Wednesday, 26 July 2017

Manusia Es, Murakami

                     Bukan Haruki Murakami jika tak bisa menyayat hati para pembacanya dengan konflik-konflik dalam ceritanya. Ia gemar mengambil hal-hal tak biasa di dalam kehidupan, kadang juga hal  tabu mulai dari kelainan seksual, kucing-kucing yang bisa bicara, hingga keterasingan diri kerap berhasil membuat para pembacanya menghela nafas panjang seperti habis melihat sebuah tragedi yang mengenaskan.
                  Cerita pendeknya kali ini merupakan kisah cinta seorang wanita dengan manusia es, dimana mereka pertama kali berjumpa di sebuah resot ski. Si cewek melihat manusia es duduk sendirian di lobi hotel sambil membaca buku. Berawal dari situ kemudian ia mengagumi si manusia es dan  berusaha mencari tahu sosoknya. Bagi manusia normal menjalin hubungan dengan manusia es masih jauh dari kata normal. Alhasil konflik-konflik pun tak bisa dihindarkan, tatkala dari pihak sang wanita menerima kecaman akibat keputusannya tersebut.
                 Murakami dalam kisahnya kali ini seperti memaparkan kenyataan pahit. Kisah ini juga  terasa amat sendu, namun tetap puitis secara bersamaan. Definisi cinta menurut Murakami nampak sesederhana filosofi manusia es, "Semuanya hanya masa lalu yang terlampir di dalamnya. Dengan cara yang sangat bersih dan jelas, es bisa mengawetkan banyak hal dan membuatnya seolah-seolah masih hidup, meskipun itu masa lalu, Itulah esensi es."
               Tak perlu alur cerita yang kompleks untuk membuat pembacanya terhisap ke dalam kisahnya. Tempo cerita yang berjalan cepat, sesekali ia menghadirkan konflik personal antara sang wanita dan manusia, dimana masa depan terasa seperti sesuatu yang tak perlu ditunggu, karena bisa saja itu akan menjadi bom waktu kelak, alhasil kita seakan tak sadar telah tiba di akhir cerita kemudian.


26-07-2017
Dwinda.A.S

Tuesday, 18 July 2017

Ledakan Sastra Amerika Latin

              Periode tahun 1960 hingga tahun 1970, kiranya menjadi momen penting bagi kesusastraan Amerika Latin. Kala itu muncul sebuah fenomena literaturyang cukup unik, dimana mereka perlahan menginvasi dunia sastra internasional, mulai novel, puisi, esai hingga kritik literatur yang dikenal dengan El Boom Latinoamericano (yang berarti ledakan Amerika Latin). Hal ini bukan saja menjadi fenomena sastra dan kebudayaan, namun sekaligus politik serta ekonomi, dimana ini menjadi sebuah respon dalam kultur Amerika Latin yang kembali menghidupkan warisan sastra spanyol, dengan karakter baroque yang kuat.
         Amerika Latin terlihat seperti pecahan-pecahan eropa yang sedang mencari nama baru. Dimana berbagai karya sastra dengan nuansa Cervantes-esque, bercampur elemen-elemen fantasi, legenda, hingga sejarah yang pada akhirnya melahirkan warna baru dan unik dikenal dengan realisme magis. Dalam perngertiannya, semua unsur-unsur magis diceritakan dengan amat nyata, sehingga semua elemen-elemen "nyata" dan "magis" mengalir pada satu arus cerita. Realisme magis tak ubahnya sebuah refleksi irasional di negara dunia ketiga terhadap rasional ilmiah dari barat, dan kali ini Amerika Selatan terlihat sedang bersenang-senang memetaforakan segala kisah mereka.
          Nama-nama besar seperti Julio Cortazar, Gabriel Garcia Marquez, Ernesto Sabato, Alejandro Carpentier, Carlos Fuentez, hingga Mario Vargaz Llosa merupakan nama-nama besar dibalik terjadinya ledakan sastra Amerika Latin. Segala referensi historis, sosial dan politik dirasa menjadi media yang pas untuk mewakili pandagan-pandangan negara-negara post colonial dalam memceritakan kisah mereka. Sebuah buku bernama One Hundred Years of Solitude, The Time for Heroes, hingga The Tunnel, menjadi representasi baru dalam dunia sastra Amerika Latin kala itu.
         Penulis-penulis Argentina membuat Buenos Aires menjadi setara keindahannya dengan kota-kota di eropa, sebagaimana semua tergambar dalam kisah Julio Cortazar dan Ernesto Sabato. Alejo Carpentier dalam karyanya The Kingdom of This World menggambarkan suasana setelah revolusi Haiti, dimana sepanjang novel, berbagai persepsi tentang realitas yang muncul karena perbedaan budaya antara karakternya ditekankan dan dikontraskan, dan tentunya masih banyak penulis-penulis Amerika Latin yang perlu diperhatikan disamping nama-nama tersebut.
         Entah apa yang ada di benak para penulis Amerika Latin  saat itu, sekiranya mereka telah menciptakan warna baru dalam dunia literatur internasional.  Mereka seperti mengisyaratkan  dan merefleksikan semua hal yang terjadi di negara mereka kemudian membungkusnya dengan segala dengan citarasa asal mereka, dan sekiranya fenomena ledakan Amerika Latin akan selalu dikenang dalam jangka waktu panjang.


