Tuesday, 25 April 2017

Neramo (II: Sang Eksekutor)

          Aroma  pasta Amatriciana* menyebar ke seluruh ruang dapur Renzo Caravetta. Ia baru saja selesai memasak makan siang bersama Barbara Caravetta, istrinya. Mereka segera menata meja makan, kemudian duduk mengambil ancang-ancang untuk menyantap makan siang.
         
         "Alora*, waktunya makan", ujarnya kepada Barbara.

         " Selamat makan!", jawabnya sembari mengambil garpu lalu menyantap pasta. Renzo Caravetta menyalakan televisi dan mengganti beberapa kanal. Namun kali ini, siaran berita siang dihiasi dengan berita mundurnya Perdana Menteri Francesco Martello seusai hasil referendum yang digelar di seluruh negeri terkait perubahan sistem parlemen. Sesekali Renzo dan Barbara tampak mengomentari berita tersebut.
 
        Neramo sudah kembali ke kandangnya dan menanti makanan dari  tuannya. Ia kelelahan setelah membuntuti seekor kucing milik keluarga Martino, pemilik kedai pizzeria* yang cukup tersohor di kota Moltia. 

         Siang itu, kota Moltia mendung diselimuti awan kelam nan pekat. Seantero kota seakan-akan menangkap sinyal marabahaya tentang sebuah rencana pembunuhan yang telah dipersiapkan Alessandro Petrovich. Ia seorang keturunan Russo-Italiana berparas dingin. Di usianya yang hampir menginjak separuh abad, kharisma dan ketampanannya tidak memudar sedikitpun. Ia  merupakan rekan kerja Renzo Caravetta dalam proyek renovasi Stadion Leandro Belotti. Namun semua itu tinggal masa lalu dan kini yang tersisa tinggal ambisi untuk menghabisi Renzo Caravetta.

             Suara scooter Piaggio milik Alessandro Petrovich melaju menuju rumah Renzo Caravetta. Sang eksekutor telah tiba dengan berbagai rencana di dalam kepalanya. Ia memarkir scooternya lalu berjalan perlahan ke arah pintu rumah dan menekan bel. (Bersambung)

 
*Pasta Amatriciana = Jenis pasta dengan saus tomat dan potongan panchetta.
*Alora = Baiklah
*Pizzeria = Kedai Pizza


(Oleh : Nat.A.Chaniago)
25-04-2017

Thursday, 20 April 2017

Neramo (I)

“Por todas tus mentiras, mamino. Gracias”

(I)

           Renzo Caravetta sedang memberi makan anjingnya pada suatu sore yang tenang di pekarangan rumahnya. Seperti kebiasaan seusai jam kerja, pria paruh baya berkacamata tersebut menaruh beberapa tulang untuk anjing jalanan kesayangannya, Neramo. Tak perlu waktu lama bagi Neramo memakan tulang yang diberikan tuannya tersebut. Ia melahap dengan cepat saking kelaparan sehabis menjelajahi via Toledo sepanjang hari.

           Neramo merupakan anjing yang tak biasa dengan satu mata di wajahnya. Suatu ketika ia terlibat perkelahian sengit dengan segerombolan anjing jalanan. Sayangnya, Neramo tak memiliki nyali sebesar anjing-anjing jalanan pada umumnya. Kejadian itu merenggut mata kanannya. Tragedi itu mengubah Neramo semenjak saat itu.

             Keesokan paginya, Neramo berjalan menelusuri gang di dekat pusat kota. Guratan mentari menembus celah-celah bangunan dan menerangi setiap sudut jalan. Ia terus berjalan di dalam kesunyian yang mengiringi langkahnya, hingga menyisakan kesendirian. Sampai di ujung jalan, dia berhenti lalu menatap sesuatu yang membuat dia terpaku.

          Ada sesosok mahluk asing yang tak pernah ia jumpai sebelumnya. Setiap ia berjalan menelusuri Via Toledo, hanya hiruk pikuk manusia berjalan dengan cepat, bising deru motor menusuk telinga serta pedagang-pedagang imigran menjajakan barang dagangannya. Pandangannya kali ini terpaku pada seekor kucing angora berbulu tebal yang melintas di depan muka lusuhnya. Neramo tidak bisa berhenti menatap kucing itu. Warnanya coklat muda, dengan kalung berwarna hitam di lehernya sebagai tanda dari sang pemilik. Kucing tersebut berjalan menyebrangi jalan trotoar dan Neramo melangkah perlahan sembari mengamatinya. Rasa penasaran menjalar di kepalanya. ( bersambung )

*via Toledo = jalan Toledo

Oleh: Nat.A.Chaniago
09-04-2017

Pemberitahuan

Dengan ini saya ingin memberitahukan jika cerita Neramo yang semula direncanakan akan dipublikasikan di wep PPI Calabria. ( http://ppicalabria.org/2017/04/12/neramo/)

maka akan dipublikasikan di iramaaksara.blogspot.com

Keputusan ini diambil karena pertimbangan satu dan lain hal. Terimakasih.

Divertiti
Dwinda.A.S (Nat.A.Chaniago)

20-04-2017

Thursday, 13 April 2017

Jaguar Smile : A Nicaraguan Journey, Salman Rushdie

Saya sedang mencari buku yang tak terlalu tebal saat itu, sekadar pelepas penat diantara rutinitas mengamati batu-batu, lalu pergumulan mencari setan beserta kroni-kroninya juga mulai memerlukan sedikit rehat sementara. Hingga akhirnya saya melihat buku Jaguar Smile: A Nicaraguan Journey yang ditulis oleh Salman Rushdie di rak buku perpustakaan kampus dan tanpa pikir panjang segera saya lahap habis seharian di perpustakaan saat itu juga.

