Tuesday, 25 April 2017

Neramo (II: Sang Eksekutor)

          Aroma  pasta Amatriciana* menyebar ke seluruh ruang dapur Renzo Caravetta. Ia baru saja selesai memasak makan siang bersama Barbara Caravetta, istrinya. Mereka segera menata meja makan, kemudian duduk mengambil ancang-ancang untuk menyantap makan siang.
         
         "Alora*, waktunya makan", ujarnya kepada Barbara.

         " Selamat makan!", jawabnya sembari mengambil garpu lalu menyantap pasta. Renzo Caravetta menyalakan televisi dan mengganti beberapa kanal. Namun kali ini, siaran berita siang dihiasi dengan berita mundurnya Perdana Menteri Francesco Martello seusai hasil referendum yang digelar di seluruh negeri terkait perubahan sistem parlemen. Sesekali Renzo dan Barbara tampak mengomentari berita tersebut.
 
        Neramo sudah kembali ke kandangnya dan menanti makanan dari  tuannya. Ia kelelahan setelah membuntuti seekor kucing milik keluarga Martino, pemilik kedai pizzeria* yang cukup tersohor di kota Moltia. 

         Siang itu, kota Moltia mendung diselimuti awan kelam nan pekat. Seantero kota seakan-akan menangkap sinyal marabahaya tentang sebuah rencana pembunuhan yang telah dipersiapkan Alessandro Petrovich. Ia seorang keturunan Russo-Italiana berparas dingin. Di usianya yang hampir menginjak separuh abad, kharisma dan ketampanannya tidak memudar sedikitpun. Ia  merupakan rekan kerja Renzo Caravetta dalam proyek renovasi Stadion Leandro Belotti. Namun semua itu tinggal masa lalu dan kini yang tersisa tinggal ambisi untuk menghabisi Renzo Caravetta.

             Suara scooter Piaggio milik Alessandro Petrovich melaju menuju rumah Renzo Caravetta. Sang eksekutor telah tiba dengan berbagai rencana di dalam kepalanya. Ia memarkir scooternya lalu berjalan perlahan ke arah pintu rumah dan menekan bel. (Bersambung)

 
*Pasta Amatriciana = Jenis pasta dengan saus tomat dan potongan panchetta.
*Alora = Baiklah
*Pizzeria = Kedai Pizza


(Oleh : Nat.A.Chaniago)
25-04-2017

Thursday, 20 April 2017

Neramo (I)

“Por todas tus mentiras, mamino. Gracias”

(I)

           Renzo Caravetta sedang memberi makan anjingnya pada suatu sore yang tenang di pekarangan rumahnya. Seperti kebiasaan seusai jam kerja, pria paruh baya berkacamata tersebut menaruh beberapa tulang untuk anjing jalanan kesayangannya, Neramo. Tak perlu waktu lama bagi Neramo memakan tulang yang diberikan tuannya tersebut. Ia melahap dengan cepat saking kelaparan sehabis menjelajahi via Toledo sepanjang hari.

           Neramo merupakan anjing yang tak biasa dengan satu mata di wajahnya. Suatu ketika ia terlibat perkelahian sengit dengan segerombolan anjing jalanan. Sayangnya, Neramo tak memiliki nyali sebesar anjing-anjing jalanan pada umumnya. Kejadian itu merenggut mata kanannya. Tragedi itu mengubah Neramo semenjak saat itu.

             Keesokan paginya, Neramo berjalan menelusuri gang di dekat pusat kota. Guratan mentari menembus celah-celah bangunan dan menerangi setiap sudut jalan. Ia terus berjalan di dalam kesunyian yang mengiringi langkahnya, hingga menyisakan kesendirian. Sampai di ujung jalan, dia berhenti lalu menatap sesuatu yang membuat dia terpaku.

