Saturday, 31 December 2016

Man Tiger, Eka Kurniawan

Saya merasa amat beruntung ketika berhasil menemukan "Man Tiger" (terjemahan "Lelaki Harimau") di salah satu toko buku di Berlin beberapa minggu yang lalu . Dan tak perlu waktu lama bagi saya untuk langsung menyukai buku  ini dari halaman pertama hingga akhir cerita. Jujur sebenarnya saya terlambat mengetahui karya-karyanya, namun itu tak akan mengubah sedikitpun kekaguman kepada buku ini. Dan akan terasa lebih istimewa saat saya bisa membacanya di suatu waktu yang tak terduga.


Semua berawal dari pembunuhan yang dilakukan Margio kepada Anwar Sadat. Kronologi pembunuhannya dilakukan dengan cara yang tidak biasa. Sang pembunuh mengaku jika dirinya dirasuki siluman harimau dan tentu faktor-faktor lain yang membuat ia memutuskan melakukan pembunuhan itu.  Kemudian perlahan cerita berjalan dengan alur mundur dan dari situ cerita kemudian dimulai.

Mungkin bagi beberapa orang, mereka akan merasakan nuansa realisme magis ("Magical Realism") dalam buku ini. Dan tak heran jika pada akhirnya orang akan membandingkannya  dengan Gabriel Garcia Marquez atau Jorge Luis Borges. Tentu itu sah-sah saja.  Namun saya lebih merasa jika ia adalah sosok yang dinanti pasca Pramoedya Ananta Toer dan Mochtar Lubis. Eka memberikan  rasa baru dengan caranya bercerita di dalam gagasan-gagasannya.

Pada akhirnya saya bisa menghela nafas lega karena ada sosok keren yang muncul kembali dalam dunia sastra Indonesia. Dimana ia tak segan menggambarkan realita sosial yang terjadi dengan cara sederhana namun tak lupa untuk tetap garang dalam setiap kata-katanya. Sayapun tidak lagi menyesal karena baru mengenal si "lelaki harimau" pada akhirnya.

Dwinda Seto
31-12-2016