Sunday, 3 September 2017

Mr Palomar, Italo Calvino

                  Dalam karya-karya Italo  Calvino tak jarang akan kita jumpai unsur-unsur mimpi, filosofi dan kesadaran diri dalam karyanya. Ia seakan mengundang pembacanya ke dimensi yang ia ciptakan, dan  Mr Palomar salah satunya. Kisah ini menceritakan seorang tokoh bernama Palomar yang sedang mengamati hal-hal di dalam kehidupannya . Segala  hal yang terjadi di dalam hidupnya, tak ubahnya tanda-tanda yang menyimpan arti.
                     Cerita dalam buku ini terbagi dalam tiga bagian besar yakni liburan Palomar, Palomar di kota, dan keheningan Palomar. Menikmati setiap alur cerita dalam buku ini seperti sebuah retrospeksi kehidupan dan segala hal yang terjadi padanya. Ia kerap memandangi gelombang di lautan, padang rumput yang luas, bintang-bintang di angkasa dan segala hal di alam semesta yang kadang terabaikan atau malah teracuhkan. Palomar seperti sebuah gambaran manusia di abad dua puluh dengan segala kegundahan dan beban duniawi yang dipinggulnya.
                   Sebenarnya kisah Palomar merupakan kisah sederhana tentang sebuah pencarian. Pencarian sebuah kebenaran mendasar tentang sifat keberadaan yang kerap kali terabaikan didalam kehidupan mulai dari pengalaman visual, antropologis, budaya hingga waktu. Kali ini Calvino mengingatkan kita untuk sejenak melihat sekeliling kita dan mendekatkan diri dengan sekeliling kita.
                   

Dwinda.A.S
03-09-2017

Thursday, 31 August 2017

Kalimat Panjang

                  Ada yang membuat saya penasaran ketika membaca buku-buku  William Faulkner dan Laszlo Krasznohorkai. Mereka gemar menggunakan kalimat-kalimat panjang di dalam  cerita mereka dan hal itu kadang membuat saya kewalahan untuk memahami alur ceritannya, serta  menuntut kesabaran lebih saat membaca buku-buku mereka. Faulkner menjadi penulis pertama yang membuat saya membedah satu persatu tokoh dan alur dalam cerita pendeknya "The Courthouse". Dimana permikirannya yang begitu liar, membuat saya penasaran untuk memahami kemana arah cerita kan dibawanya.
                 Efek lain yang ditimbulkan dari kalimat-kalimat panjang tersebut adalah  kesan alami, dan mendalam saat si narator mengarahkan, atau menggambarkan situasi ceritanya. Mereka memang memerlukan waktu lebih lama untuk dicerna, kemudian bisa dimengerti, namun dibalik lapisan-lapisan alur cerita yang bertumpuk-tumpuk itu, kita akan digiring pada sebuah akhir, dan kesimpulan. Salah-salah menggunakan teknik semacam ini akan membuat pembaca jengah. Tapi dua nama diatas nampaknya memiliki talenta istimewa dalam cara bercerita mereka.
                  Gaya kepenulisan yang bisa dikenal dengan  "stream of  consciousness" memang cukup kompleks, namun itu amat menyenangkan disaat yang bersamaan.  Kalimat-kalimat itu seakan-seakan menghisap pikiran kita dalam cerita mereka dalam pemikiran mereka. Sejauh ini menikmati Faulkner dan Krasnahorkai seperti berada dalam pusaran badai yang melempar rasa penasaran saya kesana kemari hingga berujung pada akhir yang tak terduga atau malah tak terpahami pada akhirnya. Membaca dua karya Laszlo yakni  "Melancholy Resistance" dan "Satantango" benar-benar membuat saya takjub. Bukan saja karena kalimat-kalimatnya yang amat panjang. Ia seperti menghasilkan lelehan lava yang mengalir perlahan dan menghanyutkan dalam alur ceritanya.    Lambat laun keunikan itu justru membuat saya mengagumi cara menulisnya.
                Kedua nama tersebut memberikan sebuah pelajaran baru untuk tak terburu-buru ingin menyelesaikan sebuah cerita, meskipun jujur saja kalimat-kalimat panjang itu kerap menuntut saya untuk membacanya beberapa kali untuk memahami keseluruhan maksudnya. Dan percayalah itu hal yang menyenangkan.