Dwinda.A.S
18-07-2017

Wednesday, 12 July 2017

Aksi-Reaksi

           Mengamati hal-hal yang terjadi disekitar merupakan aktivitas yang menyenangkan, dimana terkadang dalam hidup ini suatu kejadian memiliki kecenderungan keterkaitan dengan terjadinya hal baru. Kejadian ini sedikit mengingatkan saya pada hukum Aksi-Reaksi dari Isaac Newton. Fenomena ini membuat saya membayangkan kecenderungan itu terjadi pada dunia sastra, dimana karya-karya para penulis besar di suatu bangsa terasa seperti sebuah aksi-reaksi yang saling menjawab satu sama lain, atau jika mungkin malah membantah satu dengan lainnya.

             Contoh salah satu begini, Pram dalam karya-karyanya terutama tetralogi Bumi Manusia menawarkan sebuah gagasan realisme modern, dimana kita bisa merasakan ada semangat menggugah yang kuat dalam kisahnya.Ia seakan-akan menghimbau sebuah perubahan menuju fase kehiduapn yang ideal.  Sepeninggal Pram, muncul  Eka Kurniawan, dimana dalam kisahnya, sisi lain negeri ini diperlihatkan. Indonesia terlihat lebih garang, penuh amarah serta sumpah serapah layaknya keseharian rakyat jelata. Kaum-kaum tak terbias cahaya seperti mendapatkan kesempatan untuk menunjukan dirinya. Halimunda seolah tak jauh lebih baik daripada Pulau buru dalam perspektif Eka.

            Di negri sakura, Yasunari Kawabata dalam karya-karyanya mengangkat nilai-nilai kebudayaan jepang dengan amat sederhana, melankolis, sensual dan realis. Jepang tampak amat menawan dengan para Geisha yang kerap diangkat dalam kisahnya, lalu butir-butir salju yang jatuh menutupi seluruh kota seolah-olah menghadirkan kesenduan yang elegan. Kemudian beberapa tahun setelahnya, hadir seorang pemuda pemilik club jazz bernama, Haruki Murakami. Ia menawarkan warna yang berbeda, Jepang dilihat dalam bentuk yang lebih modern dimana problematika kisah-kisahnya banyak ditemukan di kehidupan masyarakat urban. Ia tak segan mengangkat kisah cinta kaum lgbt, atau menjadikan kucing menjadi hal magis dalam kisahnya. 

