berburu "Jaguar-jaguar tirani".

Dalam buku non fiksi perdananya kali ini, ia cenderung menggunakan bahasa yang amat ringan. Sekiranya judul senyuman jaguar pada akhirnya terasa sebuah metafora. Metafora tentang sebuah "jaguar-jaguar tirani" yang diam dan kelaparan mencari mangsa di tanah Nikaragua. Mereka sedang tersenyum.


Dwinda.A.S
13-04-2017






Friday, 7 April 2017

László Krasznahorkai

            Mendengar Hungaria, saya sama sekali tak punya bayangan apapun tentang negara ini. Budapest adalah satu-satunya hal yang saya tahu dari negri ini. Selain bahasanya yang tak se-familiar negara-negara di eropa, bagaimana pula bisa terbesit pikiran untuk mengenal seorang  penulis paruh baya dari sebuah kota kecil bernama Gyula?

          Perkenankan saya memberikan sebuah narasi tentang jagoan baru saya ini. Namanya  László Krasznahorkai.  Kesan pertama mendengar nama itu, tentu bukan hal sederhana dan hal itu diakui oleh sang penulis  dalam sebuah wawancara di kanal youtube. Ia sempat bilang jika namanya sedikit sulit diucapkan. Entah mengapa bagi saya pribadi,  namanya justru terdengar indah. Entah karena saya tak pernah mendengar  "László" bahkan pula "Krasznahorkai" sekalipun. Perpaduan keduanya terdengar amat elegan namun tetap memiliki kesan misterius

         Sosoknya kini menjadi buah bibir dimana-mana.  Bukunya "Satantango" berhasil keluar sebagai pemenang dalam penghargaan Man Booker Prize 2015. Dirinya pun kerap disandingkan dengan Nikolai Gogol, dan Franz Kafka.  Hal ini tentunya menjadi magnet tersendiri bagi khalayak umum dalam melihat  Hungaria dan dunia kesusastraannya. Jujur saya penasaran, dan beruntung dengan keberadaan mbah google,  saya bisa menggali siapa itu László.

       Penantian saya mencari karya-karyanya akhirnya berakhir di sebuah toko buku di daerah termini, Roma.  Buku tersebut berjudul "Seiobo There Below". Buku  ini bercerita tentang 12 narasi episodik tentang seniman-seniman di beberapa negara, kemudian László menciptakan tokoh historikal dan fiksional yang saling berkaitan pada Seiobo itu sendiri. Sejujurnya, ini bukan buku yang mudah mudah untuk langsung dicerna. Karena di dalam penceritaanya, sarat dengan kalimat narasi yang panjang,  lalu diksi-diksi yang cukup berat. László seakan-seakan tidak peduli dengan plot dan lebih menonjolkan narasi dalam cerita ini. Dan yang menarik.... Ia sempat memasukan memasukan unsur-unsur bilangan Fibonacci. Hal ini sedikit mengingatkan saya kepada Jorge Luis Borges yang kerap  memasukan elemen matematika pada karyanya.

       Selesai dengan Seiobo, saya beranjak ke Satantango. Buku yang membuat László memenangkan penghargaan Man Booker Prize 2015. Awal kisah dibuka oleh seorang tokoh bernama Futaki. Ia terbangun oleh suara bel misterius dari sebuah gereja yang terletak tak jauh dari tempat tinggalnya. Lalu cerita bergulir dan berkembang. Perlahan  muncul tokoh-tokoh menarik dimulai Nyonya Schmidt, Nyonya Kraner, Petrina hingga laba-laba. László menjabarkannya dengan lebih sederhana namun sesekali tetap memunculkan kalimat narasi panjang, dengan penjelasan detail yang indah, sesekali depresif dan impresif yang mengakibatkan bukunya habis saya baca dalam beberapa hari saja. László seperti menghisap perlahan-lahan pembaca dengan setiap detail kalimat yang ia tulis. Ada sedikit nuansa aura realisme magis dalamnya dan lebih kurang mengingatkan saya pada karya klasik "Master & Margarita" dari Mikhail Bulgakov.