          Ada sesosok mahluk asing yang tak pernah ia jumpai sebelumnya. Setiap ia berjalan menelusuri Via Toledo, hanya hiruk pikuk manusia berjalan dengan cepat, bising deru motor menusuk telinga serta pedagang-pedagang imigran menjajakan barang dagangannya. Pandangannya kali ini terpaku pada seekor kucing angora berbulu tebal yang melintas di depan muka lusuhnya. Neramo tidak bisa berhenti menatap kucing itu. Warnanya coklat muda, dengan kalung berwarna hitam di lehernya sebagai tanda dari sang pemilik. Kucing tersebut berjalan menyebrangi jalan trotoar dan Neramo melangkah perlahan sembari mengamatinya. Rasa penasaran menjalar di kepalanya. ( bersambung )

*via Toledo = jalan Toledo

Oleh: Nat.A.Chaniago
09-04-2017

Pemberitahuan

Dengan ini saya ingin memberitahukan jika cerita Neramo yang semula direncanakan akan dipublikasikan di wep PPI Calabria. ( http://ppicalabria.org/2017/04/12/neramo/)

maka akan dipublikasikan di iramaaksara.blogspot.com

Keputusan ini diambil karena pertimbangan satu dan lain hal. Terimakasih.

Divertiti
Dwinda.A.S (Nat.A.Chaniago)

20-04-2017

Thursday, 13 April 2017

Jaguar Smile : A Nicaraguan Journey, Salman Rushdie

Saya sedang mencari buku yang tak terlalu tebal saat itu, sekadar pelepas penat diantara rutinitas mengamati batu-batu, lalu pergumulan mencari setan beserta kroni-kroninya juga mulai memerlukan sedikit rehat sementara. Hingga akhirnya saya melihat buku Jaguar Smile: A Nicaraguan Journey yang ditulis oleh Salman Rushdie di rak buku perpustakaan kampus dan tanpa pikir panjang segera saya lahap habis seharian di perpustakaan saat itu juga.

Buku ini adalah karya non-fiksi yang ditulis Salman seusai mengunjungi Nikaragua pada Tahun 1987. Pengalaman perjalanannya selama disana, kemudian perjumpaannya dengan para politisi dan orang-orang penting kian memperlihatkan gambaran situasi politik Nikaragua di masa itu. Belum lagi dalam penggarapan buku ini, Salman baru saja kembali dari jeda panjangnya setelah proses penggarapan Satanic Verse . Buku ini juga memperlihatkan sisi akademis seorang Salman Rushdie  yang notabene-nya seorang ahli sejarah. Cara penuturan penggunaan bahasanya pun jauh lebih realis namun tetap sarkastik (seperti biasanya) sebagaimana gaya khas di dalam karya-karyanya. Salman menceritakan bagaimana Nikaragua saat itu benar-benar diguncang oleh kehadiran Amerika Serikat yang menentang gerakan beraliran kiri Sandinista National Liberation Font (FSLN). Kepemimpinan diktator Anastasio Somoza Debayle juga menjadi topik yang tak luput dalam pengamatannya. Nikaragua seperti target berburu "Jaguar-jaguar tirani".

Dalam buku non fiksi perdananya kali ini, ia cenderung menggunakan bahasa yang amat ringan. Sekiranya judul senyuman jaguar pada akhirnya terasa sebuah metafora. Metafora tentang sebuah "jaguar-jaguar tirani" yang diam dan kelaparan mencari mangsa di tanah Nikaragua. Mereka sedang tersenyum.


Dwinda.A.S
13-04-2017






Friday, 7 April 2017

László Krasznahorkai

            Mendengar Hungaria, saya sama sekali tak punya bayangan apapun tentang negara ini. Budapest adalah satu-satunya hal yang saya tahu dari negri ini. Selain bahasanya yang tak se-familiar negara-negara di eropa, bagaimana pula bisa terbesit pikiran untuk mengenal seorang  penulis paruh baya dari sebuah kota kecil bernama Gyula?

          Perkenankan saya memberikan sebuah narasi tentang jagoan baru saya ini. Namanya  László Krasznahorkai.  Kesan pertama mendengar nama itu, tentu bukan hal sederhana dan hal itu diakui oleh sang penulis  dalam sebuah wawancara di kanal youtube. Ia sempat bilang jika namanya sedikit sulit diucapkan. Entah mengapa bagi saya pribadi,  namanya justru terdengar indah. Entah karena saya tak pernah mendengar  "László" bahkan pula "Krasznahorkai" sekalipun. Perpaduan keduanya terdengar amat elegan namun tetap memiliki kesan misterius

         Sosoknya kini menjadi buah bibir dimana-mana.  Bukunya "Satantango" berhasil keluar sebagai pemenang dalam penghargaan Man Booker Prize 2015. Dirinya pun kerap disandingkan dengan Nikolai Gogol, dan Franz Kafka.  Hal ini tentunya menjadi magnet tersendiri bagi khalayak umum dalam melihat  Hungaria dan dunia kesusastraannya. Jujur saya penasaran, dan beruntung dengan keberadaan mbah google,  saya bisa menggali siapa itu László.

