Sunday, 14 January 2018

Pengalih Bahasa

Saya gemar menyaksikan wawancara beberapa pengalih bahasa dari penulis-penulis yang saya sukai. Sering kali saya penasaran dengan apa yang terjadi selama proses penerjemahan itu berjalan ; bagaimana sang penerjemah harus berkali-kali meyakinkan sang empunya karya ; ingin melihat langsung seperti rupa asli penerjemah yang hasil karyanya biasa saya baca dalam bentuk buku.

Di Amerika Selatan, nama Gregory Rabassa bukan nama yang asing lagi hasil terjemahannya. One Hundred Years of Solitude  dan The Incredible and Sad Tale of Innocent Erendira and Her Heartless Grandmother karya Gabriel Garcia Marquez, serta The Mulatta and Mister Fly karya Miguel Asturias merupakan sebagian karyanya yang cukup berkesan untuk saya pribadi.

Dari tanah Hungaria, nama Ottilie Mulzet dan George Szirstes menjadi sosok penting dalam penerjemahan karya Laszlo Krasnahorkai. Dua karya Laszlo yakni Satantango  dan  The Melancholy  of Resistence adalah dua buku yang benar-benar membuat saya kagum terhadap penulis yang satu ini. Siapapun akan terhisap kedalam kalimat-kalimat panjang dalam semesta Laszlo.  Atmosfir cerita yang cukup depresif, serta aliran narasi yang puitis sekaligus dramatis membuat saya tak bisa membayangkan jika karya itu tak ditangani dengan baik oleh pengalih bahasa yang tepat. Sama halnya dengan Seiobo There Below yang diterjemahkan sama baiknya oleh Ottilie Mulzet.

Dari tanah air, saya juga tak bisa membayangkan jika Man Tiger (terjemahan Lelaki Harimau) tak diterjemahkan oleh Labodalih sembiring dan Beauty is a Wound (terjemahan Cantik itu Luka) tak diterjemahkan oleh Annie Tucker, mungkin saya masih belum bisa  mengenal karya-karya Eka Kurniawan saat itu, karena situasi yang masih belum memungkinkan saya untuk menikmati karya-karyanya dalam bahasa ibu saya. Disitulah saya merasa amat beruntung menemukan karya-karya terjemahan dari kedua penerjemah karya Eka.

Peran pengalih bahasa ini sangat berpengaruh besar pada akhirnya,karena ia bukan saja bertugas menerjemahkan, sekaligus menuliskan ulang karya itu ke bahasa baru dengan segala tingkat kerumitannya masing-masing. Gabriel Garcia Marquez mengaku ia amat mengagumi La Metamorfosis (The Metamorphosis) karya Franz Kafka yang diterjemahkan Borges, dan sama halnya dengan siapapun pasti akan merasa amat beruntung (seperti halnya saya yang saat itu menemukan Man Tiger) jika menemukan sebuah karya dari entah berantah yang telah diterjemahkan dengan apik. Ini sebuah rasa terimakasih untuk para penerjemah yang bukunya selama ini telah saya nikmati.

Kekaguman saya itu mendorong saya untuk menantang diri sendiri untuk menerjemahkan beberapa karya penulis favorit saya. Iseng-iseng saja, dan saya tahu ini sebuah percobaan awal serta beresiko. Namun jika Borges saja melakukannya, mengapa saya tidak. Seperti halnya Eyang Pram yang menerjemahkan Tolstoy, serta Eka yang menerjamahkan Steinbeck.

14-01-2018




Sunday, 31 December 2017

Gunter Grass, Tin Drum

Sekian lama saya mencari karya-karya Gunter Grass, terutama dalam Trilogy Danzig yang ia hasilkan. Alasannya pun sederhana, ingin melihat seperti apa suasana Jerman pada awal 1900 an. Novel pertamanya ini bisa menjadi teropong untuk memuaskan rasa penasaran saya. Hingga tak lama saya lihat Oskar Matzerath yang iconic itu.

Tak ada seorangpun di dunia ini yang menginginkan untuk terlahir dalam ketidak pastian asal usul orang tuanya. Sebagaimana itu menimpa Oskar yang tak yakin siapa ayah kandungnya. Kemalangan Oskar tak berhenti sampai disitu. Pertumbuhannya harus terhenti ketika ia berusia tiga tahun. Ia tumbuh menjadi anak yang aneh dan tak biasa.

Oskar tumbuh menjadi "monster" kecil. Suaranya bisa memecahkan kaca jendela sejauh satu mil, kemudian ia juga bisa membuat lubang melingkar di jendela toko yang menggoda para pembeli untuk mencuri. Ia tumbuh menjadi sosok amoral, dan anarkis di lingkungan yang korup dan terpuruk. Hingga ia menemukan satu hal yang mampu menemani hari-harinya, yakni sebuah drum, yang kelak menjadi teman baiknya.

Menikmati kisah ini tak ubahnya sebuah mimpi buruk yang penuh kenikmatan. Kau akan melihat keramaian orang yang merasa lebih besar dari kehidupan mereka yang menyedihkan, penuh nafsu, kebodohan dan brutal. Ditengah situasi ekonomi, politik dan keadaan masyarakat sekitarnya yang amat terpuruk, Oskar pun muncul dengan drum yang kerap bersanding bersamanya.

Gunter Grass dalam kisahnya kali ini seperti mewakili situasi negerinya pada abad dua puluh. Oskar dan semua di dalamnya adalah seni, keindahan dan harapan kunci dari keburukan dan ketakutan yang tak terlukiskan. Maka tak berlebihan jika buku ini disebut sebagai kaya agung dalam kesusastraan Jerman abad dua puluh. Dan siapapun akan terus menanti suara tabuhan drum Oskar yang fenomenal itu.