     Ada yang satu hal yang mencari perhatian saya ketika  menyaksikan rekaman pidato saat László menerima penghargaan Man booker Prize tahun 2015. Ia membacakan teks narasi yang ia tulis pada secarik kertas. Di kertas ia membacakan  ungkapan terimakasihnya mulai kepada guru-gurunya semasa sekolah, Franz Kafka dan novel-nya "The Castle yang ia baca ketika berusia 12 tahun, italian renaissance, Fyodor Dostoevsky, Jimi Hendrix, Beatles, Rolling Stone, William Faulkner,  hingga alam semesta juga tak lupa untuk ia sebutkan. Hingga sepenggal kalimat penutup yang mengakhiri pidatonya.

"To nature which was created to Prince Budha Siddharta, to the Hungarian language, to God."


Dwinda.A.S
08-04-2017














Tuesday, 21 February 2017

Ia tak ingin cepat mengerti.

Tiga tahun lalu di "Rumah Buku",  Nevsky Prospekt,  seorang pemuda tanggung sedang menggerutu karena tak kunjung paham sebuah buku yang ia ambil dari rak buku di bagian literatur berbahasa Inggris. Buku yang ia ambil berjudul "Idiot" karya Fyodor Dostoevsky. Rasa penasarannya terhadap buku tersebut kian menjadi-menjadi setelah guru bahasa rusianya berkata jika buku itu merupakan salah satu karya agung dalam kesusasteraan Rusia dan namanya tersohor pula di berbagai belahan dunia.  Ia mencoba untuk menguji kebenaran hal tersebut.


Seperti kebiasaannya di akhir pekan, atau waktu luang atau bahkan saat ia membolos jam pelajaran di kampusnya, kali ini ia menghabiskan akhir hari di toko tersebut. Raut mukanya mengerut, melihat nama-nama judul buku yang aneh dan tidak biasa pada rak buku itu. Mengapa bisa terpikir untuk memberikan judul buku "One Hundred years of Solitude", "The Stranger",  "The Horla", "Sputnik Sweetheart', "1984", "Hunger", "Lolita"? Apa yang ada dibenak para penulis-penulis itu ketika memutuskan untuk memberi judul-judul itu pada karya mereka? Itu memang hal yang baru bagi pemuda itu, namun tanpa ambil pusing dan pemuda itu memilih melanjutkan buku "Idiot" (Apalagi judul buku ini? Tak ada impresi positif sedikit pun dari namanya) yang sedang ia genggam .

 Demi memuaskan rasa ingin tahunya, ia memutuskan membeli buku tersebut. Pelan-pelan ia berpikir jika mungkin level intelektualitasnya masih rendah untuk mengerti buku yang dirilis pada pertengahan tahun 1860-an tersebut. Tanpa berpanjang lebar, buku tersebut ia baca hingga tuntas. Buku sudah dibeli, cerita habis dibaca, bukan berarti rasa penasarannya menjadi terjawab.  Dalam pemahamannya, yang notabenenya seorang remaja berusia 19 tahun, kisah "Idiot" tak lebih dari cerita tentang seorang pangeran yang baru kembali ke kampung halamannya setelah melewati masa rehabilitasi di Swiss, dan sisanya? Ia tak menemukan keistimewaan sedikitpun di dalam buku tersebut. Buku tersebut pun lalu bertengger di rak buku kamarnya dan tak pernah disentuhnya lagi hingga kurun waktu yang lama.

Tiga tahun setelahnya, banyak hal terjadi di dalam kehidupannya. Pemikiran semakin dewasa, sudut pandang lambat laun meluas, dan rasa adiktif terhadap buku yang kian tak tertahan membuat si pemuda tersebut semakin intens mengkonsumsi buku-buku yang sebelumnya hanya membuat dahinya mengerut. Ia tak lagi mempertanyakan betapa anehnya judul buku "100 Tahun Kesendirian", "The Stranger", "The Horla", "Sputnik Sweetheart", "1984", "Lapar", "Lolita" dan "Idiot". Banyak hal yang akhirnya membuat ia mulai bisa menikmati  dan mau mengerti konsep-konsep pemikiran mulai dari "Realisme Magis", "Nihilisme", "Eksistensialisme", "Distopia", "Satir", "Naturalisme" hingga "Picaresque" sekalipun. Semua ide-ide gila penulis-penulis klasik itu menjelma seperti sebuah kotak pandora yang dipenuhi segala harta karun dan ide brilian yang perlahan - perlahan membuatnya sepakat dan memahami jika pada akhirnya karya-karya para "mumi-mumi literatur" tersebut memang pantas menjadi karya monumental dan sepatutnya diakui dunia. Hingga pada akhirnya, ia sadari jika ia tak perlu untuk cepat-cepat mengerti tentang segala kebingungannya, jika ternyata rasa keingin tahuannya terus membuatnya bisa bersenang-senang untuk terus menjadi pembaca amatir.