Buku ini adalah karya non-fiksi yang ditulis Salman seusai mengunjungi Nikaragua pada Tahun 1987. Pengalaman perjalanannya selama disana, kemudian perjumpaannya dengan para politisi dan orang-orang penting kian memperlihatkan gambaran situasi politik Nikaragua di masa itu. Belum lagi dalam penggarapan buku ini, Salman baru saja kembali dari jeda panjangnya setelah proses penggarapan Satanic Verse . Buku ini juga memperlihatkan sisi akademis seorang Salman Rushdie  yang notabene-nya seorang ahli sejarah. Cara penuturan penggunaan bahasanya pun jauh lebih realis namun tetap sarkastik (seperti biasanya) sebagaimana gaya khas di dalam karya-karyanya. Salman menceritakan bagaimana Nikaragua saat itu benar-benar diguncang oleh kehadiran Amerika Serikat yang menentang gerakan beraliran kiri Sandinista National Liberation Font (FSLN). Kepemimpinan diktator Anastasio Somoza Debayle juga menjadi topik yang tak luput dalam pengamatannya. Nikaragua seperti target berburu "Jaguar-jaguar tirani".

Dalam buku non fiksi perdananya kali ini, ia cenderung menggunakan bahasa yang amat ringan. Sekiranya judul senyuman jaguar pada akhirnya terasa sebuah metafora. Metafora tentang sebuah "jaguar-jaguar tirani" yang diam dan kelaparan mencari mangsa di tanah Nikaragua. Mereka sedang tersenyum.


Dwinda.A.S
13-04-2017






Friday, 7 April 2017

László Krasznahorkai

            Mendengar Hungaria, saya sama sekali tak punya bayangan apapun tentang negara ini. Budapest adalah satu-satunya hal yang saya tahu dari negri ini. Selain bahasanya yang tak se-familiar negara-negara di eropa, bagaimana pula bisa terbesit pikiran untuk mengenal seorang  penulis paruh baya dari sebuah kota kecil bernama Gyula?

          Perkenankan saya memberikan sebuah narasi tentang jagoan baru saya ini. Namanya  László Krasznahorkai.  Kesan pertama mendengar nama itu, tentu bukan hal sederhana dan hal itu diakui oleh sang penulis  dalam sebuah wawancara di kanal youtube. Ia sempat bilang jika namanya sedikit sulit diucapkan. Entah mengapa bagi saya pribadi,  namanya justru terdengar indah. Entah karena saya tak pernah mendengar  "László" bahkan pula "Krasznahorkai" sekalipun. Perpaduan keduanya terdengar amat elegan namun tetap memiliki kesan misterius

         Sosoknya kini menjadi buah bibir dimana-mana.  Bukunya "Satantango" berhasil keluar sebagai pemenang dalam penghargaan Man Booker Prize 2015. Dirinya pun kerap disandingkan dengan Nikolai Gogol, dan Franz Kafka.  Hal ini tentunya menjadi magnet tersendiri bagi khalayak umum dalam melihat  Hungaria dan dunia kesusastraannya. Jujur saya penasaran, dan beruntung dengan keberadaan mbah google,  saya bisa menggali siapa itu László.

       Penantian saya mencari karya-karyanya akhirnya berakhir di sebuah toko buku di daerah termini, Roma.  Buku tersebut berjudul "Seiobo There Below". Buku  ini bercerita tentang 12 narasi episodik tentang seniman-seniman di beberapa negara, kemudian László menciptakan tokoh historikal dan fiksional yang saling berkaitan pada Seiobo itu sendiri. Sejujurnya, ini bukan buku yang mudah mudah untuk langsung dicerna. Karena di dalam penceritaanya, sarat dengan kalimat narasi yang panjang,  lalu diksi-diksi yang cukup berat. László seakan-seakan tidak peduli dengan plot dan lebih menonjolkan narasi dalam cerita ini. Dan yang menarik.... Ia sempat memasukan memasukan unsur-unsur bilangan Fibonacci. Hal ini sedikit mengingatkan saya kepada Jorge Luis Borges yang kerap  memasukan elemen matematika pada karyanya.

       Selesai dengan Seiobo, saya beranjak ke Satantango. Buku yang membuat László memenangkan penghargaan Man Booker Prize 2015. Awal kisah dibuka oleh seorang tokoh bernama Futaki. Ia terbangun oleh suara bel misterius dari sebuah gereja yang terletak tak jauh dari tempat tinggalnya. Lalu cerita bergulir dan berkembang. Perlahan  muncul tokoh-tokoh menarik dimulai Nyonya Schmidt, Nyonya Kraner, Petrina hingga laba-laba. László menjabarkannya dengan lebih sederhana namun sesekali tetap memunculkan kalimat narasi panjang, dengan penjelasan detail yang indah, sesekali depresif dan impresif yang mengakibatkan bukunya habis saya baca dalam beberapa hari saja. László seperti menghisap perlahan-lahan pembaca dengan setiap detail kalimat yang ia tulis. Ada sedikit nuansa aura realisme magis dalamnya dan lebih kurang mengingatkan saya pada karya klasik "Master & Margarita" dari Mikhail Bulgakov.

     Ada yang satu hal yang mencari perhatian saya ketika  menyaksikan rekaman pidato saat László menerima penghargaan Man booker Prize tahun 2015. Ia membacakan teks narasi yang ia tulis pada secarik kertas. Di kertas ia membacakan  ungkapan terimakasihnya mulai kepada guru-gurunya semasa sekolah, Franz Kafka dan novel-nya "The Castle yang ia baca ketika berusia 12 tahun, italian renaissance, Fyodor Dostoevsky, Jimi Hendrix, Beatles, Rolling Stone, William Faulkner,  hingga alam semesta juga tak lupa untuk ia sebutkan. Hingga sepenggal kalimat penutup yang mengakhiri pidatonya.

"To nature which was created to Prince Budha Siddharta, to the Hungarian language, to God."


Dwinda.A.S
08-04-2017














Friday, 24 March 2017

Tak seorangpun yang menulis kepada Kolonel (Gabriel García Márquez)

         Kolonel menemukan stoples kopi dan kemudian menguji lebih dari satu sendok teh. Dia mengangkat panci dari kompor, menuangkan sedikit air di lantai dan menggoreskan  pisau ke dalam toples pada panci hingga goresan terakhir dari kopi bubuk menyisakan buih timah oksida.