Dwinda.A.S
31-08-2017
                  

Monday, 21 August 2017

Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas, Eka Kurniawan

                     Semula berawal ketika Ajo Kawir dan Si Tokek memergoki wanita gila bernama Merah Merona diperkosa oleh dua oknum polisi, dan sialnya mereka tertangkap basah mengintip kedua polisi tersebut. Semenjak peristiwa itu "burung" Ajo  Kawir tertidur pulas tak ubahnya beruang yang hibernasi panjang. Segala upaya di lakukan untuk membangunkannya, sayangnya itu tak merubah keadaan sedikitpun.
                      Demi mengembalikan kejantanannya, Ajo Kawir terus memutar akal untuk mengatasi masalah dalam dirinya.Sebagai laki-laki normal yang kerap kali jatuh hati kepada lawan jenisnya, temtu situasi  ini bukan situasi yang mudah, hingga kemudian ia berjumpa dengan wanita demi wanita yang mengisi kehidupan asmaranya. Semua  berakhir tak menyenangkan karena, konflik pribadi dalam diri Ajo Kawir dan "burung"nya. Baginya, hal itu menjadi sebuah masalah besar tatkala dia tak mampu memberikan kebahagiaan yang utuh untuk pasangannya. Ia terpaksa mengubur dalam-dalam hasratnya kepada setiap perempuan yang hadir di dalam kehidupannya.
                     Hanya orang yang tak bisa ngaceng saja yang berani bertarung sampai mati, dan hal itu tergambar jelas dalam diri Ajo Kawir. Ia seakan tak kenal takut berurusan dengan  para begundal-begundal jalanan yang ia jumpai dalam kesehariannya. Puncak permasalahan dalam dirinya memuncak ketika, Iteung yakni kekasih Ajo Kawir yang juga pengawal seorang bos geng bernama si Macan rupanya benar-benar menghantui keseharian Ajo Kawir.
                     Hidup Ajo Kawir tak ubahnya pertarungan tiada henti. Masalah demi masalah datang silih berganti dan tak kunjung usai. Namun layaknya dalam kehidupan laki-laki normal pada umumnya, wanita yang sejatinya merupakan sosok ideal untuk melengkapi hidupnya, terpaksa ia relakan karena "burungnya" yang tak kunjung bangun dari tidur panjangnya. Kerasnya kehidupan jalanan dan lingkaran setan dunia hitam memaksanya terus bertarung demi hidupnya. Hingga pada akhirnya,akankah burungnya kembali bangun dari tidur panjangnya? Setidaknya buku ini akan menceritakan kisah pertarungan Ajo Kawir yang penuh adrenalin dan bumbu humor yang menyenangkan.