Dwinda.A.S
21-02-2017

Wednesday, 15 February 2017

Tolima

Tuve un sueño...
En este sueño, estábamos ahí ...
Eso fue una felicidad y lo mejor de esta vida...
Construyendo el laberinto...

Pero me olvidé, que estaba en el laberinto..
Traté de encontrar la pista..
Para encontrar la salida...
Y entonces, esa tormenta llegó...

Casi lo hago realidad..
Te di mi aliento..
Pero mi aliento es demasiado pequeño para ti..
Entonces, eso depende de mí aquí..

Todavía me quedo en este laberinto...
Este laberinto del Tolima..
Por todas las mentiras..
Todavía estoy y me siento igual
En el laberinto del Tolima..

Dwinda.A.S
09-02-2017

Thursday, 9 February 2017

Los dos reyes y los dos laberintos (Jorge Luis Borges)

      Cuentan los hombres dignos de fe (pero Alá sabe más) que en los primeros días hubo un rey de las islas de Babilonia que congregó a sus arquitectos y magos y les mandó construir un laberinto tan perplejo y sutil que los varones más prudentes no se aventuraban a entrar, y los que entraban se perdían. Esa obra era un escándalo, porque la confusión y la maravilla son operaciones propias de Dios y no de los hombres. Con el andar del tiempo vino a su corte un rey de los árabes, y el rey de Babilonia (para hacer burla de la simplicidad de su huésped) lo hizo penetrar en el laberinto, donde vagó afrentado y confundido hasta la declinación de la tarde. Entonces imploró socorro divino y dio con la puerta. Sus labios no profirieron queja ninguna, pero le dijo al rey de Babilonia que él en Arabia tenía otro laberinto y que, si Dios era servido, se lo daría a conocer algún día. Luego regresó a Arabia, juntó sus capitanes y sus alcaides y estragó los reinos de Babilonia con tan venturosa fortuna que derribó sus castillos, rompió sus gentes e hizo cautivo al mismo rey. Lo amarró encima de un camello veloz y lo llevó al desierto. Cabalgaron tres días, y le dijo: “¡ Oh, rey del tiempo y substancia y cifra del siglo!, en Babilonia me quisiste perder en un laberinto de bronce con muchas escaleras, puertas y muros; ahora el Poderoso ha tenido a bien que te muestre el mío, donde no hay escaleras que subir, ni puertas que forzar, ni fatigosas galerías que recorrer, ni muros que te veden el paso”.            Luego le desató las ligaduras y lo abandonó en mitad del desierto, donde murió de hambre y de sed. La gloria sea con Aquel que no muere.


Jorge Luis Borges

(El Aleph) (16-06-1939)









Sunday, 5 February 2017

Darf ich fragen (Bolehkah saya bertanya?)

Berlin sangat dingin senja itu. Temperatur turun hingga minus empat. Dua orang imigran Suriah sedang duduk dan berbincang bersama para imigran-imigran lainnya di kamar para imigran. Zuhair duduk diatas kasurnya menahan lapar menanti jam makan siang di asylum Siegerstrasse. Ia baru tiba tiga hari di jerman bersama para imigran-imigran Suriah lainnya. Namun tampaknya mereka masih harus bergulat dengan kebiasaan, makanan, bahasa dan penyesuaian yang memerlukan waktu demi waktu.
“Perutku sudah meronta-ronta ini”, katanya dalam kepada Omar.
“Sabar, sebentar lagi juga datang waktunya”, tanggap Omar.
“Ini sudah hari ketiga kita disini, dan ku tak tahu bagaimana berikutnya hidup ini akan berlanjut”, kata Zuhair.
“Yasudah, biarkan saja. Toh seiring waktu kita akan memahami ini. Nikmati saja.” jawab Omar.
“Aku tak betah disini. Bicara dengan bahasa yang sungguh asing ini, lalu makanan yang tak enak. Semua tak lepas dengani sosis lalu roti. Lama-lama darah tinggi aku dibuatnya” gerutu Zuhair.
Tak lama berselang terdengar ketuk pintu di luar kamar mereka dan seorang kemudian petugas asylum datang dan memberitahukan jika waktu makan siang telah tiba. Zuhair dan Omar segera mengantre makanan bersama para imigran lain dan menyantap makan siang mereka. Menu hari itu adalah roti, sosis, semangkuk sup, sebuah apel dan segelas air. Tak butuh waktu lama untuk Omar menghabisi makanannya karena lapar yang sudah tak tertahankan namun beda halnya dengan Zuhair yang terlihat tak bergairah sama sekali untuk memakannya. Ia  hanya menyantap sup dan apel lalu mengacuhkan roti dan sosis