Tanggal publikasi: 1961
Diterjemahkan : Dwinda A. S
24-03-2017

*Nb: Untuk hasil terjemahan yang masih kasar, mohon maaf dikarenakan penulis terus berupaya meningkatkan pemahaman bahasa spanyol.

Thursday, 23 March 2017

El coronel no tiene quien le escriba (Gabriel García Márquez)

     El coronel destapó el tarro del café y comprobo que no habia más de una cucharadita. Retiró  la olla del fogón, vertió  la mitad del agua en el piso de tierra, y con un cuchillo raspó  el interior del tarro sobre la olla hasta cuando se desprendieron las últimas raspaduras del polvo de café revueltas con óxido de lata.

Fecha de publicación : 1961



Wednesday, 1 March 2017

You could never tell (The Horrors)

We sat in the half light
I didn't know what to say 
Oh you could never tell 
Why I do these things 
Why did I do these things 
I knew I wouldn't want to know 
I have betrayed myself 
For something poor and shallow 

She was talking about 
Something she heard
She was talking about 
Something she heard
She was talking about 
Something she heard
She was talking about 
Something she heard

Finally I'm closing in 
On what I have been chasing 
But as the moment comes 
It's just by expectation 
Ice wings of paradise 
The sky will try to follow 
That first kiss you had 
Will curse all your tomorrows 

She was talking about 
Something she heard
She was talking about 
Something she heard
She was talking about 
Something she heard
She was talking about 
Something she heard

Is it any wonder 
I easily find her 
I stand by the fountain 
When I call she answers 
Though I say 
No I don't know 
You're right

She was talking about 
Something she heard
She was talking about 
Something she heard
She was talking about 
Something she heard
She was talking about 
Something she heard

Something she heard
Something she heard
Something she heard
Something she heard
Something she heard


Tuesday, 28 February 2017

Dua Raja dan Dua Labirin

         Mereka memiliki orang yang layak iman (tapi Allah lebih tahu) daripada di hari-hari awal ada seorang raja pulau Babel yang dibawa bersama arsitek dan penyihir dan memerintahkan mereka untuk membangun sebuah labirin jadi bingung dan halus bahwa orang yang paling bijaksana tidak akan berani untuk masuk, dan mereka yang masuk hilang. Pekerjaan itu skandal, karena kebingungan dan bertanya-tanya merupakan ciri khas dari Allah, bukan dari operasi pria. Dengan berlalunya waktu datang ke pengadilan seorang raja dari orang-orang Arab, dan raja Babel (mengejek kesederhanaan tamunya) melakukan menembus labirin, di mana ia mengembara dihina dan bingung sampai sore hari tiba . Lalu ia memohon bantuan ilahi dan membanting pintu. Bibirnya diucapkan tidak ada keluhan, tetapi mengatakan kepada raja Babel di Saudi dia labirin lain dan bahwa jika Tuhan disajikan, akan merilis suatu hari nanti. Kemudian ia kembali ke Saudi, dia mengumpulkan kapten dan sipir dan Estragó kerajaan Babel keberuntungan sangat beruntung menggulingkan istana nya, pecah rakyatnya ditawan dan membuat dirinya raja. Dia diikat unta cepat dan membawanya ke padang gurun. Mereka naik tiga hari dan berkata, "Wahai raja waktu dan substansi dan abad cipher di Babel, saya ingin kalah dalam labirin perunggu dengan banyak tangga, pintu dan dinding!; Sekarang Yang Mahakuasa telah melihat cocok untuk menampilkan menambang, di mana tidak ada tangga untuk mendaki, atau pintu kekuatan, atau galeri melelahkan untuk pergi, atau dinding yang Anda langkah veden ". Kemudian ia membuka ikatan obligasi dan meninggalkan di tengah-tengah gurun, di mana ia meninggal karena kelaparan dan kehausan. Mahasuci Dia yang tidak mati.


Jorge Luis Borges

Diterjemahkan : Dwinda.A.S
(14-02-2017)

*Nb: Untuk hasil terjemahan yang masih kasar, mohon maaf dikarenakan penulis terus berupaya meningkatkan pemahaman bahasa spanyol.

Tuesday, 21 February 2017

Ia tak ingin cepat mengerti.

Tiga tahun lalu di "Rumah Buku",  Nevsky Prospekt,  seorang pemuda tanggung sedang menggerutu karena tak kunjung paham sebuah buku yang ia ambil dari rak buku di bagian literatur berbahasa Inggris. Buku yang ia ambil berjudul "Idiot" karya Fyodor Dostoevsky. Rasa penasarannya terhadap buku tersebut kian menjadi-menjadi setelah guru bahasa rusianya berkata jika buku itu merupakan salah satu karya agung dalam kesusasteraan Rusia dan namanya tersohor pula di berbagai belahan dunia.  Ia mencoba untuk menguji kebenaran hal tersebut.


Seperti kebiasaannya di akhir pekan, atau waktu luang atau bahkan saat ia membolos jam pelajaran di kampusnya, kali ini ia menghabiskan akhir hari di toko tersebut. Raut mukanya mengerut, melihat nama-nama judul buku yang aneh dan tidak biasa pada rak buku itu. Mengapa bisa terpikir untuk memberikan judul buku "One Hundred years of Solitude", "The Stranger",  "The Horla", "Sputnik Sweetheart', "1984", "Hunger", "Lolita"? Apa yang ada dibenak para penulis-penulis itu ketika memutuskan untuk memberi judul-judul itu pada karya mereka? Itu memang hal yang baru bagi pemuda itu, namun tanpa ambil pusing dan pemuda itu memilih melanjutkan buku "Idiot" (Apalagi judul buku ini? Tak ada impresi positif sedikit pun dari namanya) yang sedang ia genggam .