31-12-2017

Wednesday, 20 December 2017

The Savage Detectives, Roberto Bolano

Ini  kisah picaraesque tentang seorang bocah bernama Juan Garcia Madero dan keterlibatannya dengan sekelompok gang  penyair di Mexico; kisah tentang sekelompok penyair yang menamakan dirinya Viscreal Realist. Sebuah potret kehidupan para penyair di Mexico dengan segala lika-liku kehidupannya.

Bolaño memang istimewa. Itu jelas terasa ketika, ia memiliki gaya yang berbeda dalam cara berceritanya dan berani keluar dari segala atribut realisme magis yang selalu melekat pada penulis Amerika Latin kebanyakan. Ia justru memberontak, percaya diri hingga tak sungkan mengejek nama besar seperti Octavio Paz. Bolaño menghadirkan kisah narasi polifonik yang liar tatkala hari-harinya mulai terganggu dengan kesehatannya yang memburuk.

The Savage Detective dibagi menjadi menjadi tiga bagian besar, dimana pada bagian pertama sang narator adalah Garcia Madero sendiri. Di usia yang menginjak tujuh belas tahun, dimana masa itu menjadi sebuah transisi besar dalam hidupnya. Ia menemukan hasrat yang tertahankan dalam dunia puisi. Ironisnya keluarganya terang-terangan meragukan masa depannya dengan dunia literatur tersebut, sehingga pamannya memasukan Garcia Madero untuk menekuni bidang hukum. Di sisi lain Garcia Madero menemukan kelompok Visceral Realist.

Perkenalan Garcia Madero dengan kelompok penyair tersebut, tak ubahnya angin segar di tengah kelesuan dalam kehidupan akademiknya. Sebuah masalah yang sering terjadi dalam kehidupan remaja pada umumnya. Di sisi lain Visceral Realist juga bukan tempat yang dapat memastikan segala keraguan akan masa depan bocah tersebut, namun menjadi sebuah pintu gerbang baginya berjumpa para penyair beserta kegilaannya.

Dalam kisah ini kau akan realita hidup yang  menemukan penyair-penyair dengan semangat pemberontak dibawah era diktator Allende. Bolano juga tak jarang membuat lelucon-lelucon yang dialamatkan kepada  Octavio Paz, penyair besar Mexico itu.

Pada bagian kedua buku yang jumlahnya hampir dua pertiga bagian buku ini, merupakan bagian yang paling menyenangkan. Bagian ini menceritakan narasi-narasi para penyair dari berbagai perspektif. Disini bisa terbaca jelas, gaya hidup bohemian para penyair yang tersebar di berbagi kota di dunia.

Hingga kisah ini kembali pada narator utama, Juan Garcia Madero, hingga akhir cerita. Saya tak ingin mengomentari perkara teknis soal buku, biarkan para ahli-ahli itu saja yang mengkritisi. Setidaknya bagi saya, membaca karya ini seperti menikmati perjalanan mencekam dan berbahaya di jantung kota Mexico.

20-12-2017




Friday, 15 December 2017

Tempesta

Era qualcosa di paradosso quando Mardi ha letto il libro di Conrad, e allo stesso tempo, la persona che ha spiato passa davanti a lui. Lui è congelato.




Sunday, 10 December 2017

In The Praise of Step Mother, Mario Vargas Llosa

Musim dingin selalu menjadi waktu yang menyenangkan untuk duduk berlama-lama ditemani sebuah buku. Dan menikmati karya-karya Llosa memang seperti sebuah intro yang menyenangkan untuk melihat hal-hal yang umum dari perspektif yang berbeda.  Dibalik tema-tema yang kerap ia bicarakan dalam karya-karyanya mulai dari politik, pengalaman hidupnya, perayaan kebanalan dan tentu saja wanita. Kisahnya kali ini merupakan salah satu yang cukup berani.

Buku ini bercerita tentang kisah seorang anak kecil yang jatuh hati. Tak tanggung-tanggung yang ia taksir adalah ibu tirinya. Don Rigoberto seorang kepala keluarga, semula tak menemukan keanehan dalam hubungan pernikahannya dengan istrinya Lucrecia. Ia memiliki seorang anak dari pernikahan sebelumnya, yang masih kecil dan baru akan menginjak usia remaja. Di tengah kesibukannya, ia tak memiliki waktu yang banyak untuk menikmati waktu luang bersama keluarganya. Hal itu ternyata menjadi bumerang bagi dirinya sendiri.

Dari banyak karya Llosa, ia memiliki kecenderungan imajinasi yang liar dalam menceritakan sosok perempuan. Buku ini mungkin akan jauh dari nilai-nilai moral yang ideal, namun juga ternyata merupakan pembuktian. Bahwasannya dalam sebuah pembacaan, kau akan menemukan hal-hal berbahaya sebagaimana hal itu ada di sekitar kita. Waspadalah.

12-10-2017

Thursday, 7 December 2017

Di Cosa Io Parlo Quando Io Parlo di Letteratura

Se Io non trovato due libri che si chiamano "Burung-burung manyar" e "Keberanian Bernama Munir", non credo che adesso sarò piace leggere libro. Perche poi Io penso che loro cambiami. Significa che per un giovane, 14 anni, che non troppo capire literatura et ce tera vuole provare un altro libro dopo di questo.

Dopo di questo, ho pensato che un libro mi ha dato maniera di pensare diversa. Tolstoy, Bulgakov, Dickens, Orwell e tanti grande nome che arrivano a la mia vita, penso che fanno un cambiamento. Questo come una cosa quando la tua vita era non stato bene e tu hai trovato una responsibilita per vedere con perspetiva diversa. Io solo fatto una esplorazione per la mia vita.

08-12-2017