Zuhair menengok sekelilingnya dan melihat seorang petugas lalu bertanya,  “Bolehkah saya bertanya? Saya ingin menukar sosis ini dengan makanan lain. Saya  sungguh tak bisa memakannya.”
“Tidak ada, setiap menu yang dimasak sudah diperhitungkan setiap detailnya. Ada masalah apa dengan makanannya?”, tanya petugas itu.
“Saya tidak bisa untuk menyantap makanan ini. Rasa sosisnya aneh belum lagi rotinya sangat keras sekali.” jelas Zuhair.
“Sudah baik kau diterima dan diberi makan disini, masih belum cukupkah itu? Ini semua lebih baik ketimbang kau harus hidup dalam ketakutan dan kepanikan di negaramu. Nikmatilah semua keasingan walau kadang itu sulit membuat perutmu kenyang ”, tegas sang petugas.
“Baiklah.”, jawab Zuhair berusaha mengakhiri perdebatan.
“Perkara akan kumakan atau kusimpan sosis ini soal nanti. Rasa dan bentuknya sungguh membuatku tak berselera. Ingin rasanya aku muntah setiap kali potongan sosis ini sampai di kerongkonganku. Asylum ini bisa membuatku gila lama-lama”, katanya dalam hati.
Dan kedua imigran Suriah itu kembali masih terus bergulat  dan menyesuaikan hidup mereka dengan hidup baru di ibukota jerman. Satu pertanyaan dan rentetan pertanyaan lainnya akan terus bermunculan dalam hari-hari mereka disini.


-Dwinda Aryo-
26-11-2016

Thursday, 2 February 2017

Bez Nazvaniye

Pochemu eto slishkom tyazheloye?
Ya voobshye nye znayu vashu prichinu.
Do sih por, ya nye mogu chuvstvovat. 


Ti zhivyosh luchshyee tam.
No samom dele ya dolzhno eto ponimat.
No kak eto vylechit? Ya ne kogda ne znayu, chestno.

Eta luchshaya vyesh v moyei zhizni.
Ya gorzhus tem, chto ya borolsya za nashu mechtu.
U menya net nichego, chto budet kogda-libo izmenit eto pamyat.


Ya nye otdayu svoyu zhizn za predatelya, tochno..




Двинда А.С
30-01-2017

Tuesday, 31 January 2017

Hal Aneh

Penonton selalu punya peran ganda sebagai penilai, pengamat sekaligus hakim ketika menyaksikan pertunjukanku. Ada yang berdiri santai kemudian bermurah hati menyisihkan uang di saku mereka, ada tampak serius mengamati, ada yang sibuk berkomentar, dan ada pula yang berportensi menjadi distraksi di tengah  setiap pertunjukan sulapku. Potensi itu bukan datang dalam rupa gadis cantik berpakaian sexy tapi justru bocah-bocah kecil nan lugu. Mereka gemar sekali mengotak-atik perlengkapan sulapku.

Pukul 10.00 pagi hari di Corzo Mancini tepatnya di depan sebuah gerai toko pakaian, aku mulai mempersiapkan semua perlengkapan sulap. Khalayak mulai berdatangan, perlahan membentuk kerumunan menanti pertunjukan dimulai. Tak terasa hari ini sudah hampir genap setahun profesi ini kujalani. Trik demi trik sulap terus kupelajari. Namaku kian tenar di pusat kota, dan menjadi bahan pembicaraan setiap kali penonton terkesima dengan trik-trik sulapku. Trik sulap kartu, menghilangkan koin dan uang kertas, hingga menebak angka dari penonton adalah menu harian. Tapi tanpa kusadari, akan ada suatu kejutan aneh yang menanti hari ini.