 Demi memuaskan rasa ingin tahunya, ia memutuskan membeli buku tersebut. Pelan-pelan ia berpikir jika mungkin level intelektualitasnya masih rendah untuk mengerti buku yang dirilis pada pertengahan tahun 1860-an tersebut. Tanpa berpanjang lebar, buku tersebut ia baca hingga tuntas. Buku sudah dibeli, cerita habis dibaca, bukan berarti rasa penasarannya menjadi terjawab.  Dalam pemahamannya, yang notabenenya seorang remaja berusia 19 tahun, kisah "Idiot" tak lebih dari cerita tentang seorang pangeran yang baru kembali ke kampung halamannya setelah melewati masa rehabilitasi di Swiss, dan sisanya? Ia tak menemukan keistimewaan sedikitpun di dalam buku tersebut. Buku tersebut pun lalu bertengger di rak buku kamarnya dan tak pernah disentuhnya lagi hingga kurun waktu yang lama.

Tiga tahun setelahnya, banyak hal terjadi di dalam kehidupannya. Pemikiran semakin dewasa, sudut pandang lambat laun meluas, dan rasa adiktif terhadap buku yang kian tak tertahan membuat si pemuda tersebut semakin intens mengkonsumsi buku-buku yang sebelumnya hanya membuat dahinya mengerut. Ia tak lagi mempertanyakan betapa anehnya judul buku "100 Tahun Kesendirian", "The Stranger", "The Horla", "Sputnik Sweetheart", "1984", "Lapar", "Lolita" dan "Idiot". Banyak hal yang akhirnya membuat ia mulai bisa menikmati  dan mau mengerti konsep-konsep pemikiran mulai dari "Realisme Magis", "Nihilisme", "Eksistensialisme", "Distopia", "Satir", "Naturalisme" hingga "Picaresque" sekalipun. Semua ide-ide gila penulis-penulis klasik itu menjelma seperti sebuah kotak pandora yang dipenuhi segala harta karun dan ide brilian yang perlahan - perlahan membuatnya sepakat dan memahami jika pada akhirnya karya-karya para "mumi-mumi literatur" tersebut memang pantas menjadi karya monumental dan sepatutnya diakui dunia. Hingga pada akhirnya, ia sadari jika ia tak perlu untuk cepat-cepat mengerti tentang segala kebingungannya, jika ternyata rasa keingin tahuannya terus membuatnya bisa bersenang-senang untuk terus menjadi pembaca amatir.





Dwinda.A.S
21-02-2017

Wednesday, 15 February 2017

Tolima

Tuve un sueño...
En este sueño, estábamos ahí ...
Eso fue una felicidad y lo mejor de esta vida...
Construyendo el laberinto...

Pero me olvidé, que estaba en el laberinto..
Traté de encontrar la pista..
Para encontrar la salida...
Y entonces, esa tormenta llegó...

Casi lo hago realidad..
Te di mi aliento..
Pero mi aliento es demasiado pequeño para ti..
Entonces, eso depende de mí aquí..

Todavía me quedo en este laberinto...
Este laberinto del Tolima..
Por todas las mentiras..
Todavía estoy y me siento igual
En el laberinto del Tolima..

Dwinda.A.S
09-02-2017

Thursday, 9 February 2017

Los dos reyes y los dos laberintos (Jorge Luis Borges)

      Cuentan los hombres dignos de fe (pero Alá sabe más) que en los primeros días hubo un rey de las islas de Babilonia que congregó a sus arquitectos y magos y les mandó construir un laberinto tan perplejo y sutil que los varones más prudentes no se aventuraban a entrar, y los que entraban se perdían. Esa obra era un escándalo, porque la confusión y la maravilla son operaciones propias de Dios y no de los hombres. Con el andar del tiempo vino a su corte un rey de los árabes, y el rey de Babilonia (para hacer burla de la simplicidad de su huésped) lo hizo penetrar en el laberinto, donde vagó afrentado y confundido hasta la declinación de la tarde. Entonces imploró socorro divino y dio con la puerta. Sus labios no profirieron queja ninguna, pero le dijo al rey de Babilonia que él en Arabia tenía otro laberinto y que, si Dios era servido, se lo daría a conocer algún día. Luego regresó a Arabia, juntó sus capitanes y sus alcaides y estragó los reinos de Babilonia con tan venturosa fortuna que derribó sus castillos, rompió sus gentes e hizo cautivo al mismo rey. Lo amarró encima de un camello veloz y lo llevó al desierto. Cabalgaron tres días, y le dijo: “¡ Oh, rey del tiempo y substancia y cifra del siglo!, en Babilonia me quisiste perder en un laberinto de bronce con muchas escaleras, puertas y muros; ahora el Poderoso ha tenido a bien que te muestre el mío, donde no hay escaleras que subir, ni puertas que forzar, ni fatigosas galerías que recorrer, ni muros que te veden el paso”.            Luego le desató las ligaduras y lo abandonó en mitad del desierto, donde murió de hambre y de sed. La gloria sea con Aquel que no muere.


Borges, Jorge Luis

(El Aleph) (16-06-1939)









Sunday, 5 February 2017

Darf ich fragen (Bolehkah saya bertanya?)