Dwinda.A.S
21-08-2017

Wednesday, 26 July 2017

Manusia Es, Murakami

                     Bukan Haruki Murakami jika tak bisa menyayat hati para pembacanya dengan konflik-konflik dalam ceritanya. Ia gemar mengambil hal-hal tak biasa di dalam kehidupan, kadang juga hal  tabu mulai dari kelainan seksual, kucing-kucing yang bisa bicara, hingga keterasingan diri kerap berhasil membuat para pembacanya menghela nafas panjang seperti habis melihat sebuah tragedi yang mengenaskan.
                  Cerita pendeknya kali ini merupakan kisah cinta seorang wanita dengan manusia es, dimana mereka pertama kali berjumpa di sebuah resot ski. Si cewek melihat manusia es duduk sendirian di lobi hotel sambil membaca buku. Berawal dari situ kemudian ia mengagumi si manusia es dan  berusaha mencari tahu sosoknya. Bagi manusia normal menjalin hubungan dengan manusia es masih jauh dari kata normal. Alhasil konflik-konflik pun tak bisa dihindarkan, tatkala dari pihak sang wanita menerima kecaman akibat keputusannya tersebut.
                 Murakami dalam kisahnya kali ini seperti memaparkan kenyataan pahit. Kisah ini juga  terasa amat sendu, namun tetap puitis secara bersamaan. Definisi cinta menurut Murakami nampak sesederhana filosofi manusia es, "Semuanya hanya masa lalu yang terlampir di dalamnya. Dengan cara yang sangat bersih dan jelas, es bisa mengawetkan banyak hal dan membuatnya seolah-seolah masih hidup, meskipun itu masa lalu, Itulah esensi es."
               Tak perlu alur cerita yang kompleks untuk membuat pembacanya terhisap ke dalam kisahnya. Tempo cerita yang berjalan cepat, sesekali ia menghadirkan konflik personal antara sang wanita dan manusia, dimana masa depan terasa seperti sesuatu yang tak perlu ditunggu, karena bisa saja itu akan menjadi bom waktu kelak, alhasil kita seakan tak sadar telah tiba di akhir cerita kemudian.


26-07-2017
Dwinda.A.S

Tuesday, 18 July 2017

Ledakan Sastra Amerika Latin

              Periode tahun 1960 hingga tahun 1970, kiranya menjadi momen penting bagi kesusastraan Amerika Latin. Kala itu muncul sebuah fenomena literaturyang cukup unik, dimana mereka perlahan menginvasi dunia sastra internasional, mulai novel, puisi, esai hingga kritik literatur yang dikenal dengan El Boom Latinoamericano (yang berarti ledakan Amerika Latin). Hal ini bukan saja menjadi fenomena sastra dan kebudayaan, namun sekaligus politik serta ekonomi, dimana ini menjadi sebuah respon dalam kultur Amerika Latin yang kembali menghidupkan warisan sastra spanyol, dengan karakter baroque yang kuat.
         Amerika Latin terlihat seperti pecahan-pecahan eropa yang sedang mencari nama baru. Dimana berbagai karya sastra dengan nuansa Cervantes-esque, bercampur elemen-elemen fantasi, legenda, hingga sejarah yang pada akhirnya melahirkan warna baru dan unik dikenal dengan realisme magis. Dalam perngertiannya, semua unsur-unsur magis diceritakan dengan amat nyata, sehingga semua elemen-elemen "nyata" dan "magis" mengalir pada satu arus cerita. Realisme magis tak ubahnya sebuah refleksi irasional di negara dunia ketiga terhadap rasional ilmiah dari barat, dan kali ini Amerika Selatan terlihat sedang bersenang-senang memetaforakan segala kisah mereka.
          Nama-nama besar seperti Julio Cortazar, Gabriel Garcia Marquez, Ernesto Sabato, Alejandro Carpentier, Carlos Fuentez, hingga Mario Vargaz Llosa merupakan nama-nama besar dibalik terjadinya ledakan sastra Amerika Latin. Segala referensi historis, sosial dan politik dirasa menjadi media yang pas untuk mewakili pandagan-pandangan negara-negara post colonial dalam memceritakan kisah mereka. Sebuah buku bernama One Hundred Years of Solitude, The Time for Heroes, hingga The Tunnel, menjadi representasi baru dalam dunia sastra Amerika Latin kala itu.
         Penulis-penulis Argentina membuat Buenos Aires menjadi setara keindahannya dengan kota-kota di eropa, sebagaimana semua tergambar dalam kisah Julio Cortazar dan Ernesto Sabato. Alejo Carpentier dalam karyanya The Kingdom of This World menggambarkan suasana setelah revolusi Haiti, dimana sepanjang novel, berbagai persepsi tentang realitas yang muncul karena perbedaan budaya antara karakternya ditekankan dan dikontraskan, dan tentunya masih banyak penulis-penulis Amerika Latin yang perlu diperhatikan disamping nama-nama tersebut.
         Entah apa yang ada di benak para penulis Amerika Latin  saat itu, sekiranya mereka telah menciptakan warna baru dalam dunia literatur internasional.  Mereka seperti mengisyaratkan  dan merefleksikan semua hal yang terjadi di negara mereka kemudian membungkusnya dengan segala dengan citarasa asal mereka, dan sekiranya fenomena ledakan Amerika Latin akan selalu dikenang dalam jangka waktu panjang.