"Selamat pagi saudara-saudari sekalian! Selamat datang di pertunjukan sulap Massimo Clementi!", Sapaku kepadaku penonton.
"Hari ini akan ada trik sulap baru istimewa untuk kalian!", tambahku.

Kukeluarkan topi fedora warna coklat tua milikku, kemudian kupastikan kepada khalayak jika di dalamnya kosong tanpa ada isi apapun. Kutaruh kain putih, lalu kuucap mantra sulap kemudian menunjukan isi topiku kepada penonton. Dengan penuh rasa percaya diri kutunjukan isi topiku kepada penonton. Suasana mendadak hening seperti baru saja tragedi tragis.
Perlahan gelak tawa penonton ramai terdengar, dan aku mulai bingung. Seharusnya merpati putih itu sudah akan keluar dari dalam topi itu, namun ternyata tidak sehelai bulu pun muncul disana. Aku masih mencoba memasang raut muka percaya diri dengan wajah yang sedikit memerah pasca insiden itu. Ini benar-benar membingungkan. 
"Alangkah baiknya kau belajar sulap lagi, Massimo! Kemudian kau cari tahu bagaimana menangkap merpati itu. Dasar payah !",  ledek salah satu  penonton.
Aku terdiam. Mulutku terkunci, sembari memikirkan apa yang telah terjadi. Perlahan-lahan mempersiapkan trik berikutnya. Namun tak berselang beberapa detik, ada keanehan yang muncul di dalam topi fedora yang kupakai. Terdengar suara menciap mirip seperti ayam. Penonton yang sudah kehilangan rasa simpatik dan perlahan meninggalkanku, mendadak menoleh ke arahku. Wajahku yang sempat memerah mulai berubah diselimuti rasa percaya diri. Perlahan aku melangkah ke arah penonton yang masih tersisa dan kuperlihatkan isi topiku. Lalu serentak keluarlah seekor merpati hitam dari dalam dengan suara  menciap-ciap seperti ayam. 

"Bagaimana Saudara-saudari sekalian? Kita lanjut ke pertunjukan berikutnya ",  ujarku dengan penuh bangga.

Penonton diam terkesima, tak perlu waktu lama sebelum meledak tepuk tangan riuh  penonton. Segala cemooh dan sindiran berubah seketika dalam bentuk sebuah aksi konkret. "Tapi mengapa merpati hitam?", pikirku. Lebih anehnya merpati ini menciap seperti anak ayam pula. Yang benar saja. Seingatku tadi malam aku mempelajari trik sulap merpati seperti halnya pesulap-pesulap pada umumnya. Entahlah. Mungkin itu akibat kolaborasi dengan whiskey yang kutenggak semalam.



Dwinda.A.S
29-01-2017


"Por todas las mentiras"

"Estoy orgulloso de luchar contra esa promesa. Nada cambiará y nunca cambiará hasta que muera, ñañiño. Nyekkk ~~~~"  :)


Sunday, 29 January 2017

Remorse for Any Death (Jorge Luis Borges)

I have committed the worst of sins
One can commit. I have not been
Happy. Let the glaciers of oblivion
Take and engulf me, mercilessly.

My parents bore me for the risky
And the beautiful game of life,
For earth, water, air and fire.
I failed them, I was not happy.

Their youthful hope for me unfulfilled.
I applied my mind to the symmetric
Arguments of art, its web of trivia.

They willed me bravery. I was not brave.
It never leaves me. Always at my side,
That shadow of a melancholy man.



By: Jorge Luis Borges, 1976

Thursday, 26 January 2017

Berdamai dengan Gitar

Kemampuan saya bermain alat musik gitar tak berkembang sebagaimana mestinya. Bagaimana tidak? Dalam kurun waktu bertahun-tahun mempelajarinya, permainan saya tak  kunjung berkembang sesuai harapan. Hal itu berbalik menjadi rasa frustasi yang terus menghantui diri sendiri. Dan itu sama sekali bukan sesuatu yang menyenangkan, hingga kadang keinginan gantung gitar muncul dalam pikiran.