Berlin sangat dingin senja itu. Temperatur turun hingga minus empat. Dua orang imigran Suriah sedang duduk dan berbincang bersama para imigran-imigran lainnya di kamar para imigran. Zuhair duduk diatas kasurnya menahan lapar menanti jam makan siang di asylum Siegerstrasse. Ia baru tiba tiga hari di jerman bersama para imigran-imigran Suriah lainnya. Namun tampaknya mereka masih harus bergulat dengan kebiasaan, makanan, bahasa dan penyesuaian yang memerlukan waktu demi waktu.
“Perutku sudah meronta-ronta ini”, katanya dalam kepada Omar.
“Sabar, sebentar lagi juga datang waktunya”, tanggap Omar.
“Ini sudah hari ketiga kita disini, dan ku tak tahu bagaimana berikutnya hidup ini akan berlanjut”, kata Zuhair.
“Yasudah, biarkan saja. Toh seiring waktu kita akan memahami ini. Nikmati saja.” jawab Omar.
“Aku tak betah disini. Bicara dengan bahasa yang sungguh asing ini, lalu makanan yang tak enak. Semua tak lepas dengani sosis lalu roti. Lama-lama darah tinggi aku dibuatnya” gerutu Zuhair.
Tak lama berselang terdengar ketuk pintu di luar kamar mereka dan seorang kemudian petugas asylum datang dan memberitahukan jika waktu makan siang telah tiba. Zuhair dan Omar segera mengantre makanan bersama para imigran lain dan menyantap makan siang mereka. Menu hari itu adalah roti, sosis, semangkuk sup, sebuah apel dan segelas air. Tak butuh waktu lama untuk Omar menghabisi makanannya karena lapar yang sudah tak tertahankan namun beda halnya dengan Zuhair yang terlihat tak bergairah sama sekali untuk memakannya. Ia  hanya menyantap sup dan apel lalu mengacuhkan roti dan sosis

Zuhair menengok sekelilingnya dan melihat seorang petugas lalu bertanya,  “Bolehkah saya bertanya? Saya ingin menukar sosis ini dengan makanan lain. Saya  sungguh tak bisa memakannya.”
“Tidak ada, setiap menu yang dimasak sudah diperhitungkan setiap detailnya. Ada masalah apa dengan makanannya?”, tanya petugas itu.
“Saya tidak bisa untuk menyantap makanan ini. Rasa sosisnya aneh belum lagi rotinya sangat keras sekali.” jelas Zuhair.
“Sudah baik kau diterima dan diberi makan disini, masih belum cukupkah itu? Ini semua lebih baik ketimbang kau harus hidup dalam ketakutan dan kepanikan di negaramu. Nikmatilah semua keasingan walau kadang itu sulit membuat perutmu kenyang ”, tegas sang petugas.
“Baiklah.”, jawab Zuhair berusaha mengakhiri perdebatan.
“Perkara akan kumakan atau kusimpan sosis ini soal nanti. Rasa dan bentuknya sungguh membuatku tak berselera. Ingin rasanya aku muntah setiap kali potongan sosis ini sampai di kerongkonganku. Asylum ini bisa membuatku gila lama-lama”, katanya dalam hati.
Dan kedua imigran Suriah itu kembali masih terus bergulat  dan menyesuaikan hidup mereka dengan hidup baru di ibukota jerman. Satu pertanyaan dan rentetan pertanyaan lainnya akan terus bermunculan dalam hari-hari mereka disini.


-Dwinda Aryo-
26-11-2016

Thursday, 2 February 2017

Bez Nazvaniye

Pochemu eto slishkom tyazheloye?
Ya voobshye nye znayu vashu prichinu.
Do sih por, ya nye mogu chuvstvovat. 


Ti zhivyosh luchshyee tam.
No samom dele ya dolzhno eto ponimat.
No kak eto vylechit? Ya ne kogda ne znayu, chestno.

Eta luchshaya vyesh v moyei zhizni.
Ya gorzhus tem, chto ya borolsya za nashu mechtu.
U menya net nichego, chto budet kogda-libo izmenit eto pamyat.


Ya nye otdayu svoyu zhizn za predatelya, tochno..




Двинда А.С
30-01-2017

Tuesday, 31 January 2017

Hal Aneh

Penonton selalu punya peran ganda sebagai penilai, pengamat sekaligus hakim ketika menyaksikan pertunjukanku. Ada yang berdiri santai kemudian bermurah hati menyisihkan uang di saku mereka, ada tampak serius mengamati, ada yang sibuk berkomentar, dan ada pula yang berportensi menjadi distraksi di tengah  setiap pertunjukan sulapku. Potensi itu bukan datang dalam rupa gadis cantik berpakaian sexy tapi justru bocah-bocah kecil nan lugu. Mereka gemar sekali mengotak-atik perlengkapan sulapku.

Pukul 10.00 pagi hari di Corzo Mancini tepatnya di depan sebuah gerai toko pakaian, aku mulai mempersiapkan semua perlengkapan sulap. Khalayak mulai berdatangan, perlahan membentuk kerumunan menanti pertunjukan dimulai. Tak terasa hari ini sudah hampir genap setahun profesi ini kujalani. Trik demi trik sulap terus kupelajari. Namaku kian tenar di pusat kota, dan menjadi bahan pembicaraan setiap kali penonton terkesima dengan trik-trik sulapku. Trik sulap kartu, menghilangkan koin dan uang kertas, hingga menebak angka dari penonton adalah menu harian. Tapi tanpa kusadari, akan ada suatu kejutan aneh yang menanti hari ini.

"Selamat pagi saudara-saudari sekalian! Selamat datang di pertunjukan sulap Massimo Clementi!", Sapaku kepadaku penonton.
"Hari ini akan ada trik sulap baru istimewa untuk kalian!", tambahku.

Kukeluarkan topi fedora warna coklat tua milikku, kemudian kupastikan kepada khalayak jika di dalamnya kosong tanpa ada isi apapun. Kutaruh kain putih, lalu kuucap mantra sulap kemudian menunjukan isi topiku kepada penonton. Dengan penuh rasa percaya diri kutunjukan isi topiku kepada penonton. Suasana mendadak hening seperti baru saja tragedi tragis.
Perlahan gelak tawa penonton ramai terdengar, dan aku mulai bingung. Seharusnya merpati putih itu sudah akan keluar dari dalam topi itu, namun ternyata tidak sehelai bulu pun muncul disana. Aku masih mencoba memasang raut muka percaya diri dengan wajah yang sedikit memerah pasca insiden itu. Ini benar-benar membingungkan. 
"Alangkah baiknya kau belajar sulap lagi, Massimo! Kemudian kau cari tahu bagaimana menangkap merpati itu. Dasar payah !",  ledek salah satu  penonton.
Aku terdiam. Mulutku terkunci, sembari memikirkan apa yang telah terjadi. Perlahan-lahan mempersiapkan trik berikutnya. Namun tak berselang beberapa detik, ada keanehan yang muncul di dalam topi fedora yang kupakai. Terdengar suara menciap mirip seperti ayam. Penonton yang sudah kehilangan rasa simpatik dan perlahan meninggalkanku, mendadak menoleh ke arahku. Wajahku yang sempat memerah mulai berubah diselimuti rasa percaya diri. Perlahan aku melangkah ke arah penonton yang masih tersisa dan kuperlihatkan isi topiku. Lalu serentak keluarlah seekor merpati hitam dari dalam dengan suara  menciap-ciap seperti ayam. 