          Kolombia tak mau ketinggalan, dimana mereka memiliki seorang penulis  bertalenta besar bernama Gabriel Garcia Marquez. Tak ada yang meragukan Gabo dalam menciptakan kisah-kisah yang berkualitas. Kecerdasannya dalam memetakan situasi politik Kolombia, kemudian meracik kisah cinta  yang tragis serta tak lupa menyisipkan unsur-unsur militer, terasa seperti sebuah metafora tentang kondisi kolombia saat itu. Sepeninggalnya, kemudian muncul Juan Gabriel Vasquez. Ia jelas mengungkapkan keberatannya dengan realisme magis yang ditawarkan Marquez, kemudian menjawabnya dengan karya-karya yang kental dengan kultur eropa.

          Menikmati karya-karya sastra baik dalam dan luar negeri akhirnya membuat saya menarik kesimpulan jika para penulis-penulis tersebut saling merespon satu sama lain. Mereka terlihat seperti meneruskan jejak-jejak peninggalan pendahulunya, yang kemudian dilanjutkan, direspon, atau mungkin dijawab dengan buah pemikiran mereka sendiri, sehingga hal itu membuat saya tak bisa berhenti untuk mengais karya-karya klasik dan kontemporer.


Dwinda.A.S
12-07-2017



          

Tuesday, 4 July 2017

Invisibles Cities, Italo Calvino

            Suatu hari Marco Polo berjumpa sang penguasa Kublai Khan, kemudian mereka terlibat percakapan tentang kisah petualangan Marco Polo, dimana ia membagi cerita tentang petualangannya melintasi Asia di abad ke tigabelas, lalu kegiatan ekspor impor yang dijumpainya. Semua hal itu ternyata berhasil membuat sang imperator antusias, namun yang paling istimewa diantara semuanya adalah kisahnya tentang kota-kota yang tak terlihat, dimana semua kota tersebut terlihat menyerupai mimpi, dibangun dengan gairah serta keberanian. Belum habis sampai disitu, karena di kota ini termasuk terdapat ancaman dan segala aturan-aturan yang menciptakan sebuah impresi baru.

              Dalam kisahnya kali ini, Calvino membagi isinya menjadi 9 bagian, dimana setiap kotanya diambil dari nama wanita. Percakapan antara sang penjelajah dan imperator agung dinarasikan dalam bentuk dialog pada awal dan akhir bagian cerita. Dimana percakapan diantara keduanya dibangun dengan amat puitis.

            Calvino memetakan kota-kota imajiner tersebut layaknya menggambarkan keindahan wanita. Sebut saja kota-kota dan memori, kota tersembunyi hingga kota-kota dan kematian menciptakan nuansa sentimentil nan magis. Banyak  yang menyebut jika semua penggambaran  tersebut tak ubahnya metafora kota Venezia. Kompleksitas percakapan antara Marcopolo dan Kublai Khan terasa begitu intens. Entah apapun maksud penggambaran Calvino tentang kota-kota yang tak terlihat, setidaknya ia memperlihatkan keindahan terpendam dalam petualangannya kali ini.

D.A.Seto
04-07-2017

Monday, 26 June 2017

Snow Country, Yasunari Kawabata

          Cerita diawali ketika kereta keluar dari terowongan gelap menuju sebuah kota musim panas.  Shimamura yang berprofesi sebagai pakar balet ternama sedang berlibur di tengah krisis yang melanda dirinya. Alhasil ia berlibur sejenak meninggalkan istri dan keluarganya. Tujuannya sederhana yakni mengembalikan gairah hidupnya yang kian menurun.
             Jepang  dalam cerita ini digambarkan dengan amat sederhana oleh Kawabata. Segala pernak-pernik di dalam kisah ini berubah menjadi daya tarik. Butiran-butiran salju di musim dingin yang menutupi seluruh desa terasa bukan saja pelengkap semata. Kali ini wanita penghibur (geisha) menjadi hal yang tak lepas dari sorotan sepanjang cerita, dan Snow Country terasa seperti sebuah panduan menyenangkan untuk mengenal kesusastraan negri sakura.
             Shimamura tak akan pernah menyangka liburannya kali ini akan dipenuhi kejutan. Krisis kepribadian menggiringnya pada sebuah pelarian sesaat yang mempertemukannya dengan wanita-wanita dalam perjalanannya kali ini. Ia seakan menemukan kembali kepuasan dalam dunia kecilnya yang menyedihkan.
            Kejutan demi kejutan perlahan bermunculan. Perjumpaan Shimamura dengan Yoko, seorang gadis yang sedang mendampingi seorang lelaki sekarat, ternyata membuat Shimamura mabuk kepayang, dan belum cukup dengan Yoko kemudian ia beralih kepada seorang geisha murahan. Sialnya geisha ini justru menciptakan cinta segita untuk Shimamura.
           Keistimewaan Kawabata dengan gayanya  dengan amat sederhana dan realistis membuat siapapun sulit untuk mengelak dari daya pesonanya. Jelas karya ini bukan kisah romantis sederhana, namun akan lebih terasa sebagai sebuah kisah cinta tanpa harapan hingga berujung pada sebuah kesimpulan yang menghancurkan.