Jika dikira bermain gitar bisa memompa eksistensi dan aktualisasi diri ke level yang lebih "keren", maka lain halnya bagi saya. Saya kerap diselimuti rasa penasaran. Berkat nama-nama dibawah ini, saya menjadi berubah pikiran. Permainan mereka selalu menemani, mengganggu, hingga menghantui telinga saya dengan gaya permainan, gubahan, "isian" gitar atau apapun termin yang mewakili permainan gitar mereka. Mereka selalu sukses membuat saya mengurungkan keinginan tersebut.

Persetan-lah dengan perasaan inferior karena keterbatasan skill (meskipun itu hal penting juga), toh selama  gitar  ini masih bisa digenjreng, dimainkan dan masih pantas dinikmati maka tidak ada salahnya tetap bersenang-senang seperti pahlawan-pahlawan gitar saya ini. Saya pun merasa perlu mengapresiasi karya mereka, hingga lahirlah daftar  dibawah ini yang murni dibuat berdasarkan selera, dan kekaguman personal kepada :

1. Saleh bin Husein (WSATCC & The Adams)
Pertama kali mengenal karyanya itu semasa di bangku sekolah menengah. Ale (begitu dia dipanggil) bersama bandnya White Shoes and The Couples Company manggung di sekolah saya waktu itu. Kemudian saya mulai mendengarkan bandnya yang lain yakni The Adams. Semenjak itu saya mulai menikmati permainannya. Jika di WSATCC dia terasa  bluesy dan jazzy, maka semua itu berubah ketika di The Adams. Dia membalut permainannya dengan Overdrive atau distorsi yang gahar. Kekaguman saya kian bertambah melihat karya visual art ciptaannya. 

2. Andi Sabarudin (ex The Upstairs, ex Cmon Lennon, ex Seaside, ex Blossom Diary, ex Pandai Besi  Whistler Post)
Yang satu ini merupakan sosok "Cult" bagi saya. Dia menciptakan warna yang berbeda-beda di setiap band yang pernah disinggahinya. Berdiri statis sembari menghentakan kaki kanannya selalu membuat saya tercengang menonton pertunjukannya. Saya merasa amat beruntung besar di masa ketika dia sangat aktif bersama band-band Shoegaze dan indiepop nya. Tak perlu penjelasan panjang untuk bisa menikmati Andi Hans di atas panggung bersama gitar offset ciri khasnya. Dia membawa shoegaze ke tatanan yang lebih luas. Jika di luar negri memiliki Kevin Shields, maka saya bangga memiliki Andi "Hans" Sabarudin di tanah air.


3. Reza Dwi putranto (Sore Band)
Sore adalah salah satu hal terpenting di hidup saya. Mereka adalah gerbang pembuka ilmu pengetahuan tentang musik dan film.  The Beatles, Steely Dan, Interpol, Tom Jobim, The Smiths, hingga Truffaut  dan Akira Kurosawa tak akan saya kenal jika saya tak sengaja membeli album Centralismo semasa SMP waktu itu. Hingga muncul pula obsesi menjadi gitaris kidal saat itu. Pertama kali melihat Ade, Echa, dan Awan sewaktu pertunjukan mereka di Hard Rock Cafe malam itu. Echa menjadi sosok yang paling antik didalam permainan gitarnya. Dia bermain menggunakan gitar kanan yang dibalik arahnya seperti Jimi Hendrix. Lalu pengalaman berkenalan di Pendulum semasa SMA dan bermain tebak-tebakan album Centralismo dan Ports of Lima kiranya akan menjadi memori indah selamanya.

4. Rey "Baker" Marshall (KPR)
Popularitas Kelompok Penerbang Roket (KPR) sudah kian meroket dan menjadi band rock papan atas yang disegani di Indonesia. Rey Marshall sang gitaris menjadi sosok yang amat berpengaruh di dalamnya. Rey Baker (singkatan dari Batak Keren) menjadi sebuah magnet yang kuat untuk saya. Sekilas akan terlihat urakan jika melihat Rey di atas panggung. Tapi rasanya itu menjadi sesuatu representasi yang sebanding jika melihat permainannya bersama KPR. Rey Baker adalah salah satu paket lengkap antara Teknik gitar dan pembawaan dirinya di atas panggung. Mungkin saya belum bisa menonton langsung tapi saya rasa aura itu tidak berbohong jika kelak bisa menyaksikannya secara langsung. 