"Bagaimana Saudara-saudari sekalian? Kita lanjut ke pertunjukan berikutnya ",  ujarku dengan penuh bangga.

Penonton diam terkesima, tak perlu waktu lama sebelum meledak tepuk tangan riuh  penonton. Segala cemooh dan sindiran berubah seketika dalam bentuk sebuah aksi konkret. "Tapi mengapa merpati hitam?", pikirku. Lebih anehnya merpati ini menciap seperti anak ayam pula. Yang benar saja. Seingatku tadi malam aku mempelajari trik sulap merpati seperti halnya pesulap-pesulap pada umumnya. Entahlah. Mungkin itu akibat kolaborasi dengan whiskey yang kutenggak semalam.



Dwinda.A.S
29-01-2017


"Por todas las mentiras"

"Estoy orgulloso de luchar contra esa promesa. Nada cambiará y nunca cambiará hasta que muera, ñañiño. Nyekkk ~~~~"  :)


Sunday, 29 January 2017

Remorse for Any Death (Jorge Luis Borges)

I have committed the worst of sins
One can commit. I have not been
Happy. Let the glaciers of oblivion
Take and engulf me, mercilessly.

My parents bore me for the risky
And the beautiful game of life,
For earth, water, air and fire.
I failed them, I was not happy.

Their youthful hope for me unfulfilled.
I applied my mind to the symmetric
Arguments of art, its web of trivia.

They willed me bravery. I was not brave.
It never leaves me. Always at my side,
That shadow of a melancholy man.



By: Jorge Luis Borges, 1976

Thursday, 26 January 2017

Berdamai dengan Gitar

Kemampuan saya bermain alat musik gitar tak berkembang sebagaimana mestinya. Bagaimana tidak? Dalam kurun waktu bertahun-tahun mempelajarinya, permainan saya tak  kunjung berkembang sesuai harapan. Hal itu berbalik menjadi rasa frustasi yang terus menghantui diri sendiri. Dan itu sama sekali bukan sesuatu yang menyenangkan, hingga kadang keinginan gantung gitar muncul dalam pikiran.

Jika dikira bermain gitar bisa memompa eksistensi dan aktualisasi diri ke level yang lebih "keren", maka lain halnya bagi saya. Saya kerap diselimuti rasa penasaran. Berkat nama-nama dibawah ini, saya menjadi berubah pikiran. Permainan mereka selalu menemani, mengganggu, hingga menghantui telinga saya dengan gaya permainan, gubahan, "isian" gitar atau apapun termin yang mewakili permainan gitar mereka. Mereka selalu sukses membuat saya mengurungkan keinginan tersebut.

Persetan-lah dengan perasaan inferior karena keterbatasan skill (meskipun itu hal penting juga), toh selama  gitar  ini masih bisa digenjreng, dimainkan dan masih pantas dinikmati maka tidak ada salahnya tetap bersenang-senang seperti pahlawan-pahlawan gitar saya ini. Saya pun merasa perlu mengapresiasi karya mereka, hingga lahirlah daftar  dibawah ini yang murni dibuat berdasarkan selera, dan kekaguman personal kepada :

1. Saleh bin Husein (WSATCC & The Adams)
Pertama kali mengenal karyanya itu semasa di bangku sekolah menengah. Ale (begitu dia dipanggil) bersama bandnya White Shoes and The Couples Company manggung di sekolah saya waktu itu. Kemudian saya mulai mendengarkan bandnya yang lain yakni The Adams. Semenjak itu saya mulai menikmati permainannya. Jika di WSATCC dia terasa  bluesy dan jazzy, maka semua itu berubah ketika di The Adams. Dia membalut permainannya dengan Overdrive atau distorsi yang gahar. Kekaguman saya kian bertambah melihat karya visual art ciptaannya. 

2. Andi Sabarudin (ex The Upstairs, ex Cmon Lennon, ex Seaside, ex Blossom Diary, ex Pandai Besi  Whistler Post)
Yang satu ini merupakan sosok "Cult" bagi saya. Dia menciptakan warna yang berbeda-beda di setiap band yang pernah disinggahinya. Berdiri statis sembari menghentakan kaki kanannya selalu membuat saya tercengang menonton pertunjukannya. Saya merasa amat beruntung besar di masa ketika dia sangat aktif bersama band-band Shoegaze dan indiepop nya. Tak perlu penjelasan panjang untuk bisa menikmati Andi Hans di atas panggung bersama gitar offset ciri khasnya. Dia membawa shoegaze ke tatanan yang lebih luas. Jika di luar negri memiliki Kevin Shields, maka saya bangga memiliki Andi "Hans" Sabarudin di tanah air.


3. Reza Dwi putranto (Sore Band)
Sore adalah salah satu hal terpenting di hidup saya. Mereka adalah gerbang pembuka ilmu pengetahuan tentang musik dan film.  The Beatles, Steely Dan, Interpol, Tom Jobim, The Smiths, hingga Truffaut  dan Akira Kurosawa tak akan saya kenal jika saya tak sengaja membeli album Centralismo semasa SMP waktu itu. Hingga muncul pula obsesi menjadi gitaris kidal saat itu. Pertama kali melihat Ade, Echa, dan Awan sewaktu pertunjukan mereka di Hard Rock Cafe malam itu. Echa menjadi sosok yang paling antik didalam permainan gitarnya. Dia bermain menggunakan gitar kanan yang dibalik arahnya seperti Jimi Hendrix. Lalu pengalaman berkenalan di Pendulum semasa SMA dan bermain tebak-tebakan album Centralismo dan Ports of Lima kiranya akan menjadi memori indah selamanya.