       Penantian saya mencari karya-karyanya akhirnya berakhir di sebuah toko buku di daerah termini, Roma.  Buku tersebut berjudul "Seiobo There Below". Buku  ini bercerita tentang 12 narasi episodik tentang seniman-seniman di beberapa negara, kemudian László menciptakan tokoh historikal dan fiksional yang saling berkaitan pada Seiobo itu sendiri. Sejujurnya, ini bukan buku yang mudah mudah untuk langsung dicerna. Karena di dalam penceritaanya, sarat dengan kalimat narasi yang panjang,  lalu diksi-diksi yang cukup berat. László seakan-seakan tidak peduli dengan plot dan lebih menonjolkan narasi dalam cerita ini. Dan yang menarik.... Ia sempat memasukan memasukan unsur-unsur bilangan Fibonacci. Hal ini sedikit mengingatkan saya kepada Jorge Luis Borges yang kerap  memasukan elemen matematika pada karyanya.

       Selesai dengan Seiobo, saya beranjak ke Satantango. Buku yang membuat László memenangkan penghargaan Man Booker Prize 2015. Awal kisah dibuka oleh seorang tokoh bernama Futaki. Ia terbangun oleh suara bel misterius dari sebuah gereja yang terletak tak jauh dari tempat tinggalnya. Lalu cerita bergulir dan berkembang. Perlahan  muncul tokoh-tokoh menarik dimulai Nyonya Schmidt, Nyonya Kraner, Petrina hingga laba-laba. László menjabarkannya dengan lebih sederhana namun sesekali tetap memunculkan kalimat narasi panjang, dengan penjelasan detail yang indah, sesekali depresif dan impresif yang mengakibatkan bukunya habis saya baca dalam beberapa hari saja. László seperti menghisap perlahan-lahan pembaca dengan setiap detail kalimat yang ia tulis. Ada sedikit nuansa aura realisme magis dalamnya dan lebih kurang mengingatkan saya pada karya klasik "Master & Margarita" dari Mikhail Bulgakov.

     Ada yang satu hal yang mencari perhatian saya ketika  menyaksikan rekaman pidato saat László menerima penghargaan Man booker Prize tahun 2015. Ia membacakan teks narasi yang ia tulis pada secarik kertas. Di kertas ia membacakan  ungkapan terimakasihnya mulai kepada guru-gurunya semasa sekolah, Franz Kafka dan novel-nya "The Castle yang ia baca ketika berusia 12 tahun, italian renaissance, Fyodor Dostoevsky, Jimi Hendrix, Beatles, Rolling Stone, William Faulkner,  hingga alam semesta juga tak lupa untuk ia sebutkan. Hingga sepenggal kalimat penutup yang mengakhiri pidatonya.

"To nature which was created to Prince Budha Siddharta, to the Hungarian language, to God."


Dwinda.A.S
08-04-2017














Friday, 24 March 2017

Tak seorangpun yang menulis kepada Kolonel (Gabriel García Márquez)

         Kolonel menemukan stoples kopi dan kemudian menguji lebih dari satu sendok teh. Dia mengangkat panci dari kompor, menuangkan sedikit air di lantai dan menggoreskan  pisau ke dalam toples pada panci hingga goresan terakhir dari kopi bubuk menyisakan buih timah oksida.


Tanggal publikasi: 1961
Diterjemahkan : Dwinda A. S
24-03-2017

*Nb: Untuk hasil terjemahan yang masih kasar, mohon maaf dikarenakan penulis terus berupaya meningkatkan pemahaman bahasa spanyol.

Thursday, 23 March 2017

El coronel no tiene quien le escriba (Gabriel García Márquez)

     El coronel destapó el tarro del café y comprobo que no habia más de una cucharadita. Retiró  la olla del fogón, vertió  la mitad del agua en el piso de tierra, y con un cuchillo raspó  el interior del tarro sobre la olla hasta cuando se desprendieron las últimas raspaduras del polvo de café revueltas con óxido de lata.

Fecha de publicación : 1961