5. Birul  Walidaini & Mardian Bagus Prakosa
Mereka bisa dibilang sepasang rival, sahabat, senior dan junior, teman sepermainan atau musuh bebuyutan. Itu semua tak mengurangi kekaguman saya dengan dua orang maestro gitar klasik ini. Terlepas dari sisi jenaka mereka diluar keseharian di konservatori yang teramat sangat saklek. Saya merasa  diberkati, karena dari mereka saya bisa mengenal karya-karya agung Segovia, Bach, Barrios, hingga  Astor Piazzola. Mereka mengedukasi saya dan memperlihatkan keindahan karya-karya komposer kalsik dunia tanpa basa-basi dibalik sisi lembut mereka.


6.  Jarwo
Sosoknya lekat dengan karakter suara vintage bersama bandnya, Naif. Dibalik sosok gondrong dan pembawaannya yang kalem, ia ternyata membekali amunisi gear yang minimalis ketika pentas di atas panggung. Dari situlah semua permainan ajaibnya bermuara.  Disalah satu wawancara Jarwo, ia menunjukan dapur gear perlengkapannya. Dan praktis Mr.J hanya membawa 2 gitar, sepasang multi efek line 6 wireless, lalu efek Digitech yang langsung diarahkan direct out ke mixer. Hal itu benar-benar membuktikan jargon "man behind the gun" benar-benar nyata adanya di tangan Fajar Endra Taruna Mangkudisasro.



Dwinda A.S
26-01-2017


Sunday, 22 January 2017

Mikhaíl Afanasyevich Bulgakov

Menikmati karya-karya Mikhail Bulgakov itu seperti berada di wahana ruang misteri yang tak bisa terduga jalan keluarnya."Master & Margarita" menjadi buku pertama yang saya baca dan tanpa basa-basi mengganggu pikiran saya waktu demi waktu. Dalam buku kedua Bulgakov ini, dia membuat dua alur cerita. Saya benar-benar dibuat terperangah dan kehabisan kata-kata setelahnya. Lebih parahnya, impresi itu terus menghantui akal rasional ini.  Rasa penasaran yang tak kunjung reda ini, lalu membawa kepada karya-karya Bulgakov selanjutnya mulai dari "A Country Doctor's Notebook" ,  "White Guard" , "A Heart of a Dog" , dan "Fatal Egg".  Cerita-cerita-ceritanya berpusar pada hal-hal yang berkaitan dengan medis, konflik perang saudara (civil war) di Soviet saat itu,  dan yang puncaknya adalah latar Jerusalem pada masa Pontius Pilatus dalam "The Master and Margarita".

Tapi tunggu dulu. Buku itu memang menjadi salah satu karya agung abad ke 20 namun proses penerbitannya memakan waktu yang amat panjang dan menyedihkan . Kondisi politik di Soviet pada masa Stalin, membuat karya ini dilarang karena mengandung unsur kritik kepada pemerintah kala itu. Butuh waktu lebih dari tigapuluh tahun untuk bisa diterbitkan hingga menjelma menjadi karya besar pada akhirnya. Kehidupan Bulgakov juga tak kalah naas. Berlatar pendidikan seorang dokter ia justru menderita penyakit tipus sehingga membuatnya harus mengubur impiannya menjadi dokter. Tak bisa berkarir sebagai dokter, membuatnya beralih profesi menjadi penulis. Mimpi menerbitkan karya pun pupus pada rezim Stalin. Dia mencoba berkarya di Teater namun tak kunjung menemukan titik terang. Hingga akhirnya panggilan telpon dari sang presiden mengakhiri hari-hari kelam Bulgakov. Rasa-rasanya itu merupakan salah satu fase yang cukup "gila" di dalam hidupnya. Dan saya merasa amat beruntung pula berjumpa karyanya di masa yang tak kalah "gila" bagi saya di Petersburg kala itu.

Dwinda.A.S
23-01-2017