4. Rey "Baker" Marshall (KPR)
Popularitas Kelompok Penerbang Roket (KPR) sudah kian meroket dan menjadi band rock papan atas yang disegani di Indonesia. Rey Marshall sang gitaris menjadi sosok yang amat berpengaruh di dalamnya. Rey Baker (singkatan dari Batak Keren) menjadi sebuah magnet yang kuat untuk saya. Sekilas akan terlihat urakan jika melihat Rey di atas panggung. Tapi rasanya itu menjadi sesuatu representasi yang sebanding jika melihat permainannya bersama KPR. Rey Baker adalah salah satu paket lengkap antara Teknik gitar dan pembawaan dirinya di atas panggung. Mungkin saya belum bisa menonton langsung tapi saya rasa aura itu tidak berbohong jika kelak bisa menyaksikannya secara langsung. 

5. Birul  Walidaini & Mardian Bagus Prakosa
Mereka bisa dibilang sepasang rival, sahabat, senior dan junior, teman sepermainan atau musuh bebuyutan. Itu semua tak mengurangi kekaguman saya dengan dua orang maestro gitar klasik ini. Terlepas dari sisi jenaka mereka diluar keseharian di konservatori yang teramat sangat saklek. Saya merasa  diberkati, karena dari mereka saya bisa mengenal karya-karya agung Segovia, Bach, Barrios, hingga  Astor Piazzola. Mereka mengedukasi saya dan memperlihatkan keindahan karya-karya komposer kalsik dunia tanpa basa-basi dibalik sisi lembut mereka.


6.  Jarwo
Sosoknya lekat dengan karakter suara vintage bersama bandnya, Naif. Dibalik sosok gondrong dan pembawaannya yang kalem, ia ternyata membekali amunisi gear yang minimalis ketika pentas di atas panggung. Dari situlah semua permainan ajaibnya bermuara.  Disalah satu wawancara Jarwo, ia menunjukan dapur gear perlengkapannya. Dan praktis Mr.J hanya membawa 2 gitar, sepasang multi efek line 6 wireless, lalu efek Digitech yang langsung diarahkan direct out ke mixer. Hal itu benar-benar membuktikan jargon "man behind the gun" benar-benar nyata adanya di tangan Fajar Endra Taruna Mangkudisasro.



Dwinda A.S
26-01-2017


Sunday, 22 January 2017

Mikhaíl Afanasyevich Bulgakov

Menikmati karya-karya Mikhail Bulgakov itu seperti berada di wahana ruang misteri yang tak bisa terduga jalan keluarnya."Master & Margarita" menjadi buku pertama yang saya baca dan tanpa basa-basi mengganggu pikiran saya waktu demi waktu. Dalam buku kedua Bulgakov ini, dia membuat dua alur cerita. Saya benar-benar dibuat terperangah dan kehabisan kata-kata setelahnya. Lebih parahnya, impresi itu terus menghantui akal rasional ini.  Rasa penasaran yang tak kunjung reda ini, lalu membawa kepada karya-karya Bulgakov selanjutnya mulai dari "A Country Doctor's Notebook" ,  "White Guard" , "A Heart of a Dog" , dan "Fatal Egg".  Cerita-cerita-ceritanya berpusar pada hal-hal yang berkaitan dengan medis, konflik perang saudara (civil war) di Soviet saat itu,  dan yang puncaknya adalah latar Jerusalem pada masa Pontius Pilatus dalam "The Master and Margarita".

Tapi tunggu dulu. Buku itu memang menjadi salah satu karya agung abad ke 20 namun proses penerbitannya memakan waktu yang amat panjang dan menyedihkan . Kondisi politik di Soviet pada masa Stalin, membuat karya ini dilarang karena mengandung unsur kritik kepada pemerintah kala itu. Butuh waktu lebih dari tigapuluh tahun untuk bisa diterbitkan hingga menjelma menjadi karya besar pada akhirnya. Kehidupan Bulgakov juga tak kalah naas. Berlatar pendidikan seorang dokter ia justru menderita penyakit tipus sehingga membuatnya harus mengubur impiannya menjadi dokter. Tak bisa berkarir sebagai dokter, membuatnya beralih profesi menjadi penulis. Mimpi menerbitkan karya pun pupus pada rezim Stalin. Dia mencoba berkarya di Teater namun tak kunjung menemukan titik terang. Hingga akhirnya panggilan telpon dari sang presiden mengakhiri hari-hari kelam Bulgakov. Rasa-rasanya itu merupakan salah satu fase yang cukup "gila" di dalam hidupnya. Dan saya merasa amat beruntung pula berjumpa karyanya di masa yang tak kalah "gila" bagi saya di Petersburg kala itu.

Dwinda.A.S
23-01-2017

Wednesday, 18 January 2017

L'uomo tigre, Eka Kurniawan

Questa storia è accaduta quando Margio uccise Anwar Sadat,  un artista benestante di mezza età con il vizio di correre troppo dietro alle donne. L'omicidio avvenne in modo insolito :  l'assassino morse al collo della vittima,  proprio come una tigre uccide la sua preda. Però, questa sorpresa non è finita perché Kurniawan ci riserva alcune sorprese.

 In questa storia, lui cambia la trama e con un flashback temporale passa a una narazione di carattere psicologico, descriviendo la storia e il carattere dei protagonisti, la mitologia, fino alle motivazioni che hanno portato a quell'inspiegabile gesto di follia omicida.

Questo libro è nominato nella lista "Man booker Prize 2016" e in questo libro, possiamo trovare è una vera sorpresa perchè L'uomo tigre è un giallo e una finestra della letteratura Indonesiana. Eka Kurniawan è il grande autore dopo Pramoedya Ananta Toer e Mochtar Lubis.