Dwinda.A.S
18-07-2017

Wednesday, 12 July 2017

Aksi-Reaksi

           Mengamati hal-hal yang terjadi disekitar merupakan aktivitas yang menyenangkan, dimana terkadang dalam hidup ini suatu kejadian memiliki kecenderungan keterkaitan dengan terjadinya hal baru. Kejadian ini sedikit mengingatkan saya pada hukum Aksi-Reaksi dari Isaac Newton. Fenomena ini membuat saya membayangkan kecenderungan itu terjadi pada dunia sastra, dimana karya-karya para penulis besar di suatu bangsa terasa seperti sebuah aksi-reaksi yang saling menjawab satu sama lain, atau jika mungkin malah membantah satu dengan lainnya.

             Contoh salah satu begini, Pram dalam karya-karyanya terutama tetralogi Bumi Manusia menawarkan sebuah gagasan realisme modern, dimana kita bisa merasakan ada semangat menggugah yang kuat dalam kisahnya.Ia seakan-akan menghimbau sebuah perubahan menuju fase kehiduapn yang ideal.  Sepeninggal Pram, muncul  Eka Kurniawan, dimana dalam kisahnya, sisi lain negeri ini diperlihatkan. Indonesia terlihat lebih garang, penuh amarah serta sumpah serapah layaknya keseharian rakyat jelata. Kaum-kaum tak terbias cahaya seperti mendapatkan kesempatan untuk menunjukan dirinya. Halimunda seolah tak jauh lebih baik daripada Pulau buru dalam perspektif Eka.

            Di negri sakura, Yasunari Kawabata dalam karya-karyanya mengangkat nilai-nilai kebudayaan jepang dengan amat sederhana, melankolis, sensual dan realis. Jepang tampak amat menawan dengan para Geisha yang kerap diangkat dalam kisahnya, lalu butir-butir salju yang jatuh menutupi seluruh kota seolah-olah menghadirkan kesenduan yang elegan. Kemudian beberapa tahun setelahnya, hadir seorang pemuda pemilik club jazz bernama, Haruki Murakami. Ia menawarkan warna yang berbeda, Jepang dilihat dalam bentuk yang lebih modern dimana problematika kisah-kisahnya banyak ditemukan di kehidupan masyarakat urban. Ia tak segan mengangkat kisah cinta kaum lgbt, atau menjadikan kucing menjadi hal magis dalam kisahnya. 

          Kolombia tak mau ketinggalan, dimana mereka memiliki seorang penulis  bertalenta besar bernama Gabriel Garcia Marquez. Tak ada yang meragukan Gabo dalam menciptakan kisah-kisah yang berkualitas. Kecerdasannya dalam memetakan situasi politik Kolombia, kemudian meracik kisah cinta  yang tragis serta tak lupa menyisipkan unsur-unsur militer, terasa seperti sebuah metafora tentang kondisi kolombia saat itu. Sepeninggalnya, kemudian muncul Juan Gabriel Vasquez. Ia jelas mengungkapkan keberatannya dengan realisme magis yang ditawarkan Marquez, kemudian menjawabnya dengan karya-karya yang kental dengan kultur eropa.

          Menikmati karya-karya sastra baik dalam dan luar negeri akhirnya membuat saya menarik kesimpulan jika para penulis-penulis tersebut saling merespon satu sama lain. Mereka terlihat seperti meneruskan jejak-jejak peninggalan pendahulunya, yang kemudian dilanjutkan, direspon, atau mungkin dijawab dengan buah pemikiran mereka sendiri, sehingga hal itu membuat saya tak bisa berhenti untuk mengais karya-karya klasik dan kontemporer.


Dwinda.A.S
12-07-2017