D.A.Seto

26-06-2017

Tuesday, 20 June 2017

Love in Life Time of Cholera, Gabriel Garcia Marquez

      Gabriel Garcia Marquez selalu memiliki cara untuk mengubah sesuatu di dalam kisahnya menjadi hal-hal berdaya magis yang sulit untuk dilewatkan. Dan itu barangkali yang menjadikannya sebagai penulis besar dalam dunia kesusastraan dan kali ini bukan perkara sulit baginya untuk membuat Kolombia yang sedang dilanda perang dan wabah kolera menjadi sebuah negri yang elegan dalam kisah asmara Florentino Ariza dan Fermina Daza.

              Kisah ini tak ubahnya cerita tentang pencarian cinta sejati dalam sebuah penantian. Sialnya, penantian itu jauh dari kata baik hingga terkesan 'sakit' oleh perasaannya dan terkesan tak jauh lebih mengerikan dari wabah kolera sekalipun. Belum lagi perbedaan status sosial yang berbeda menjadi sebuah halangan dalam perjuangan mereka. Ayah sang gadis, Lorenzo Daza tak pernah rela anaknya didekati seorang pria dengan status sosial yang jauh dibawahnya. Florentino pun tetap kukuh mengejar pujaan hatinya.


               Wabah kolera tak mengurangi sedikit pun keanggunan Kolombia, dan gejolak perang saudara yang sedang berlangsung tak menyurutkan kegigihan Florentino Ariza. Yang menarik disini adalah eksperimen Marquez yang cukup unik serta menarik perhatian, ketika ia tak segan menghadirkan melankolisme dan estetika lekuk tubuh wanita, selain itu  burung merpati dan kakak tua juga amat menarik disini. Semua elemen-elemen cerita seakan melebur kemudian diarahkan dalam sebuah perspektif yang tak biasa sebagaimana yang dituangkan Marquez dalam cerita ini. Kita juga akan menemukan jejak Yasunari Kawabata yang kerap mengeksploitasi keanggunan wanita dan melankolisme.

           Yang lebih menarik, wabah kolera seakan menjadi sebuah makna tersirat. Bahwasannya jika akal logika seseorang sudah sakit karena urusan asmara, hal itu tak kalah mematikan seperti kolera. Istimewanya semua detail-detail yang muncul dalam cerita perlahan-lahan menjerat kemudian tak sadar membawa pada satu perhentian bahwasannya cinta sejati mungkin perlu diraih atau malah tak perlu dinanti.


               Dari setiap buku-buku Marquez, yang menarik adalah semua metafora-metafora terlihat tak biasa dengan alur cerita berlapis serta keistimewaannya dalam menciptakan nama-nama indah dalam setiap karakternya mulai dari Florentino Ariza, Escolastica, Juvenal Urbino, Jeremiah de Saint Amour. Sekiranya detail-detail kecil itu yang membuat karya-karya Marquez terasa amat adiktif, dan berhati-hatilah karena perangkap-perangkap sudah tersusun rapi di sepanjang cerita.

Dwinda.A.S
20-06-2017