Dwinda Seto
18-01-2017



Sunday, 15 January 2017

What I Talk About When I Talk About Running, Haruki Murakami

Bagaimana rasanya berlari bersama Haruki Murakami? Jangan membayangkan jika kita akan berlari dengan suasana surealis karena buku ini akan berisikan keseruan seorang Murakami yang teramat mencintai hobbinya yakni berlari. Bagian demi bagian pada buku ini sangat menarik untuk dicermati dan dinikmati bersamaan. Di buku ini ia juga membagikan perjalanan proses kreatif seorang Murakami serta  transformasi karirnya dari awal perjalanan meniti karir, fokus bertahan pada jalur profesionalnya hingga menjadi penulis dengan karya-karya besar di kemudian hari. Dan yang tak kalah menarik adalah judul buku ini yang teriinspirasi  dari judul buku  "What We Talk About When We Talk About Love"  karya Raymond Carver yang diakui Murakami dari awal cerita ini dimulai.

Di satu sisi buku ini cukup memiliki warna yang berbeda dari buku-bukunya seperti "Sputnik Sweetheart", "Kafka on the Shore", atau "Norwegian Wood" sekalipun, dimana pada kali ini Murakami menjadi lebih realis dalam menggambarkan obsesi dan kecintaannya pada olahraga lari. Murakami juga lebih cenderung bermain dengan kalimat-kalimat yang lebih pendek dalam bertutur kali ini.  Sekalipun buku ini berisikan tentang betapa serunya berlari, saya rasa Murakami sudah berhasil membuat saya untuk tak malas dalam menekuni olahraga ini, karena memang dengan berlari akan selalu membuat perasaan dan suasana hati menjadi lebih menyenangkan.


Dwinda Seto
15-01-2017

Monday, 9 January 2017

Fatal Egg, Mikhail Bulgakov

Semua berawal dari ketidaksengajaan. Andai Profesor Vladimir Ipatevich Persikov tidak sengaja menemukan keganjilan saat mengamati objek penelitiannya, dan meneruskannya. Seluruh kota Moskow tak akan dibuat gempar kemudian dibuatnya. Persikov yang berprofesi sebagai ahli kehewanan sedang berupaya keras membangkitkan kejayaan institusi tempatnya  bekerja. Institut kehewanan dimana ia bekerja saat itu yang sedang meredup.

Latar tempat digambarkan di kota Moskow pada tahun 1928. Kondisi politik Uni Soviet kala itu sedang dilanda perang saurdara dan hasil penemuan itu membuat Profesor Persikov kian tenar di ibukota. Intel pun berdatangan akibat penemuan gilanya. Namun semua obsesi gila sang profesor hanya kian menciptakan masalah demi masalah.

Karya ini terasa amat satir bila dibayangkan dengan kondisi Uni Soviet di masa itu. Berlatarkan kondisi perang saudara,  tentara merah, agen polisi rahasia sesekali muncul di dalam cerita kian membuat buku Science Fiction  ini menjadi kian menarik dan unik.  Bulgakov kembali menggambarkan sesuatu yang satir dalam spektrum yang tak biasa dan sepertinya justru hal itu yang membuat karyanya terasa adiktif.

Dwinda Seto
10-1-2017

Friday, 6 January 2017

Introduzione alla Irama Aksara

Questo blog forse non scriverò troppo bene in Italiano, però sto provando per fare meglio. In questo luogo, ci saranno tanto articoli di letteratura, i libri e la mia opinione personale su alcune questioni. Questo blog sarà l'occasione per descrivere la mia ammirazione, la mia passione e il mio apprezzamento per la letteratura. Che altro?

Credo che questo sia sufficiente per introdurre quello che sarà questo blog. Ci saranno ulteriori aggiornamenti, recensioni, articoli in alcuni giorni. Ma ricorda una cosa... Non vi posso promettere sempre una perfetta grammatica italiana. Sentitevi liberi di ricordarmi per ogni errore di grammatica o di ortografia.

 Questo è per qualcosa di fresco... Benvenuto in Irama Aksara.

Dwinda Seto
06-01-2017 





Thursday, 5 January 2017

Hunger, Knut Hamsun

Semua berawal ketika seorang pemuda memutuskan untuk hijrah ke kota Kristiania (sekarang Oslo) untuk menjadi penulis. Ia  memulai karirnya sebagai penulis amatir tanpa pernah memperkirakan bahwa hari-hari yang menyedihkan telah menantinya. Kristiana kala itu bukan lah tempat yang mudah apa lagi nyaman bagi para perantau yang belum berpenghasilan apalagi hanya bermodalkan tekad untuk kehidupan yang layak. 

Hamsun dalam cerita ini menjabarkan kehidupan getir kehidupan seorang penulis pemula dengan gamblang dan sesekali menyisipkan bumbu humor di dalamnya. Ia memaparkan sebuah gagasan tentang sejauh mana kewarasan kita akan diuji ditengah badai permasalah besar yang datang bertubi-tubi. Dimana kali ini yang ia paparkan adalah kehidupan penulis amatir yang selalu kelaparan dengan problematika-problematikanya.

Yang lebih menarik lagi di cerita ini adalah bagaimana Hamsun tidak menyalahkan antagonistik pada sebuah lingkungan masyarakat untuk dijadikan sebagai konflik utama. Namun ia  lebih memaparkan permasalahan dalam pergulatan batin si penulis amatir ini dan delusi-delusi yang muncul akibat kelaparannya.

Setiap latar tempat dalam cerita ini juga patut dicermati. Setiap sudut jalan-jalan, pertokoan, lorong-lorong, taman-taman, bangunan hingga gereja membuat cerita semakin dinamis dalam imajinasi. Hamsun semakin berhasil mengganggu pikiran kita dan melepaskannya berkeliaran di sudut-sudut kota Kristiana di masa itu.  Hingga tak heran rasanya jika buku ini menjadi kaya monumental yang tak akan lekang oleh zaman.  

Dwinda Aryo.
05-01-2017